Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3856 tentang Nama Allah yang Agung dalam tiga surah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini (Ibnu Majah no. 3856) berisi perkataan Al-Qasim bin Abdurrahman (seorang tabi'in, bukan sahabat) bahwa Ismullah al-A'zham — Nama Allah yang Agung, yang bila dipakai berdoa pasti dikabulkan — terdapat dalam tiga surah: Al-Baqarah, Ali 'Imran, dan Thaha. Riwayat ini bukan sabda Nabi ﷺ secara pasti, melainkan atsar (perkataan tabi'in), dan sebagian jalurnya diangkat (marfu') kepada Nabi ﷺ lewat Abu Umamah dengan status hasan menurut sebagian ulama. Karena itu, para ulama berbeda pendapat tentang nama itu secara pasti, dan yang paling selamat adalah berdoa dengan seluruh nama Allah yang baik (asma'ul husna) serta merendahkan diri, tanpa memastikan satu nama tertentu tanpa dalil yang tegas.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Thaha [20]: 8

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ

(Lafaz ini sebenarnya di QS. Al-A'raf [7]: 180; adapun QS. Thaha [20]: 8 berbunyi:)

QS. Thaha [20]: 8

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

"Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dia memiliki nama-nama yang terbaik (asma'ul husna)."

QS. Al-A'raf [7]: 180

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ

"Dan Allah memiliki nama-nama yang terbaik (asma'ul husna), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya."

Hadits terkait yang lebih kuat dan masyhur:

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu; siapa yang menghafalnya (menjaganya) akan masuk surga."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim — disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.)

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas panjang tentang Ismullah al-A'zham dan menyebutkan berbagai pendapat sahabat dan tabi'in, serta menjelaskan bahwa penentuannya secara pasti masih diperselisihkan.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Syarh Muslim menyebutkan doa-doa yang dianjurkan dan menjelaskan adab berdoa dengan asma'ul husna.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya (pada QS. Al-Baqarah [2]: 255 — Ayat Kursi, dan QS. Ali 'Imran [3]: 2) menyebutkan bahwa sebagian salaf menunjuk ayat-ayat tertentu sebagai tempat Ismullah al-A'zham, termasuk awal Ali 'Imran dan ayat-ayat Thaha.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad dan Bada'i'ul Fawa'id membahas Ismullah al-A'zham dan menyimpulkan bahwa ia terdapat dalam beberapa ayat tertentu, namun penentuannya tetap bersifat ijtihad.

Penjelasan Rinci

Pertama: kedudukan riwayat ini.

Riwayat Ibnu Majah no. 3856 ini pada jalur pertamanya adalah perkataan Al-Qasim bin Abdurrahman (tabi'in, wafat sekitar 112 H) — bukan sabda Nabi ﷺ. Ia menyebutkan bahwa Ismullah al-A'zham ada dalam tiga surah: Al-Baqarah, Ali 'Imran, dan Thaha. Pada jalur kedua, riwayat ini diangkat (marfu') kepada Nabi ﷺ melalui Abu Umamah al-Bahili رضي الله عنه, dan sebagian ulama menilainya hasan karena adanya penguat.

Kedua: apa itu Ismullah al-A'zham?

Yaitu nama Allah yang apabila dipakai untuk berdoa, doa itu dikabulkan; dan apabila dipakai untuk meminta, permintaan itu diberikan. Ini disebutkan dalam hadits-hadits lain yang lebih kuat, misalnya doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْأَسْمَاءَ الْحُسْنَى

atau doa dengan "Allahumma inni as'aluka bi annaka Antallah..." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah) — yang dinilai shahih oleh Syeikh al-Albani.

Ketiga: pendapat ulama daftar tentang penentuannya.

  • Ibn Katsir menyebutkan dalam tafsirnya bahwa sebagian salaf menunjuk Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah [2]: 255) dan awal Ali 'Imran (QS. Ali 'Imran [3]: 1–2: Alif Lam Mim. Allahu la ilaha illa Huwal-Hayyul-Qayyum) serta QS. Thaha [20]: 111 (Wa 'anatil-wujuhu lil-Hayyil-Qayyum) sebagai tempat Ismullah al-A'zham.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyimpulkan bahwa Ismullah al-A'zham terkandung dalam "Al-Hayyul-Qayyum" (Yang Mahahidup, Yang Maha Berdiri Sendiri), berdasarkan hadits-hadits shahih.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan sekitar empat belas pendapat ulama tentang penentuan Ismullah al-A'zham, dan beliau tidak memastikan satu pendapat secara mutlak.
  • Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menganjurkan berdoa dengan seluruh asma'ul husna dan tidak memastikan satu nama tertentu.

Keempat: kesimpulan ilmiah.

Yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibn Qayyim dan didukung Ibn Katsir — adalah bahwa Ismullah al-A'zham berkisar pada nama "Allah", "Al-Hayyul-Qayyum", atau kombinasi keduanya. Adapun penentuan satu ayat tertentu secara pasti, itu adalah ijtihad sebagian salaf dan tidak ada dalil qath'i (pasti) yang mengikat. Karena itu, seorang muslim sebaiknya berdoa dengan seluruh asma'ul husna dan merendahkan diri, agar tidak terjatuh pada penentuan yang tidak berdasar.

Kelima: catatan tentang status riwayat.

Hadits ini tidak mencapai derajat shahih secara mutlak menurut sebagian ulama, namun sebagian menilainya hasan karena adanya penguat dari jalur Abu Umamah. Karena itu, ia tidak bisa dijadikan dalil qath'i untuk memastikan Ismullah al-A'zham hanya pada tiga surah tersebut, tetapi bisa dijadikan isyarat bahwa ayat-ayat tertentu dalam surah-surah itu mengandung keutamaan dalam berdoa.

Story Telling

Diceritakan bahwa Al-Qasim bin Abdurrahman (tabi'in, salah satu perawi hadits ini) adalah seorang yang dikenal zuhud dan banyak beribadah. Ia pernah menyebutkan kepada murid-muridnya bahwa Ismullah al-A'zham ada dalam tiga surah: Al-Baqarah, Ali 'Imran, dan Thaha. Muridnya, Amr bin Abi Salamah, kemudian menyampaikan hal ini kepada Isa bin Musa, dan Isa bin Musa mendengarnya dari Ghailan bin Anas yang menyampaikannya dari Al-Qasim, dari Abu Umamah al-Bahili رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ.

Hikmahnya: Para salaf sangat berhati-hati dalam menyampaikan ilmu. Mereka membedakan antara perkataan mereka sendiri dan sabda Nabi ﷺ. Al-Qasim sendiri menyebutkan hal ini sebagai ijtihad dan pengetahuan yang ia miliki, bukan sebagai sabda Nabi ﷺ secara pasti. Ini mengajarkan kita adab dalam meriwayatkan: jangan menisbahkan kepada Nabi ﷺ sesuatu yang tidak pasti dari beliau, dan jangan pula mengingkari ijtihad salaf selama masih dalam koridor ilmu.

Kesimpulan Praktis

  1. Berdoalah dengan seluruh asma'ul husna, bukan hanya satu nama tertentu, karena itu yang paling selamat dan sesuai QS. Al-A'raf [7]: 180.
  2. Perbanyak doa dengan "Ya Hayyu Ya Qayyum", karena ini disebutkan dalam hadits-hadits shahih dan disimpulkan oleh Ibn Qayyim sebagai inti Ismullah al-A'zham.
  3. Jangan memastikan satu ayat tertentu sebagai Ismullah al-A'zham tanpa dalil qath'i, karena para ulama sendiri berbeda pendapat.
  4. Perhatikan adab berdoa: memuji Allah, bershalawat kepada Nabi ﷺ, merendahkan diri, dan yakin akan dikabulkan.
  5. Bedakan antara sabda Nabi ﷺ dan perkataan tabi'in — ini bagian dari adab ilmu yang diajarkan para ulama daftar seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi.
  6. Jangan berlebihan (ghuluw) dalam menentukan nama atau ayat tertentu, karena yang terpenting adalah keikhlasan dan ketundukan kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?