Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat sering beristighfar, yaitu sampai seratus kali dalam satu majelis, dengan lafaz "Rabbighfirli wa tub 'alayya innaka Antat-Tawwabur-Rahim". Ini mengajarkan kita untuk memperbanyak istighfar, merendahkan diri kepada Allah, dan tidak merasa cukup dengan amal yang sudah ada. Istighfar bukan hanya untuk orang berdosa, tetapi juga sarana menambah ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Istighfar, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Lafaz doanya:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Terjemahan: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Baqarah [2]: 222
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri."
Juga QS. An-Nur [24]: 31:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Terjemahan: "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah, dan Nabi ﷺ yang sudah dijamin ampunannya tetap memperbanyak istighfar sebagai bentuk syukur, tawadhu, dan pengajaran bagi umat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa istighfar Nabi ﷺ mencakup permohonan ampun untuk umatnya dan bentuk kesempurnaan ibadah. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa taubat yang diterima adalah taubat yang disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad tidak mengulangi.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ yang sangat mulia: beliau menghitung dan memperbanyak istighfar dalam satu majelis sampai seratus kali. Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, sebagai sahabat yang dekat dan teliti, menghitung ucapan Nabi ﷺ tersebut. Ini menunjukkan bahwa istighfar bukan sekadar ucapan lisan, tetapi amalan yang dijaga dan diulang-ulang.
Para ulama yang tercantum dalam rujukan memahami hadits ini sebagai berikut:
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memperbanyak istighfar karena beliau adalah hamba yang paling tahu tentang Allah, paling takut kepada-Nya, dan paling sempurna dalam beribadah. Istighfar beliau bukan karena banyak dosa, tetapi karena kesempurnaan penghambaan dan syukur kepada Allah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa hadits ini mendorong umat untuk memperbanyak istighfar dan tidak merasa cukup dengan amal yang sudah dilakukan. Seorang hamba hendaknya selalu merendahkan diri di hadapan Allah.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa taubat yang sah adalah taubat yang disertai penyesalan, meninggalkan perbuatan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Istighfar yang hanya di lisan tanpa perubahan hati tidak cukup.
- As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang, sehingga hamba tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Istighfar adalah pintu harapan bagi setiap hamba.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya menjelaskan bahwa istighfar memiliki banyak manfaat, di antaranya menghapus dosa, melapangkan rezeki, menghilangkan kesedihan, dan mendatangkan ketenangan hati.
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dalam daftar bahwa istighfar adalah amalan yang sangat dianjurkan dan memiliki banyak keutamaan. Yang perlu diperhatikan adalah istighfar harus disertai kesungguhan hati dan usaha meninggalkan dosa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau menghitung ucapan istighfar Nabi ﷺ dalam satu majelis sampai seratus kali. Ini menunjukkan betapa beliau memperhatikan setiap gerak dan ucapan Nabi ﷺ untuk diamalkan.
Suatu ketika, seorang sahabat bertanya tentang amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Nabi ﷺ mengajarkan agar memperbanyak istighfar, karena istighfar adalah kunci ampunan dan pintu rahmat. Para salafus shalih, seperti Al-Hasan al-Bashri, juga dikenal sangat sering beristighfar. Beliau berkata bahwa istighfar adalah makanan hati dan obat dari segala kesedihan. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan istighfar, sekecil apa pun ucapan itu, karena di sisi Allah ia memiliki nilai yang besar.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan membaca "Rabbighfirli wa tub 'alayya innaka Antat-Tawwabur-Rahim" setiap hari, terutama di waktu luang dan setelah shalat.
- Jangan merasa cukup dengan amal yang sudah ada; teruslah beristighfar dan memohon ampun kepada Allah.
- Sertakan penyesalan dan tekad meninggalkan dosa dalam istighfar, bukan hanya ucapan lisan.
- Ajarkan istighfar kepada keluarga dan anak-anak agar menjadi kebiasaan baik.
- Yakinlah bahwa Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang, sehingga tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.