Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3789 tentang Keutamaan surat Al-Ikhlas setara sepertiga Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar Surah Al-Ikhlas, yaitu bahwa pahalanya setara dengan sepertiga Al-Qur'an. Ini bukan berarti cukup menggantikan seluruh Al-Qur'an, melainkan menunjukkan betapa agungnya kandungan tauhid di dalamnya. Para ulama menjelaskan bahwa Al-Qur'an terbagi menjadi tiga pokok: tauhid, hukum, dan berita; dan Surah Al-Ikhlas merangkum pokok tauhid secara sempurna.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Pahala Al-Qur'an, dari jalur Abu Mas'ud Al-Anshari (radhiyallahu 'anhu). Sanadnya: Ali bin Muhammad → Waki' bin al-Jarrah → Sufyan (ats-Tsauri) → Abu Qais al-Audi → Amr bin Maimun → Abu Mas'ud Al-Anshari.

Hadits semakna juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri (radhiyallahu 'anhu), bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Surah Al-Ikhlas:

Arab (berharakat):

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

Terjemahan: "Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa — (surah ini) setara dengan sepertiga Al-Qur'an."

Ayat yang menjadi inti surah ini, QS. Al-Ikhlas [112]: 1–2:

Arab (berharakat):

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ

Terjemahan: "Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah Yang menjadi tumpuan segala sesuatu."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berselisih mengapa disebut sepertiga Al-Qur'an, dan pendapat terkuat: karena Al-Qur'an mengandung tiga makna pokok — tauhid, hukum (ahkam), dan kisah/berita — dan Surah Al-Ikhlas murni berisi tauhid.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil penjelasan ini dan menguatkannya, serta menyebut bahwa pahala membacanya dilipatgandakan sebagaimana sepertiga Al-Qur'an dalam hal pahala, bukan dalam hal mencukupi bacaan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits. Nabi ﷺ menyatakan bahwa Surah Al-Ikhlas "تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ" — setara dengan sepertiga Al-Qur'an. Kata "تَعْدِلُ" berarti menyamai atau sebanding dalam pahala dan keutamaan, bukan berarti menggantikan atau mencukupi sebagai pengganti sepertiga bacaan Al-Qur'an secara harfiah.

Mengapa sepertiga? Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Al-Qur'an secara garis besar mencakup tiga tema besar:

  1. Tauhid — mengenal Allah, nama, sifat, dan keesaan-Nya.
  2. Ahkam — hukum halal-haram, ibadah, muamalah.
  3. Akhbar — berita tentang umat terdahulu, hari akhir, janji dan ancaman.

Surah Al-Ikhlas seluruhnya berbicara tentang tauhid, sehingga nilainya sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an dari sisi kandungan dan pahala.

Penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa Surah Al-Ikhlas berisi penetapan keesaan Allah, kesempurnaan sifat-Nya, dan penafian segala sekutu — inti seluruh dakwah para nabi.

Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menyebut bahwa Surah Al-Ikhlas adalah asas tauhid, dan karena itu pahalanya sangat besar. Beliau juga menegaskan bahwa keutamaan ini tidak berarti seseorang boleh meninggalkan bacaan Al-Qur'an yang lain.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa surah ini mengandung pengenalan terhadap Allah yang paling murni, sehingga menjadi timbangan tauhid seorang hamba.

Catatan penting. Hadits ini tidak berarti bahwa membaca Surah Al-Ikhlas satu kali sama dengan membaca sepertiga Al-Qur'an secara huruf demi huruf, melainkan keutamaannya dalam pahala dan kandungan. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif mengingatkan bahwa keutamaan-keutamaan seperti ini mendorong semangat beribadah, bukan alasan meninggalkan kewajiban membaca Al-Qur'an.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat biasa mengimami shalat dan selalu mengakhiri bacaannya dengan قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ. Ketika hal itu ditanyakan, ia berkata: "Aku mencintainya karena ia menyebut sifat-sifat Allah." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Cintamu kepadanya akan memasukkanmu ke dalam surga." (Diriwayatkan Al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu).

Hikmahnya: kecintaan kepada tauhid dan kepada surah yang merangkumnya adalah tanda kecintaan kepada Allah, dan itu membawa kepada surga.

Kesimpulan Praktis

  1. Rutinkan membaca Surah Al-Ikhlas dalam dzikir harian, terutama pagi, petang, dan sebelum tidur — karena pahalanya besar dan kandungannya agung.
  2. Pahami maknanya, bukan hanya melafalkan. Renungkan makna "أَحَدٌ" dan "الصَّمَدُ" agar tauhid tertanam dalam hati.
  3. Jangan tinggalkan Al-Qur'an secara keseluruhan hanya karena keutamaan surah ini. Keutamaan ini adalah pendorong, bukan pengganti.
  4. Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak sebagai dasar aqidah tauhid.
  5. Jauhi ghuluw (berlebihan) dalam memahami keutamaan, dan jauhi pula meremehkan. Ambil jalan tengah sebagaimana dijelaskan para ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?