Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang keadaan Islam di awal kemunculannya yang dianggap asing oleh masyarakat, dan akan kembali menjadi asing di akhir zaman. Orang-orang yang tetap berpegang teguh pada ajaran Islam di tengah kerusakan zaman adalah mereka yang disebut "ghuraba'" (orang-orang asing), dan mereka mendapat kabar gembira (thuba) dari Rasulullah ﷺ. Dalam riwayat Ibnu Majah ini, beliau menafsirkan ghuraba' sebagai orang-orang yang terasing dari kaumnya karena memegang agama mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 145) dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang lebih lengkap:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ"
"Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia dimulai. Maka berbahagialah orang-orang yang asing."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Ali 'Imran [3]: 139
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman."
Ayat ini menguatkan bahwa seorang mukmin yang berpegang teguh pada agamanya tidak perlu bersedih atau merasa rendah meskipun jumlah mereka sedikit dan dipandang asing oleh kebanyakan orang.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan makna "ghuraba'" (orang-orang asing) dengan beberapa penafsiran yang saling melengkapi:
1. Penafsiran dalam hadits itu sendiri
Dalam riwayat Ibnu Majah di atas, ketika Nabi ﷺ ditanya siapa ghuraba' itu, beliau menjawab: "An-nuzza' min al-qabail" — orang-orang yang terasing dari kabilah-kabilah (kaumnya). Imam Al-Khathabi (dalam kitab Ma'alim as-Sunan) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang berhijrah meninggalkan kampung halaman dan kerabatnya demi menjaga agamanya, atau orang-orang yang shalih di tengah kaum yang rusak sehingga mereka terasing di tengah-tengah mereka.
2. Penafsiran Imam Ahmad dan para ulama setelahnya
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang tafsir ghuraba', beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang shalih yang sedikit di tengah kebanyakan manusia yang rusak." (Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari'ah)
3. Penjelasan Ibnu Rajab al-Hanbali
Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (syarah hadits ini) menjelaskan secara panjang lebar bahwa ghuraba' ada dua macam:
- Pertama: Orang yang berhijrah meninggalkan negeri kafir atau negeri yang penuh fitnah untuk menyelamatkan agamanya, sebagaimana para sahabat berhijrah ke Habasyah dan Madinah.
- Kedua: Orang yang tetap istiqamah di tengah masyarakat yang rusak, mereka asing karena berpegang pada sunnah ketika kebanyakan orang meninggalkannya, mereka asing karena amar ma'ruf nahi munkar, dan mereka asing karena memegang kebenaran yang ditinggalkan orang banyak.
Ibnu Rajab juga menukil perkataan Imam Al-Auza'i: "Bukanlah yang dimaksud ghuraba' itu orang-orang yang keluar dari kaumnya karena masalah dunia, tetapi mereka adalah orang-orang shalih yang Allah pelihara dari keburukan yang sedang melanda manusia, dan mereka sedikit."
4. Penjelasan Syaikh Abdurrahman as-Sa'di
Syaikh as-Sa'di dalam Bahjatu Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar gembira bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan agama mereka di saat manusia berpaling darinya. Mereka akan mendapatkan thuba (kebahagiaan dan kebaikan yang besar), karena mereka seperti orang asing yang tidak dikenal di tengah manusia, namun mereka dikenal di sisi Allah.
5. Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Beliau menjelaskan dalam Syarah Riyadhush Shalihin bahwa keasingan Islam di akhir zaman bukan berarti Islam hilang sama sekali, tetapi pemeluknya yang benar-benar mengamalkan secara murni menjadi sedikit. Orang-orang yang istiqamah ini akan merasa asing karena:
- Mereka berbeda dengan kebanyakan orang dalam cara berpikir dan bertindak
- Mereka mungkin dicela, diejek, atau dijauhi
- Namun mereka tetap sabar karena yakin berada di atas kebenaran
Catatan penting: Perbedaan lafaz dalam riwayat Ibnu Majah (النُّزَّاعُ مِنَ الْقَبَائِلِ) dan riwayat Muslim yang menyebutkan sifat-sifat lain (yang memperbaiki apa yang dirusak manusia dari sunnahku) menunjukkan bahwa penafsiran ghuraba' itu luas, mencakup semua orang yang berpegang teguh pada kebenaran di tengah kebanyakan manusia yang menyimpang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (yang termasuk ulama salaf yang diakui keutamaannya oleh para ulama dalam daftar rujukan), beliau pernah menulis surat kepada para gubernurnya agar mereka mengajak manusia kembali kepada sunnah. Namun beliau sendiri merasakan betapa beratnya perjuangan itu karena kebanyakan manusia sudah terbiasa dengan kebiasaan yang menyelisihi sunnah.
Dalam sebuah riwayat, Umar bin Abdul Aziz berkata: "Aku tidak menghendaki untuk menyelisihi manusia, tetapi aku hanya ingin mengembalikan perkara kepada apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang menerima maka ia termasuk orang yang beruntung, dan barangsiapa yang menolak maka aku biarkan ia dengan pilihannya." (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah)
Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang ingin menegakkan kebenaran pun merasa asing di tengah rakyatnya. Namun beliau tetap istiqamah, dan Allah menjadikan masa pemerintahannya sebagai salah satu masa terbaik setelah khilafah Rasyidah.
Kesimpulan Praktis
- Jangan sedih jika merasa asing karena berpegang teguh pada agama — itulah tanda kebenaran, sebagaimana kabar Nabi ﷺ.
- Perbaiki diri sendiri dengan mempelajari sunnah dan mengamalkannya, meskipun sedikit yang melakukannya.
- Bersabar menghadapi celaan orang lain karena keistiqamahan kita, dan jangan sampai celaan itu membuat kita meninggalkan kebenaran.
- Perbanyak bergaul dengan orang-orang shalih agar tidak merasa sendirian dalam kebaikan.
- Dakwahkan kebaikan dengan hikmah, karena ghuraba' bukan berarti menjauhi masyarakat, tetapi tetap berinteraksi sambil memegang prinsip.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.