Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3907 tentang Tiga jenis mimpi: dari setan, pikiran, dan kenabian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa mimpi itu terbagi menjadi tiga jenis: (1) mimpi buruk yang berasal dari setan untuk menyedihkan manusia, (2) mimpi yang berasal dari pikiran dan kesibukan seseorang saat terjaga, dan (3) mimpi baik yang merupakan bagian dari kenabian. Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu risau dengan mimpi buruk, karena itu hanya gangguan setan, dan bersyukur atas mimpi baik sebagai kabar gembira dari Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Tafsir Mimpi, Bab Mimpi Tiga Jenis, nomor 3907, dari sahabat 'Awf bin Malik radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan lafaz yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang mimpi dan kenabian:

QS. Ash-Shaffat [37]: 102 (tentang mimpi Nabi Ibrahim 'alaihissalam):

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'"

QS. Yusuf [12]: 4 (tentang mimpi Nabi Yusuf):

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

"(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku! Sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafaz: "Mimpi itu ada tiga: mimpi baik dari Allah, mimpi buruk yang menyedihkan dari setan, dan mimpi dari pembicaraan diri sendiri." (HR. Bukhari no. 7018, Muslim no. 2263)

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan pembagian mimpi ini secara rinci:

1. Mimpi dari Allah (bagian dari kenabian)

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi baik yang dialami seorang mukmin adalah kabar gembira dari Allah, dan ini merupakan bagian dari kenabian. Maknanya: mimpi baik adalah salah satu sisa dari perkara kenabian yang masih tersisa setelah Nabi ﷺ wafat, karena wahyu telah terputus namun mimpi baik tetap ada sebagai kabar gembira bagi orang beriman.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa angka "46 bagian" ini adalah jumlah yang disebutkan dalam hadits, dan kita tidak perlu memperdebatkan hikmah angka tersebut secara mendalam, karena itu adalah informasi dari Nabi ﷺ yang harus kita terima. Yang penting adalah bahwa mimpi baik itu memiliki kedudukan mulia dalam Islam.

2. Mimpi dari setan

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa mimpi buruk berasal dari setan untuk menyedihkan dan menakut-nakuti manusia. Setan berusaha mengganggu manusia bahkan dalam tidurnya. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan agar ketika seseorang melihat mimpi buruk, ia hendaknya:

  • Meludah ke kiri tiga kali
  • Berlindung kepada Allah dari kejahatan setan
  • Tidak menceritakan mimpi buruk tersebut kepada orang lain
  • Berpindah posisi tidur atau bangun dan berwudhu

3. Mimpi dari kesibukan pikiran saat terjaga

Syeikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa mimpi jenis ini adalah bisikan hati dan pikiran yang dominan saat seseorang terjaga, kemudian terbawa ke dalam tidurnya. Misalnya, seseorang yang sibuk memikirkan pekerjaan, ujian, atau masalah tertentu, maka ia akan melihat hal-hal tersebut dalam mimpinya. Mimpi jenis ini tidak memiliki makna khusus dan tidak perlu ditafsirkan.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya tentang mimpi menjelaskan bahwa mimpi jenis ini adalah percampuran dari aktivitas pikiran manusia, dan tidak memiliki nilai syar'i untuk ditafsirkan.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Jangan mudah percaya pada tafsir mimpi sembarangan — Hanya mimpi baik yang layak ditafsirkan, dan hanya oleh orang yang berilmu.
  2. Mimpi buruk bukan pertanda buruk — Ia hanya gangguan setan, jangan sampai membuat kita sedih atau cemas.
  3. Mimpi baik adalah kabar gembira — Hendaknya kita memuji Allah dan menceritakannya kepada orang yang kita cintai.

Story Telling

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Mimpi baik dari Allah, dan mimpi buruk dari setan. Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang disukainya, maka janganlah menceritakannya kecuali kepada orang yang dicintainya. Dan jika melihat mimpi yang tidak disukainya, maka berlindunglah kepada Allah dari kejahatannya dan dari kejahatan setan, lalu meludahlah ke kiri tiga kali, dan janganlah menceritakannya kepada seorang pun." (HR. Bukhari no. 7044)

Kisah yang indah tentang mimpi baik adalah ketika Nabi Yusuf 'alaihissalam bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Mimpi ini adalah kabar gembira dari Allah tentang kedudukan mulia yang akan Allah berikan kepadanya. Ayahnya, Nabi Ya'qub, menasihatinya agar tidak menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya karena khawatir mereka akan iri dan berbuat jahat. Ini menunjukkan bahwa mimpi baik adalah karunia yang patut disyukuri, namun juga perlu dijaga dengan bijak.

Kesimpulan Praktis

  1. Kenali tiga jenis mimpi — mimpi dari Allah (baik), dari setan (buruk), dan dari pikiran sendiri.
  2. Sikapi mimpi buruk dengan benar — berlindung kepada Allah, meludah ke kiri, dan tidak menceritakannya.
  3. Sikapi mimpi baik dengan syukur — memuji Allah dan boleh menceritakannya kepada orang yang dipercaya.
  4. Jangan menafsirkan mimpi sembarangan — tafsir mimpi adalah ilmu yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang berilmu dan bertakwa.
  5. Jadikan mimpi baik sebagai motivasi beramal — bukan sebagai sumber kesombongan atau keyakinan berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?