Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah karunia besar dari Allah yang harus diminta dengan sungguh-sungguh, sedangkan ilmu yang tidak bermanfaat wajib dijauhi dan kita berlindung kepada Allah darinya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal, ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebaliknya, ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak diamalkan, atau yang menimbulkan kesombongan dan perdebatan tanpa amal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Doa, Bab Apa yang Diminta Rasulullah, dari sahabat Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما, melalui jalur Ali bin Muhammad dari Waki' dari Usamah bin Zaid dari Muhammad bin al-Munkadir.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat:
QS. Thaha [20]: 114
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Dan katakanlah: 'Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.'"
QS. Al-Falaq [113]: 1-2 (sebagai dasar umum berlindung kepada Allah):
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ
"Katakanlah: 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya.'"
Hadits ini juga sejalan dengan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim bin al-Hajjaj dari Zaid bin Arqam رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung dua permintaan penting yang saling berkaitan: meminta ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Pertama: Makna "ilmu yang bermanfaat" (عِلْمًا نَافِعًا).
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan, yang membuahkan ketakwaan, dan yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar hafalan atau banyaknya informasi, tetapi ilmu yang masuk ke dalam hati dan tampak pada amal perbuatan.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menyebutkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diwarisi dari para nabi, yaitu ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan ilmu tentang apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Ilmu ini membuahkan rasa takut kepada Allah, tawadhu, dan amal saleh.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menjelaskan bahwa doa meminta ilmu yang bermanfaat mencakup permohonan agar Allah memberikan pemahaman yang benar terhadap Al-Qur'an dan Sunnah, serta ilmu yang membuahkan amal saleh dan akhlak mulia.
Kedua: Makna "ilmu yang tidak bermanfaat" (عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ).
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak diamalkan, atau ilmu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah, seperti berdebat tanpa ilmu, mencari popularitas, atau menimbulkan kesombongan.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak membuahkan amal, atau ilmu yang justru menjauhkan seseorang dari Allah, seperti ilmu sihir, ilmu yang digunakan untuk menyesatkan, atau ilmu yang dipelajari hanya untuk berbangga diri.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang ilmu yang tidak bermanfaat, beliau menjawab bahwa itu adalah ilmu yang tidak diamalkan. Beliau juga berdoa sebagaimana dalam hadits ini, memohon ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri menekankan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak membuahkan rasa takut kepada Allah. Sementara Sufyan ats-Tsauri menekankan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang digunakan untuk mencari dunia. Namun, semua pendapat ini saling melengkapi dan tidak bertentangan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak diamalkan, tidak membuahkan ketakwaan, dan tidak mendekatkan kepada Allah.
Kaitan dengan doa Nabi ﷺ:
Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk meminta ilmu yang bermanfaat dan berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ini menunjukkan bahwa ilmu bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan beramal saleh. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ ini mencakup permohonan agar Allah memberikan ilmu yang membuahkan amal dan menjauhkan dari ilmu yang hanya menjadi hujjah (alasan) yang memberatkan di akhirat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله pernah ditanya oleh seseorang: "Wahai Imam, sampai kapan aku harus menuntut ilmu?" Beliau menjawab: "Sampai kamu masuk ke liang lahat." Kemudian beliau membaca doa Nabi ﷺ ini dan berkata: "Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menemanimu sampai di kubur dan menjadi saksi kebaikanmu di hadapan Allah."
Fudail bin 'Iyadh رحمه الله, seorang ulama besar Tabi'ut Tabi'in, pernah berkata: "Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuatmu semakin takut kepada Allah dan semakin tawadhu. Adapun ilmu yang membuatmu sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain, maka itu adalah ilmu yang tidak bermanfaat, meskipun engkau hafal ribuan hadits."
Al-Hasan al-Bashri رحمه الله juga pernah menasihati murid-muridnya: "Barangsiapa yang ilmunya tidak membuatnya menangis karena takut kepada Allah, maka ilmunya tidak bermanfaat. Barangsiapa yang ilmunya tidak membuatnya zuhud terhadap dunia, maka ilmunya tidak bermanfaat. Barangsiapa yang ilmunya tidak membuatnya semakin dekat kepada Allah, maka ilmunya tidak bermanfaat."
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak doa meminta ilmu yang bermanfaat, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ, karena ilmu yang bermanfaat adalah cahaya yang menerangi hati dan membuahkan amal saleh.
- Berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, yaitu ilmu yang tidak diamalkan, ilmu yang menimbulkan kesombongan, atau ilmu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah.
- Ukur ilmu dengan amal, karena ilmu yang bermanfaat akan tampak pada akhlak, ibadah, dan muamalah sehari-hari.
- Jauhi ilmu yang hanya menjadi hujjah di akhirat, seperti berdebat tanpa amal, mencari popularitas, atau mempelajari ilmu untuk menyesatkan orang lain.
- Tanyakan kepada ulama terpercaya jika ada ilmu yang meragukan, karena ilmu yang tidak bermanfaat sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang tampak baik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.