Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan mencakup. Intinya, Nabi ﷺ mengajarkan kepada Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu tentang amalan-amalan besar yang mengantarkan ke surga, kemudian beliau mengarahkan perhatian kepada satu perkara yang menjadi kunci dan poros dari semuanya, yaitu menjaga lisan. Hadits ini mengajarkan bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada apa yang ia ucapkan, karena lidah bisa menjadi penyebab utama seseorang terjerumus ke dalam neraka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitan, Bab Kaffu Al-Lisan fi Al-Fitnah (no. 3973). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, dan para ulama menshahihkannya, di antaranya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah.
Dalil-dalil lain yang memperkuat hadits ini:
- Firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an:
- Nama Surah & Ayat: QS. Qaf [50]: 18
- Teks Arab:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
- Terjemahan: "Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."
- Firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an:
- Nama Surah & Ayat: QS. Al-Isra' [17]: 36
- Teks Arab:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
- Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya."
- Hadits Nabi ﷺ:
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadits ini adalah prinsip dasar dalam menjaga lisan.
Kaitan dengan Ulama:
Imam An-Nawawi dalam kitabnya Riyadhush Shalihin (Bab Menjaga Lisan) mencantumkan hadits Mu'adz ini dan menjelaskan bahwa menjaga lisan adalah kunci keselamatan. Beliau juga menukil ijma' (kesepakatan) ulama tentang wajibnya menjaga lisan dari perkataan yang haram. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa setiap perkataan manusia dicatat dan akan dihisab, sehingga seorang mukmin harus berhati-hati.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah wasiat yang sangat lengkap dari Nabi ﷺ kepada Mu'adz bin Jabal. Mari kita rinci setiap bagiannya:
- Pertanyaan Mu'adz: Mu'adz bertanya tentang amalan yang bisa memasukkan ke surga dan menjauhkan dari neraka. Ini adalah pertanyaan yang paling penting dan inti dari tujuan hidup seorang muslim.
- Jawaban Pertama (Rukun Islam): Nabi ﷺ menjawab dengan menyebutkan pokok-pokok amalan, yaitu:
- Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya (Tauhid). Ini adalah pondasi segalanya.
- Mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Ini adalah rukun Islam yang menjadi tiang agama.
- Pintu-Pintu Kebaikan: Kemudian Nabi ﷺ menunjukkan amalan-amalan yang menjadi "pintu" menuju kebaikan tersebut:
- Puasa adalah perisai dari api neraka dan dari perbuatan dosa.
- Sedekah memadamkan kesalahan (dosa) sebagaimana air memadamkan api.
- Shalat malam (tahajud) adalah amalan yang sangat utama, dan Nabi ﷺ membacakan firman Allah dalam QS. As-Sajdah [32]: 16-17 tentang orang-orang yang shalat malam dan balasan yang indah bagi mereka.
- Puncak Segalanya (Jihad): Nabi ﷺ menyebutkan bahwa jihad adalah puncak dari segala amalan. Jihad di sini maknanya luas, mencakup jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, dan jihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat-Nya.
- Kunci Segalanya (Menjaga Lisan): Inilah inti yang sangat ditekankan. Setelah menyebutkan amalan-amalan besar, Nabi ﷺ memegang lidahnya dan bersabda, "Tahan ini." Ini menunjukkan bahwa semua amalan besar tersebut bisa rusak atau hilang pahalanya karena lisan yang tidak dijaga. Lisan adalah kunci yang mengendalikan semuanya.
- Pertanyaan Kritis Mu'adz: Mu'adz bertanya, "Apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita katakan?" Ini menunjukkan bahwa Mu'adz sangat cerdas dan ingin memahami lebih dalam. Jawaban Nabi ﷺ sangat tegas dan mengejutkan: "Semoga ibumu kehilanganmu, wahai Mu'adz! Apakah manusia dijatuhkan ke wajah mereka di neraka karena sesuatu selain hasil dari lidah mereka?"
Pemahaman Ulama:
- Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas bahwa menjaga lisan adalah kewajiban. Lidah adalah penerjemah hati, dan jika hati rusak, maka rusaklah ucapan. Sebaliknya, jika hati baik, maka baik pula ucapannya.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa "hasil dari lidah" (hasaidul lisan) adalah buah dari ucapan manusia. Jika ucapannya baik, maka buahnya baik. Jika ucapannya buruk, seperti dusta, ghibah, namimah (mengadu domba), dan perkataan kotor, maka buahnya adalah kehancuran dan api neraka.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam syarahnya atas hadits-hadits pilihan menjelaskan bahwa menjaga lisan bukan berarti diam total, tetapi berbicara hanya untuk kebaikan dan meninggalkan keburukan. Beliau menekankan bahwa banyak orang yang shalat, puasa, dan beramal, tetapi pahalanya hilang karena lisannya yang suka menyakiti orang lain.
Story Telling
Ada kisah yang sangat masyhur tentang seorang sahabat yang bernama 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu. Suatu hari ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, apa kunci keselamatan?" Beliau menjawab, "Tahanlah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu sibuk (tetap di rumahmu), dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu." (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian dengan masalah lisan. Mereka tahu bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling sulit dijaga, tetapi juga paling besar pengaruhnya. Seorang salaf, Muhammad bin Sirin (ulama tabi'in yang terkenal wara'), pernah berkata, "Sesungguhnya lisanku adalah seperti binatang buas. Setiap kali aku ingin melepaskannya, aku takut ia akan menerkamku." Ini menggambarkan betapa hati-hatinya para ulama dalam menjaga setiap ucapan mereka.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits yang agung ini, ada beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Jadikan Tauhid dan Rukun Islam sebagai prioritas utama dalam hidup kita. Ini adalah modal dasar menuju surga.
- Perbanyak amalan-amalan "pintu kebaikan" seperti puasa sunnah, sedekah, dan shalat malam. Amalan-amalan ini akan menguatkan keimanan kita.
- Sadari bahwa semua amalan kita bisa rusak karena lisan. Oleh karena itu, jagalah lisan dari perkataan yang sia-sia, dusta, ghibah, namimah, dan semua perkataan yang dibenci Allah.
- Jadikan "diam" sebagai pilihan utama jika kita tidak memiliki perkataan yang baik. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkata baiklah atau diam."
- Berhati-hatilah dalam bermuamalah di dunia maya. Komentar, status, dan pesan yang kita tulis juga termasuk "hasil lidah" yang akan dihisab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.