Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3882 tentang Doa saat kesulitan dengan mengesakan Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dzikir yang sangat agung untuk dibaca ketika menghadapi kesulitan, yaitu: "Allah, Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." Kalimat ini mengandung makna tauhid yang murni, yaitu mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan dan Rabb yang mengatur segala urusan, serta berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan. Membaca dzikir ini dengan penuh keyakinan akan mendatangkan pertolongan dan ketenangan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Sunan Ibnu Majah, Kitab Doa, Bab Doa di Saat Kesulitan, no. 3882. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, no. 1525, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no. 26928.

Teks Hadits:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، ح وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، جَمِيعًا عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، حَدَّثَنِي هِلاَلٌ، مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ أُمِّهِ، أَسْمَاءَ ابْنَةِ عُمَيْسٍ قَالَتْ عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ عِنْدَ الْكَرْبِ ‏"‏ اللَّهُ اللَّهُ رَبِّي لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ‏"‏ ‏.‏

Terjemahan:

Asma' binti 'Umais radhiyallahu 'anha berkata: "Rasulullah ﷺ mengajarkan saya beberapa kalimat untuk diucapkan pada saat kesulitan: 'Allah! Allahu Rabbi la ushriku bihi shay'an' (Allah, Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun)."

Penjelasan Ulama:

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 2756) menyatakan bahwa hadits ini hasan. Beliau menjelaskan bahwa dzikir ini adalah salah satu bentuk tauhid yang agung, yaitu mengulang-ulang nama Allah dan mengakui bahwa hanya Dia satu-satunya Rabb yang berhak diibadahi, serta berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengajarkan sebuah dzikir yang sangat ringkas namun memiliki makna yang sangat dalam. Kata "اللَّهُ اللَّهُ" (Allah, Allah) adalah pengulangan nama Allah yang menunjukkan pengagungan dan permohonan pertolongan hanya kepada-Nya. Ini sebagaimana yang dipahami oleh para ulama salaf, seperti yang diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahwa beliau sering mengulang-ulang nama Allah dalam doanya ketika menghadapi kesulitan.

Kemudian kalimat "رَبِّي" (Tuhanku) adalah pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb yang menciptakan, mengatur, dan memberikan segala kenikmatan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pengakuan rububiyah (ketuhanan dalam hal penciptaan dan pengaturan) ini harus membawa seseorang kepada pengakuan uluhiyah (ketuhanan dalam hal ibadah), yaitu hanya menyembah Allah semata.

Puncak dari dzikir ini adalah kalimat "لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا" (aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun). Ini adalah pernyataan tauhid yang murni dan bara' (berlepas diri) dari segala bentuk kesyirikan, baik yang besar maupun yang kecil. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitab Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa tauhid adalah kunci untuk membuka segala kesulitan. Semakin murni tauhid seseorang, semakin besar pertolongan Allah yang akan ia dapatkan.

Dzikir ini sangat cocok dibaca ketika menghadapi kesulitan, karena kesulitan seringkali membuat hati manusia bergantung kepada selain Allah. Dengan mengucapkan dzikir ini, seorang hamba mengingatkan dirinya sendiri bahwa hanya Allah tempat bergantung, dan ia berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan yang bisa merusak tauhidnya.

Story Telling

Kisah Asma' binti 'Umais radhiyallahu 'anha sendiri adalah teladan yang indah. Beliau adalah seorang wanita yang mulia, ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) dan kemudian ke Madinah. Beliau adalah istri dari Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ.

Ketika Ja'far gugur dalam Perang Mu'tah, Asma' berada dalam kesedihan yang mendalam. Namun, Rasulullah ﷺ datang kepadanya dan mengajarkan dzikir ini. Ini menunjukkan bahwa dzikir ini bukan hanya untuk kesulitan yang bersifat duniawi, tetapi juga untuk kesulitan yang bersifat ukhrawi dan musibah besar sekalipun. Dengan mengamalkan dzikir ini, Asma' mendapatkan ketenangan dan kekuatan untuk menghadapi ujian yang sangat berat.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan dzikir ini ketika menghadapi kesulitan, baik kesulitan kecil maupun besar. Ucapkan dengan penuh keyakinan dan penghayatan.
  2. Pahami maknanya, yaitu mengakui bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb dan Tuhan, serta berlepas diri dari segala bentuk kesyirikan.
  3. Jaga tauhid dalam hati, karena pertolongan Allah datang sesuai dengan kadar kemurnian tauhid seseorang.
  4. Ajarkan dzikir ini kepada keluarga dan orang-orang terdekat, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkannya kepada Asma'.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.