Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari kalimat "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah). Kalimat ini disebut oleh Nabi ﷺ sebagai salah satu harta karun surga, karena ia mengandung pengakuan kelemahan diri di hadapan Allah dan kepasrahan total bahwa segala daya dan kekuatan hanya milik-Nya. Ini adalah kalimat yang ringan di lisan namun sangat berat timbangannya di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 3824 dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda kepadanya:
"يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟"
"Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau aku tunjukkan salah satu kalimat dari harta karun surga?"
Lalu beliau bersabda: "قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" — "Ucapkanlah: La haula wa la quwwata illa billah."
Hadits ini juga diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 6384) dan Shahih Muslim (no. 2704) dari jalur lain, dengan redaksi yang semakna. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa kalimat ini termasuk dzikir yang dianjurkan dan memiliki keutamaan besar.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan makna kalimat ini adalah firman Allah dalam QS. Al-Kahfi [18]: 39:
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
"Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan 'Ma sya Allah, la quwwata illa billah' (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah)?"
Penjelasan Rinci
Makna Kalimat "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ"
Para ulama menjelaskan makna kalimat ini dengan sangat mendalam:
Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa makna kalimat ini adalah: "Tidak ada daya bagi hamba untuk mengubah suatu keadaan, dan tidak ada kekuatan baginya untuk berbuat sesuatu, kecuali dengan pertolongan dan kehendak Allah Ta'ala."
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib menjelaskan bahwa kalimat ini adalah pengakuan seorang hamba bahwa dirinya tidak memiliki daya dan kekuatan sama sekali. Semua gerak, diam, usaha, dan kemampuan hanyalah berasal dari Allah. Maka kalimat ini mengandung:
- Pengakuan kelemahan diri di hadapan Allah
- Kepasrahan total kepada kekuasaan Allah
- Permohonan pertolongan kepada Allah dalam segala urusan
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kalimat ini adalah salah satu kalimat yang paling agung, karena ia menggabungkan antara penafian (meniadakan daya dan kekuatan dari diri sendiri) dan penetapan (menetapkan bahwa daya dan kekuatan hanya milik Allah semata).
Mengapa Disebut "Harta Karun Surga"?
Para ulama menjelaskan beberapa alasan mengapa kalimat ini disebut sebagai harta karun surga:
- Karena keutamaannya yang besar — sebagaimana harta karun adalah barang berharga yang tersembunyi, demikian pula kalimat ini memiliki keutamaan yang agung namun banyak orang yang melalaikannya.
- Karena ia adalah kalimat yang menyelamatkan — sebagaimana harta karun menyelamatkan pemiliknya dari kefakiran, kalimat ini menyelamatkan pengucapnya dari berbagai keburukan.
- Imam Al-Qurthubi (dalam Al-Mufhim) menjelaskan: Dinamakan harta karun surga karena pahalanya yang besar dan tersimpan bagi pelakunya di surga, seperti harta karun yang tersimpan di bumi.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan sebagian ulama bahwa kalimat ini disebut harta karun surga karena ia adalah kalimat yang mengandung makna tawakkal yang sempurna, dan orang yang mengucapkannya dengan penuh keyakinan akan mendapatkan balasan yang besar di surga.
Kapan Kalimat Ini Diucapkan?
Para ulama menyebutkan bahwa kalimat ini diucapkan dalam beberapa keadaan:
- Ketika menghadapi kesulitan — sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah
- Ketika mendengar suara adzan — sebagai jawaban setelah muadzin mengucapkan "Hayya 'alash shalah" dan "Hayya 'alal falah"
- Ketika keluar dari rumah — sebagai permohonan perlindungan dan pertolongan Allah
- Setelah shalat — sebagai dzikir yang dianjurkan
- Ketika melihat sesuatu yang menakjubkan — sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Kahfi ayat 39
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa kalimat ini adalah obat bagi segala kesulitan, karena ia mengandung penyerahan urusan kepada Allah dan pengakuan bahwa tidak ada yang bisa mengubah keadaan kecuali Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu — yang nama aslinya adalah Abdullah bin Qais — suatu ketika mengucapkan kalimat "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" di dekat Nabi ﷺ. Maka Nabi ﷺ memanggilnya dengan nama aslinya: "Wahai Abdullah bin Qais!" — ini menunjukkan kasih sayang beliau — lalu bersabda: "Maukah engkau aku tunjukkan salah satu kalimat dari harta karun surga?"
Abu Musa menjawab dengan penuh semangat: "Tentu saja, wahai Rasulullah!"
Maka Nabi ﷺ bersabda: "Ucapkanlah: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ"
Dalam riwayat lain (Shahih Muslim), Nabi ﷺ menambahkan penjelasan: "Sesungguhnya kalimat itu adalah salah satu harta karun dari harta-harta karun surga."
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ mengajarkan kepada para sahabatnya kalimat-kalimat yang ringkas namun memiliki makna yang sangat dalam. Beliau tidak mengajarkan dzikir yang panjang, tetapi kalimat yang singkat namun sarat makna — karena kualitas dzikir bukan pada panjangnya lafazh, tetapi pada keikhlasan hati dan pemahaman maknanya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak mengucapkan "لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ" dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat menghadapi kesulitan atau merasa tidak mampu melakukan sesuatu.
- Pahami maknanya — bahwa kita tidak memiliki daya dan kekuatan sama sekali, semua berasal dari Allah. Ini akan menumbuhkan rasa tawadhu' dan ketergantungan hanya kepada Allah.
- Ucapkan dengan keyakinan penuh, bukan sekadar di lisan, tetapi meresap dalam hati bahwa segala urusan ada di tangan Allah.
- Amalkan dalam keadaan yang dianjurkan, seperti ketika keluar rumah, mendengar adzan, dan setelah shalat.
- Ajarkan kalimat ini kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada para sahabat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.