Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ bagi siapa saja yang memperbanyak istighfar. Barangsiapa yang di dalam catatan amalnya (shahifah) banyak terdapat istighfar, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan, karena istighfar adalah sebab dihapusnya dosa dan diangkatnya derajat. Ini adalah dorongan agar kita senantiasa memperbanyak permohonan ampun kepada Allah dalam segala keadaan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Ibnu Majah:
Teks Arab hadits (dengan harakat sesuai periwayatan):
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارٍ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عِرْقٍ، سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ، يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ ـ ﷺ ـ " طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا "
Terjemahan: "Telah berkata Abdullah bin Busr bahwa Nabi ﷺ bersabda: 'Berita gembira bagi orang yang menemukan banyak permohonan ampun dalam catatan amalnya.'" (HR. Ibnu Majah, no. 3818)
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah ﷻ berfirman:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali 'Imran [3]: 135)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa istighfar adalah pembersih hati dari kotoran dosa, dan ia adalah sebab turunnya keberkahan dan kebahagiaan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di menafsirkan bahwa orang yang memperbanyak istighfar akan dicatat dalam shahifah (catatan amal)nya, dan itu menjadi saksi kebaikan baginya di hari kiamat.
Penjelasan Rinci
Makna "Thuba" (طُوبَى):
Para ulama berbeda pendapat tentang makna kata "thuba" dalam hadits ini:
- Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa "thuba" berarti kebahagiaan, kebaikan, dan kenikmatan yang abadi. Ada juga yang mengatakan bahwa "thuba" adalah nama pohon di surga yang menaungi seluruh penghuni surga, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat.
- Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa "thuba" adalah ungkapan kabar gembira yang mencakup segala bentuk kebaikan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.
Makna "Shahifah" (الصَّحِيفَة):
Yang dimaksud dengan "shahifah" adalah catatan amal yang dicatat oleh malaikat pencatat amal (Raqib dan 'Atid). Setiap amal manusia, baik yang kecil maupun besar, dicatat dalam shahifah ini. Di hari kiamat nanti, setiap orang akan menerima catatan amalnya masing-masing.
Makna "Istighfar yang Banyak":
Yang dimaksud adalah memperbanyak ucapan "Astaghfirullah" (أَسْتَغْفِرُ اللهَ) atau doa-doa istighfar lainnya yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti Sayyidul Istighfar. Banyaknya istighfar ini menunjukkan kesadaran seorang hamba akan kekurangan dan dosanya, serta ketergantungannya kepada ampunan Allah.
Pandangan Ulama tentang Keutamaan Istighfar:
- Imam al-Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang istighfar, beliau menjawab: "Istighfar adalah pintu keluar dari segala kesempitan dan jalan keluar dari segala kesusahan."
- Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai ulama yang sangat memperbanyak istighfar. Beliau beristighfar setiap hari sebanyak 70 kali atau lebih, sebagaimana disebutkan dalam biografinya.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Istighfar adalah sebab turunnya hujan, bertambahnya kekuatan, dan keberkahan dalam harta dan anak."
Mengapa Istighfar Dicatat dalam Shahifah?
Karena istighfar adalah amal shalih yang dilakukan oleh lisan dan hati. Ketika seorang hamba beristighfar dengan tulus, maka malaikat mencatatnya sebagai kebaikan. Dan di hari kiamat, ketika ia melihat catatan amalnya penuh dengan istighfar, ia akan bergembira karena itu menjadi bukti bahwa ia adalah hamba yang senantiasa kembali kepada Allah.
Perbedaan Derajat Istighfar:
Para ulama membagi istighfar menjadi dua tingkatan:
- Istighfar lisan - yaitu mengucapkan istighfar dengan lisan tanpa disertai kesadaran hati yang penuh. Ini tetap dicatat sebagai kebaikan, namun pahalanya lebih sedikit.
- Istighfar hati - yaitu istighfar yang disertai kesadaran penuh akan dosa, penyesalan yang mendalam, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Inilah istighfar yang paling utama dan paling cepat diterima.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa istighfar yang diterima adalah yang disertai dengan taubat, yaitu berhenti dari dosa, menyesali perbuatan, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika dosa tersebut berkaitan dengan hak sesama manusia, maka harus dikembalikan haknya terlebih dahulu.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal - semoga Allah merahmatinya - dalam perjalanan hidupnya pernah ditanya oleh muridnya, Imam al-Bukhari - semoga Allah merahmatinya - tentang amalan yang paling beliau andalkan. Maka Imam Ahmad menjawab: "Aku tidak pernah meninggalkan istighfar, siang maupun malam."
Kemudian beliau menyebutkan bahwa beliau membaca dalam kitabullah bahwa Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. Ath-Thalaq [65]: 2)
Maka beliau berkata: "Istighfar adalah bentuk ketakwaan yang paling agung, karena dengan istighfar seorang hamba mengakui kelemahannya di hadapan Allah dan memohon perlindungan-Nya."
Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf menjadikan istighfar sebagai amalan harian yang tidak pernah ditinggalkan, karena mereka memahami betul keutamaannya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyaklah istighfar setiap hari, minimal 100 kali sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ yang beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari.
- Jadikan istighfar sebagai amalan pagi dan petang, karena istighfar di waktu-waktu tersebut sangat dianjurkan.
- Gabungkan istighfar dengan taubat yang tulus, yaitu berhenti dari dosa, menyesal, dan bertekad tidak mengulangi.
- Ajarkan istighfar kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita, agar mereka juga mendapatkan kabar gembira ini.
- Jangan meremehkan istighfar meskipun terasa kecil, karena bisa jadi istighfar yang kita ucapkan menjadi sebab keselamatan kita di hari kiamat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.