Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3870 tentang Doa pagi sore untuk mendapat keridhaan Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ. Barangsiapa yang mengucapkan dzikir "Radhiitu billaahi rabban, wa bil-Islaami diinan, wa bi Muhammadin nabiyyan" (Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabiku) di waktu pagi dan sore, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berjanji akan meridhainya pada hari Kiamat. Ini adalah dzikir yang ringan di lisan namun sangat besar pahalanya, karena mengandung pernyataan ridha dan kepasrahan seorang hamba kepada Allah dalam tiga perkara pokok: rububiyyah (ketuhanan), diin (agama), dan nubuwwah (kenabian).

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Doa, Bab Doa yang Dibaca Seseorang Ketika Pagi dan Sore, no. 3870, dari sahabat Abu Salam — pelayan Nabi ﷺ — secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ).

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ يَقُولُ حِينَ يُمْسِي وَحِينَ يُصْبِحُ: رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Terjemahan: "Tidak ada seorang Muslim — atau seorang manusia, atau hamba Allah — yang mengucapkan di waktu sore dan pagi: 'Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabiku,' melainkan ia akan mendapatkan hak atas Allah untuk membuatnya ridha pada hari Kiamat."

Hadits Penguat dari Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa, Bab Doa Pagi dan Sore, no. 3389, dari sahabat Abu Salam. Beliau menilai hadits ini hasan gharib.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Al-Fath [48]: 29 — Allah memuji para sahabat Nabi ﷺ yang ridha kepada Allah dan diridhai Allah:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ

"Muhammad adalah utusan Allah; dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya..."

Kaitan dengan Ulama:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (ketika menafsirkan QS. Al-Fath [48]: 29) menjelaskan bahwa keridhaan Allah kepada hamba-Nya adalah puncak kenikmatan yang paling agung di akhirat, dan dzikir radhiitu billahi rabban adalah sarana untuk meraihnya.

Penjelasan Rinci

Makna Dzikir Ini:

Dzikir ini mengandung tiga pernyataan ridha yang sangat agung:

  1. Ridha kepada Allah sebagai Rabb — Ini berarti menerima sepenuhnya ketetapan, takdir, dan pengaturan Allah dalam hidup. Seorang hamba tidak mengeluh terhadap takdir Allah, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa ridha kepada Allah sebagai Rabb berarti ridha terhadap hukum-hukum kauniyah (ketetapan alam) dan syar'iyyah (syariat)-Nya.
  2. Ridha kepada Islam sebagai Diin (Agama) — Ini berarti menerima seluruh ajaran Islam dengan lapang dada, tidak memilah-milah antara yang diambil dan ditinggalkan, serta tidak merasa berat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya menegaskan bahwa ridha kepada Islam sebagai agama adalah pokok keislaman seseorang.
  3. Ridha kepada Muhammad ﷺ sebagai Nabi — Ini berarti menerima beliau sebagai utusan Allah, membenarkan segala yang beliau sampaikan, menaati perintahnya, menjauhi larangannya, dan tidak mencari petunjuk di luar sunnahnya. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Ushulus Sunnah menegaskan bahwa menerima berita dari Nabi ﷺ tanpa keraguan adalah bagian dari keimanan.

Makna "Hak atas Allah untuk meridhainya":

Ungkapan "كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ" (menjadi hak atas Allah) adalah bentuk kemurahan Allah kepada hamba-Nya. Ini bukan berarti Allah "wajib" dalam arti dipaksa, tetapi ini adalah janji Allah yang pasti ditepati. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 7405) bahwa Allah berfirman: "Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." Maka barangsiapa ridha kepada Allah, Allah pun ridha kepadanya.

Pandangan Ulama tentang Dzikir Ini:

  • Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa dzikir ini termasuk dzikir pagi dan petang yang dianjurkan, dan beliau menyebutkan hadits ini sebagai dalil keutamaannya.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Kitab Doa) menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung penetapan tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah (melalui Islam), dan tauhid ittiba' (mengikuti Nabi ﷺ), sehingga orang yang mengucapkannya dengan keyakinan akan mendapatkan balasan yang besar.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa dzikir ini adalah dzikir yang ringan, namun mengandung makna yang sangat dalam. Beliau menekankan pentingnya mengucapkan dzikir ini dengan hati yang hadir dan memahami maknanya.

Perbedaan Redaksi dalam Riwayat:

Dalam riwayat Ibnu Majah ada keraguan perawi: "مُسْلِمٍ أَوْ إِنْسَانٍ أَوْ عَبْدٍ" (Muslim, atau manusia, atau hamba). Ini menunjukkan bahwa keutamaan ini mencakup seluruh hamba Allah yang beriman, dan lafazh-lafazh ini saling menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah seorang Muslim yang beriman.

Story Telling

Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri — seorang ulama tabi'in yang terkenal dengan kezuhudan dan kesedihannya dalam beribadah — bahwa beliau sering berkata: "Barangsiapa yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, maka Allah akan meridhainya." Beliau juga dikenal sering berdoa: "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang ridha kepada-Mu dan meridhai-Mu."

Al-Hasan Al-Bashri juga menceritakan bahwa di kalangan sahabat, ada kebiasaan mengajarkan dzikir-dzikir pagi dan petang kepada anak-anak mereka sebagaimana mereka mengajarkan menulis. Ini menunjukkan bahwa dzikir pagi dan petang, termasuk dzikir radhiitu billahi rabban, adalah amalan yang sangat dijaga oleh generasi salaf.

Hikmah: Orang yang ridha kepada Allah akan merasakan ketenangan dalam hidupnya. Ia tidak gelisah dengan apa yang menimpanya, karena ia yakin semua itu dari Allah yang Maha Bijaksana. Dan balasan terbesar bagi orang yang ridha adalah keridhaan Allah di akhirat, yang merupakan kenikmatan yang tiada tandingannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan membaca dzikir ini setiap pagi dan sore — minimal tiga kali, sebagaimana yang diamalkan oleh banyak ulama berdasarkan hadits-hadits shahih lainnya.
  2. Ucapkan dengan hati yang hadir — pahami maknanya: aku ridha Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad ﷺ sebagai Nabiku.
  3. Jadikan ridha sebagai sikap hidup — terima takdir Allah dengan lapang dada, jalankan syariat Islam dengan penuh kesungguhan, dan ikuti sunnah Nabi ﷺ dalam segala urusan.
  4. Ajarkan dzikir ini kepada keluarga — sebagaimana para salaf mengajarkan dzikir-dzikir pagi dan petang kepada anak-anak mereka.
  5. Yakinlah dengan janji Allah — barangsiapa ridha kepada Allah, maka Allah akan meridhainya pada hari Kiamat, dan keridhaan Allah adalah kenikmatan terbesar di surga.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.