Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3826 tentang Anjuran memperbanyak ucapan La hawla wa la quwwata illa billah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa memperbanyak ucapan "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh" adalah amalan ringan namun bernilai besar, karena Nabi ﷺ menyebutnya sebagai salah satu harta/khazanah surga. Maknanya: seorang hamba mengakui bahwa tidak ada daya untuk menjauhi keburukan dan tidak ada kekuatan untuk melakukan kebaikan, kecuali dengan pertolongan Allah. Ucapan ini menanamkan tauhid, tawakal, dan kerendahan hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Sunan Ibnu Majah, Kitab Adab, Bab Mā Jā'a fī "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh", no. 3826, dari sahabat Hazim bin Harmalah رضي الله عنه.

Teks hadits:

<p>يَا حَازِمُ أَكْثِرْ مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ</p>

Terjemahan: "Wahai Hazim, perbanyaklah ucapan 'Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh', karena sesungguhnya ia termasuk khazanah-khazanah surga."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan — QS. Al-Kahfi [18]: 39:

<p>وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ</p>

Terjemahan: "Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan: 'Māsyā'allāh, lā quwwata illā billāh' (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)."

Kaitan ulama & kitab:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bārī menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung tawḥīd dan tafwīḍ (menyerahkan segala urusan kepada Allah).
  • Imam an-Nawawi dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menerangkan bahwa "khazanah surga" bermakna pahala yang tersimpan, atau ucapan yang menjadi sebab masuknya seseorang ke surga.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wābil aṣ-Ṣayyib menyebut dzikir ini sebagai salah satu dzikir yang paling agung maknanya.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan ayat Al-Kahfi di atas sebagai pengakuan bahwa seluruh kekuatan hanya milik Allah.

Penjelasan Rinci

Makna kalimat "Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh":

Secara bahasa, ḥaul berarti daya/upaya berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain, dan quwwah berarti kekuatan. Maknanya: tidak ada kemampuan berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan tidak ada kekuatan untuk menetap dalam kebaikan, kecuali dengan pertolongan Allah.

Mengapa disebut "khazanah surga"?

Para ulama di daftar menjelaskan beberapa makna:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bārī): ia adalah simpanan pahala yang besar, seperti harta karun yang tersembunyi.
  2. Imam an-Nawawi (Syarḥ Muslim): sebagian ulama menyebutnya sebagai kalimat yang ditanamkan di bawah 'Arsy, dan menjadi sebab seorang hamba masuk surga.
  3. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Kalimah al-Ikhlāṣ menegaskan bahwa kalimat ini menafikan segala daya dan kekuatan dari selain Allah, sehingga menegakkan tauhid secara sempurna.

Kedudukan Hazim bin Harmalah:

Beliau adalah sahabat yang disebutkan dalam hadits ini. Nabi ﷺ memanggilnya langsung dengan namanya dan memberi wasiat khusus, menunjukkan perhatian beliau kepada para sahabat dan pentingnya wasiat ini.

Perbedaan pendapat ulama daftar:

Tidak ada perbedaan mendasar di antara ulama yang tercantum. Semuanya sepakat bahwa dzikir ini agung, mengandung tauhid, dan dianjurkan diperbanyak. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa "khazanah surga" bermakna pahala besar yang tersimpan dan menjadi sebab masuknya seseorang ke surga, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.

Kapan diperbanyak?

  • Setelah shalat fardhu (sebagaimana dalam hadits lain tentang dzikir setelah shalat).
  • Ketika menghadapi kesulitan atau merasa lemah.
  • Dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk tawakal kepada Allah.
  • Ketika melihat sesuatu yang menakjubkan, sebagaimana isyarat QS. Al-Kahfi [18]: 39.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Hazim bin Harmalah رضي الله عنه berjalan melewati Nabi ﷺ. Beliau tidak membiarkannya lewat begitu saja, tetapi memanggilnya dengan lembut: "Wahai Hazim..." — memanggil dengan nama adalah bentuk keakraban dan kasih sayang. Lalu beliau memberi wasiat yang singkat namun berat timbangannya: perbanyaklah dzikir Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Bayangkan: seorang sahabat hanya lewat, namun mendapat wasiat yang menjadi bekal seumur hidup dan bahkan sampai kepada kita hari ini. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ selalu memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajarkan kebaikan. (Disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah dan kitab-kitab dzikir seperti Al-Wābil aṣ-Ṣayyib karya Ibnul Qayyim.)

Hikmahnya: jangan remehkan amal kecil. Ucapan yang singkat bisa menjadi harta yang tersimpan di surga.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah ucapan Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh setiap hari, terutama setelah shalat dan saat menghadapi kesulitan.
  2. Renungkan maknanya: kita tidak punya daya dan kekuatan apa pun tanpa pertolongan Allah — ini menumbuhkan tawakal dan menjauhkan kesombongan.
  3. Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak, karena ini wasiat langsung Nabi ﷺ.
  4. Jangan anggap remeh amal kecil; bisa jadi ia menjadi simpanan besar di akhirat.
  5. Jaga adab dalam berdzikir: dengan hati yang hadir, bukan sekadar lisan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?