Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3986 tentang Kebanggaan bagi orang asing yang berpegang pada Islam

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan bahwa Islam pertama kali muncul di tengah masyarakat jahiliyah sebagai sesuatu yang asing, dan di akhir zaman nanti Islam akan kembali asing di tengah manusia. Orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada Islam di saat banyak orang meninggalkannya, merekalah yang disebut "ghuraba'" (orang-orang asing) yang mendapat kabar gembira berupa surga. Hadits ini mengajarkan kita untuk sabar, istiqamah, dan tidak sedih ketika diejek atau dianggap aneh karena berpegang kepada kebenaran.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim:

Hadits yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayan Iman al-Islam, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

<p>بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ</p>

"Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia dimulai. Maka berbahagialah (Tuba) bagi orang-orang yang asing." (HR. Muslim no. 145)

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Ali 'Imran [3]: 139:

<p>وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>

"Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman."

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah membahas hadits ini secara panjang lebar dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam ketika menjelaskan hadits-hadits Jami' al-Bukhari. Beliau menjelaskan makna "ghuraba'" dan sifat-sifat mereka dengan sangat rinci.

Penjelasan Rinci

Makna "Ghuraba'" (Orang-Orang Asing):

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud "ghuraba'" dalam hadits ini. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (2/270-271) mengumpulkan beberapa pendapat:

  1. Pendapat pertama: Mereka adalah orang-orang yang beriman di awal Islam ketika jumlah kaum muslimin masih sedikit dan lemah. Mereka berpegang teguh kepada agama Allah meskipun ditentang oleh kaumnya.
  2. Pendapat kedua: Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada sunnah Nabi ﷺ di akhir zaman, ketika banyak orang menyimpang dan meninggalkan sunnah. Mereka asing di tengah masyarakat karena berpegang kepada kebenaran.
  3. Pendapat ketiga: Mereka adalah orang-orang yang berhijrah dari negeri mereka demi menjaga agama mereka, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain: "Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing, yaitu mereka yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia setelahku." (HR. At-Tirmidzi, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih At-Tirmidzi no. 2630)

Penjelasan Imam Ibnu Rajab:

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa Islam pada awalnya hanya dianut oleh orang-orang asing yang sedikit, yang tidak memiliki pendukung dan penolong. Mereka adalah orang-orang yang terasing dari keluarga, kerabat, dan masyarakat mereka karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Islam tersebar dan menjadi kuat, sehingga penganutnya banyak. Namun di akhir zaman, Islam akan kembali menjadi asing, dan orang-orang yang berpegang teguh kepadanya akan menjadi asing di tengah masyarakat. Mereka akan diejek, dihina, dan dianggap aneh karena berpegang kepada ajaran Islam yang murni.

Penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di:

Syaikh As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa "Tuba" (berbahagialah) adalah kata yang menunjukkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan yang sempurna. Ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang asing karena berpegang kepada kebenaran, bahwa mereka akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Mereka bersabar menghadapi ejekan dan hinaan manusia, dan Allah akan memberikan kepada mereka kemuliaan di akhirat.

Sifat-Sifat Ghuraba':

Dari penjelasan para ulama, sifat-sifat orang-orang asing yang terpuji ini adalah:

  1. Mereka berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah di saat banyak orang meninggalkannya.
  2. Mereka memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia, yaitu menghidupkan sunnah-sunnah yang telah ditinggalkan.
  3. Mereka bersabar menghadapi celaan dan ejekan manusia.
  4. Mereka tidak terbawa arus kerusakan masyarakat.
  5. Mereka istiqamah di atas kebenaran meskipun sendirian.

Perbedaan Pendapat Ulama:

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah "ghuraba'" itu orang-orang yang shalih di akhir zaman saja, atau mencakup juga orang-orang yang beriman di awal Islam. Namun pendapat yang lebih kuat dan mencakup adalah bahwa hadits ini mencakup kedua kelompok tersebut. Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa hadits ini mencakup orang-orang yang berpegang kepada kebenaran di setiap masa, baik di awal Islam maupun di akhir zaman.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa para sahabat Nabi ﷺ di awal Islam mengalami keterasingan yang sangat berat. Khabbab bin Al-Arat radhiyallahu 'anhu mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang siksaan yang mereka terima dari kaum Quraisy. Beliau bersabda:

"Demi Allah, sungguh Allah akan menyempurnakan urusan (agama) ini, sehingga seorang pengendara akan berjalan sendirian dari Shan'a hingga Hadhramaut, tidak ada yang ditakutinya kecuali Allah dan serigala terhadap kambingnya. Akan tetapi kalian tergesa-gesa." (HR. Al-Bukhari no. 6943)

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat di awal Islam benar-benar asing dan tersiksa karena keimanan mereka. Namun Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira bahwa agama ini akan tersebar luas. Dan di akhir zaman, orang-orang yang berpegang teguh kepada agama ini akan kembali menjadi asing, dan mereka mendapat kabar gembira yang sama.

Imam Fudail bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang menghidupkan sunnah-sunnah dan mematikan bid'ah-bid'ah. Mereka menasihati manusia dengan perkataan mereka dan dengan perbuatan mereka. Maka berpegang teguhlah dengan sunnah, karena sunnah itu akan menyelamatkanmu." (Disebutkan oleh Imam Al-Ajurri dalam Asy-Syari'ah)

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan sedih jika dianggap aneh karena berpegang kepada ajaran Islam yang murni. Ini justru tanda kebaikan, karena Nabi ﷺ memuji orang-orang yang asing karena kebenaran.
  2. Berpegang teguhlah kepada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah, meskipun banyak orang meninggalkannya.
  3. Perbaikilah apa yang telah dirusak manusia, yaitu dengan menghidupkan sunnah-sunnah yang telah ditinggalkan, baik dalam ibadah, akhlak, maupun muamalah.
  4. Bersabarlah menghadapi ejekan dan hinaan karena berpegang kepada kebenaran. Allah bersama orang-orang yang sabar.
  5. Jangan terprovokasi untuk marah atau membalas ejekan dengan cara yang tidak baik. Tetaplah berakhlak mulia sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.