Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita doa yang diajarkan Nabi ﷺ ketika menghadapi kesulitan atau kesusahan. Doanya berisi pengakuan keesaan Allah, penyucian Allah dari segala kekurangan, dan pengagungan terhadap kebesaran-Nya sebagai Rabb (Pemelihara) 'Arsy yang agung. Ini adalah doa yang sangat agung dan ringkas, namun mengandung makna tauhid yang dalam, yang menjadi sebab pertolongan Allah bagi hamba-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Doa, Bab Doa di Waktu Kesulitan, nomor 3883. Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ هِشَامٍ، صَاحِبِ الدَّسْتَوَائِيِّ عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ـ ﷺ ـ كَانَ يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ " لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبِّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ " . قَالَ وَكِيعٌ مَرَّةً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فِيهَا كُلِّهَا .
Terjemahan: "Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Waki', dari Hisyam sahabat Ad-Dastawa'i, dari Qatadah, dari Abul 'Aliyah, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ biasa mengucapkan di saat kesulitan: 'Tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Rabb 'Arsy yang agung. Maha Suci Allah, Rabb langit yang tujuh dan Rabb 'Arsy yang mulia.'" Waki' berkata: "Dengan memasukkan lafaz 'لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ' (Tidak ada ilah selain Allah) di setiap kalimatnya."
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in dan ulama tafsir terkemuka) dari Abul 'Aliyah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Sanad ini menunjukkan bahwa doa ini telah diajarkan dan diamalkan sejak masa sahabat, dan diriwayatkan oleh ulama-ulama besar seperti Imam Ibnu Majah dan juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 6346) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2730) dengan lafaz yang serupa.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa doa ini adalah doa yang sangat agung yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca ketika menghadapi kesulitan dan kesusahan. Mari kita pahami makna setiap kalimatnya:
- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia)
- Kalimat ini adalah kalimat tauhid yang menjadi inti agama Islam. Dengan menyebut sifat Al-Halim (Maha Penyantun), seorang hamba diajarkan untuk berharap kepada kelembutan dan kesabaran Allah dalam menanggung dosa dan kesalahan hamba-Nya. Dengan menyebut sifat Al-Karim (Maha Mulia), hamba diajarkan untuk berharap kepada kemurahan Allah dalam memberikan pertolongan dan kebaikan, karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berdoa dalam keadaan sulit.
- سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (Maha Suci Allah, Rabb 'Arsy yang agung)
- Ini adalah pensucian Allah dari segala kekurangan dan pengagungan terhadap kebesaran-Nya. 'Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar dan paling tinggi. Dengan menyebut "Rabb Al-'Arsy", kita mengakui bahwa Allah adalah Pemelihara dan Penguasa atas seluruh makhluk-Nya, termasuk makhluk yang paling agung sekalipun. Ini menumbuhkan rasa tunduk dan yakin bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk menyelesaikan kesulitan kita.
- سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبِّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (Maha Suci Allah, Rabb langit yang tujuh dan Rabb 'Arsy yang mulia)
- Kalimat ini menguatkan pengagungan sebelumnya dengan menyebutkan kekuasaan Allah atas seluruh alam semesta, yaitu langit yang tujuh dan 'Arsy yang mulia. Ini menunjukkan bahwa Allah adalah Penguasa mutlak atas segala sesuatu. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa penyebutan sifat-sifat ini dalam doa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang agung, yang merupakan sebab terbesar terkabulnya doa.
Pelajaran dari Ulama:
- Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa doa dengan menyebut nama-nama Allah yang agung dan sifat-sifat-Nya yang sempurna adalah salah satu sebab terkuat untuk dikabulkannya doa. Karena dengan itu, seorang hamba menunjukkan pengagungan, penghambaan, dan keyakinannya kepada Allah.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya berdoa dengan kalimat-kalimat tauhid dan pensucian Allah ketika menghadapi kesulitan. Ini adalah bentuk tawakal dan pengakuan bahwa hanya Allah yang mampu mengubah keadaan.
Perbedaan Riwayat:
Dalam riwayat Imam Ibnu Majah, disebutkan bahwa perawi Waki' bin Al-Jarrah (seorang ulama Tabi'ut Tabi'in yang terkenal) berkata: "Dengan memasukkan lafaz 'لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ' di setiap kalimatnya." Ini menunjukkan bahwa doa ini bisa dibaca dengan dua cara:
- Sebagaimana teks aslinya, yaitu "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ" hanya di awal.
- Dengan mengulang "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ" di setiap kalimat, menjadi: "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبِّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ".
Kedua cara ini dibolehkan, dan yang terpenting adalah membaca doa ini dengan penuh keyakinan dan kehadiran hati.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat muda yang sangat cerdas dan banyak meriwayatkan doa-doa dari Nabi ﷺ. Suatu ketika, para sahabat menghadapi kesulitan yang sangat berat. Mereka merasa sempit dan tertekan. Maka Nabi ﷺ mengajarkan mereka doa ini. Para sahabat pun mengamalkannya, dan dengan izin Allah, kesulitan itu hilang dan diganti dengan kelapangan.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa doa yang diajarkan Nabi ﷺ bukanlah doa yang sia-sia. Ia adalah warisan berharga yang penuh dengan keberkahan. Ketika kita mengamalkannya dengan yakin, kita sedang meneladani Nabi ﷺ dan para sahabatnya, dan kita sedang menggantungkan harapan hanya kepada Allah, Pemelihara alam semesta.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Hafalkan doa ini dan bacalah ketika menghadapi kesulitan, kesusahan, atau kegelisahan hati.
- Pahami maknanya agar hati kita hadir dan meresapi kebesaran Allah saat membacanya.
- Yakinlah bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, karena Dia adalah Rabb 'Arsy yang agung dan Pemelihara seluruh alam.
- Amalkan dengan rutin, baik dalam kesulitan maupun dalam keadaan lapang, sebagai bentuk dzikir dan pengagungan kepada Allah.
- Ajarkan doa ini kepada keluarga dan orang-orang terdekat kita, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada para sahabatnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.