Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa doa dengan nama-nama Allah yang agung, yang mencakup pujian (al-hamdu), ketauhidan (lā ilāha illā anta wahdaka), dan sifat-sifat Maha Pemberi (al-Mannān), Pencipta langit dan bumi (Badī‘us Samāwāti wal Ard), serta Pemilik keagungan dan kemuliaan (Dzul Jalāli wal Ikrām), termasuk doa yang sangat mustajab. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa orang yang berdoa dengan nama-nama ini telah memohon dengan Ismul A‘ẓam (Nama Allah yang Maha Agung), yang jika diminta dengannya pasti dikabulkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits (Sunan Ibnu Majah, Kitab Doa, Bab Nama Allah yang Agung, no. 3858):
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا أَبُو خُزَيْمَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: سَمِعَ النَّبِيُّ ﷺ رَجُلاً يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. فَقَالَ: "لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ".
Ayat terkait (QS. Al-A‘rāf [7]: 180):
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Allah memiliki nama-nama yang terbaik, maka berdoalah kepada-Nya dengan (nama-nama itu).”
Rujukan ulama:
- Syeikh Muhammad Nāshiruddīn al-Albānī (w. 1420 H) menshahihkan hadits ini dalam Shahīh Sunan Ibni Mājah (no. 3858).
- Ibnu Ḥajar al-‘Asqalānī (w. 852 H) dalam Fatḥul Bārī (11/213) membahas bahwa Ismul A‘ẓam bisa berwujud gabungan sifat-sifat agung seperti dalam hadits ini, dan beliau menguatkan pendapat yang mengatakan ia tidak terbatas pada satu lafaz tertentu.
- Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) dalam al-Wābil aṣ-Ṣayyib (hlm. 196) menjelaskan bahwa inti Ismul A‘ẓam adalah penghambaan diri yang sempurna dan pujian yang agung kepada Allah, seperti yang terkandung dalam doa ini.
- Ibnu Katsīr (w. 774 H) dalam tafsir QS. al-A‘rāf: 180 menekankan perintah untuk berdoa dengan nama-nama Allah yang husna, dan hadits ini termasuk contohnya.
Penjelasan Rinci
Doa dalam hadits ini mengandung beberapa unsur penting yang menjadikannya mustajab:
- Pujian kepada Allah (al-hamdu) – dimulai dengan mengakui bahwa segala pujian hanya milik Allah. Ini menunjukkan sikap syukur dan penghambaan.
- Tauhid yang murni – “lā ilāha illā anta wahdaka lā syarīka lak” menegaskan keesaan Allah tanpa sekutu, yang merupakan inti dari ajaran Islam.
- Menyebut tiga nama/sifat agung:
- al-Mannān (Yang Maha Memberi nikmat tanpa perhitungan). Syeikh ‘Abdurraḥmān bin Nāṣir as-Sa‘dī (w. 1376 H) dalam Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān menjelaskan bahwa al-Mannān adalah yang memberi segala kebaikan dan mencegah keburukan, tanpa ada kewajiban dari makhluk.
- Badī‘us Samāwāti wal Ard (Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya). Ini menunjukkan kekuasaan dan keagungan ciptaan-Nya.
- Dzul Jalāli wal Ikrām (Pemilik kebesaran dan kemuliaan). Ini mencakup sifat-sifat keagungan yang tak terbatas dan kemuliaan yang sempurna.
Pendapat ulama tentang Ismul A‘ẓam:
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah berbeda pendapat mengenai lafaz spesifik Ismul A‘ẓam. Namun, di antara yang kuat adalah pendapat yang disampaikan oleh Imam Aḥmad bin Ḥanbal (w. 241 H), Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), dan Ibnu Qayyim bahwa Ismul A‘ẓam tidaklah terbatas pada satu kata, melainkan nama-nama yang mengandung makna keesaan dan keagungan Allah secara komprehensif, seperti Allāh, ar-Raḥmān, al-Ḥayyu al-Qayyūm, atau rangkaian pujian seperti dalam hadits ini. Ibnu Ḥajar dalam Fatḥul Bārī meriwayatkan bahwa sebagian ulama mengatakan Ismul A‘ẓam adalah “Allāh” saja, tetapi yang lain melihat bahwa ia bisa berupa kalimat yang mencakup tauhid dan sifat-sifat agung.
Hadits ini menjadi dalil kuat bahwa membaca doa dengan mengagungkan Allah melalui nama-nama dan sifat-Nya adalah sarana terkabulnya doa. Al-Albānī dalam Shahīh Sunan Ibni Mājah menegaskan bahwa sanad hadits ini hasan, dan ia menyebutnya sebagai salah satu contoh konkret Ismul A‘ẓam.
Story Telling
Kisah dalam hadits ini sendiri sudah merupakan contoh nyata dari praktik Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang mustajab. Diriwayatkan bahwa seorang lelaki (yang tidak diketahui namanya) berdoa dengan kalimat tersebut di hadapan Nabi ﷺ. Beliau tidak melarangnya, justru memujinya dan mengabarkan bahwa doa itu menggunakan nama Allah yang terbesar.
Kisah lain: Dalam riwayat lain dari Sunan an-Nasā’ī (no. 1301) dan Musnad Aḥmad (no. 12658), Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> “Ismul A‘ẓam terkandung dalam dua ayat ini: Allāh lā ilāha illā huwal ḥayyul qayyūm (QS. Al-Baqarah: 255) dan Alif lām mīm. Allāhu lā ilāha illā huwal ḥayyul qayyūm (QS. Āli ‘Imrān: 1-2).” (Hadits shahih, dishahihkan oleh al-Albānī dalam Shahīh an-Nasā’ī).
Hal ini menunjukkan bahwa nama-nama yang agung itu banyak, dan doa yang mencakup tauhid, pujian, dan sifat-sifat mulia pasti dikabulkan.
Kesimpulan Praktis
- Amalkan doa ini dalam setiap kesempatan, terutama setelah shalat, di penghujung malam, atau saat mengalami kesulitan. Hafalkan dan ucapkan dengan penuh keyakinan.
- Perbanyak pujian dan tauhid dalam doa, karena itu adalah kunci terkabulnya permohonan. Janganlah berdoa dengan tergesa-gesa tanpa mengagungkan Allah.
- Yakinlah bahwa setiap doa yang dikerjakan dengan ikhlas, sesuai sunnah, dan mengandung nama atau sifat Allah yang mulia pasti akan dijawab oleh-Nya, baik segera, ditunda, atau diganti dengan yang lebih baik.
- Ajarkan doa ini kepada keluarga dan sahabat sebagai warisan kebaikan dari Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.