Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab ketika seseorang mengalami mimpi buruk atau mimpi yang tidak disukai. Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk tidak menceritakan mimpi buruk tersebut kepada orang lain, meludah ke kiri tiga kali, memohon kebaikan kepada Allah, dan berlindung dari keburukannya. Ini adalah bentuk tuntunan Nabi agar mimpi buruk tidak memberikan dampak buruk bagi jiwa dan tidak menjadi kenyataan yang mencelakakan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda sertakan):
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ الْعُمَرِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَتَحَوَّلْ وَلْيَتْفِلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْأَلِ اللَّهَ مِنْ خَيْرِهَا وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا "
Terjemahan: Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika salah seorang di antara kalian melihat mimpi yang tidak disukainya, hendaklah ia beralih dan meludahkan ke sebelah kirinya tiga kali, dan memohon kepada Allah untuk kebaikannya serta berlindung kepada Allah dari keburukannya." (HR. Ibnu Majah, no. 3910)
Hadits serupa juga diriwayatkan dalam kitab-kitab lain:
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Qatadah, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ مِنَ اللَّهِ، وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَنْفِثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا، وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا، فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ"
Terjemahan: "Mimpi yang baik berasal dari Allah, dan mimpi buruk berasal dari setan. Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak disukainya, maka hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya tiga kali, dan berlindung kepada Allah dari keburukannya, maka mimpi itu tidak akan membahayakannya." (HR. Al-Bukhari, no. 7047)
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Falaq [113]: 1-2
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Terjemahan: "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya."
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perintah meludah ke kiri dalam hadits ini adalah isyarat kepada setan yang berada di sisi kiri manusia, dan ini adalah bentuk pengusiran terhadapnya. Beliau juga menegaskan bahwa mimpi buruk tidak akan membahayakan orang yang mengamalkan tuntunan Nabi ini.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Mimpi buruk berasal dari setan
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa mimpi terbagi menjadi tiga: (1) mimpi baik dari Allah sebagai kabar gembira, (2) mimpi buruk dari setan untuk menakut-nakuti, dan (3) mimpi dari bisikan jiwa/khayalan. Mimpi buruk yang dimaksud dalam hadits ini adalah yang berasal dari setan.
2. Hikmah meludah ke kiri tiga kali
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa meludah ke kiri adalah bentuk pengusiran terhadap setan, karena setan berada di sisi kiri manusia. Ini bukan meludah dengan mengeluarkan air liur yang banyak, tetapi cukup nafats (tiupan halus dengan sedikit ludah) ke arah kiri. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap setan dan pengusirannya.
3. Beralih posisi
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa perintah "beralih" dalam hadits ini maknanya adalah berpindah dari posisi tidurnya, misalnya jika tidur miring ke kanan maka pindah ke kiri, atau bangun dan berwudhu. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap gangguan setan.
4. Berlindung kepada Allah dan memohon kebaikan
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa setelah meludah ke kiri, seseorang harus berdoa memohon kebaikan mimpi tersebut dan berlindung dari keburukannya. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin selalu berpasrah kepada Allah dalam segala keadaan.
5. Tidak menceritakan mimpi buruk
Dalam riwayat lain yang shahih, Nabi ﷺ juga memerintahkan agar mimpi buruk tidak diceritakan kepada orang lain. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah ia menceritakannya kepada orang lain." Ini untuk menghindari rasa cemas dan was-was yang menyebar.
6. Mimpi buruk tidak membahayakan jika diamalkan tuntunan ini
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa jaminan "tidak akan membahayakannya" dalam hadits adalah bagi orang yang mengamalkan tuntunan Nabi ﷺ ini dengan penuh keyakinan dan keikhlasan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu melihat mimpi yang tidak disukainya. Maka beliau pun bangun, meludah ke kiri tiga kali, dan berdoa sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau berkata: "Aku tidak akan menceritakan mimpi ini kepada siapa pun, karena Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kami untuk tidak menceritakan mimpi buruk."
Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat berpegang teguh pada tuntunan Nabi ﷺ dalam perkara sekecil apa pun, termasuk adab menghadapi mimpi buruk. Mereka tidak menganggap remeh ajaran ini, karena mereka memahami bahwa setiap ajaran Nabi ﷺ memiliki hikmah dan manfaat yang besar.
Kesimpulan Praktis
Beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Saat terbangun dari mimpi buruk, segera lakukan:
- Meludah/tiupan halus ke arah kiri tiga kali
- Membaca ta'awudz (berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)
- Berdoa memohon kebaikan dan berlindung dari keburukan mimpi
- Beralih posisi tidur atau bangun dan berwudhu
- Jangan menceritakan mimpi buruk kepada orang lain, karena ini bisa menimbulkan kecemasan dan tidak bermanfaat.
- Yakinlah bahwa mimpi buruk tidak akan membahayakan jika kita mengamalkan tuntunan Nabi ﷺ ini dengan penuh keimanan.
- Perbanyak dzikir dan doa sebelum tidur, seperti membaca Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, agar dilindungi dari gangguan setan saat tidur.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.