Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3746 tentang Orang yang dimintai pendapat adalah orang yang dipercaya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan sebuah adab yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat: menjaga rahasia orang yang meminta nasihat. Ketika seseorang datang kepada kita untuk berkonsultasi, maka kita telah dipercaya untuk menyimpan pembicaraan itu dan memberikan nasihat yang terbaik, bukan malah menyebarkannya kepada orang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab "Yang Dapat Diberi Kepercayaan Dalam Konsultasi", nomor 3746, dari sahabat Abu Mas'ud Uqbah bin Amr Al-Anshari radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ، عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ "

Makna Hadits: "Orang yang dimintai pendapat adalah orang yang dipercayakan."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan lafaz yang semakna. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih." Adapun Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Sunan Ibni Majah dan Shahih Sunan Abi Dawud.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang sifat orang-orang mukmin yang menjaga amanah:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya..." (QS. An-Nisa' [4]: 58)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua pelajaran besar:

1. Kedudukan Orang yang Dimintai Nasihat

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ketika seseorang datang meminta pendapat, maka ia telah menyerahkan urusannya dan mempercayakan rahasianya. Oleh karena itu, orang yang dimintai nasihat wajib menjaga amanah tersebut. Ia tidak boleh membuka aib atau rahasia orang itu kepada orang lain, karena hal itu termasuk mengkhianati kepercayaan.

2. Kewajiban Memberi Nasihat yang Tulus

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa memberi nasihat yang jujur dan ikhlas adalah bagian dari agama. Orang yang dimintai pendapat hendaknya memberikan nasihat sebagaimana ia ingin dinasihati jika berada di posisi yang sama. Ia tidak boleh menjerumuskan atau memberikan saran yang merugikan.

3. Larangan Menyebarkan Rahasia

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa majelis konsultasi pada dasarnya adalah majelis amanah. Apa yang dibicarakan di dalamnya tidak boleh disebarluaskan, kecuali jika ada maslahat yang lebih besar seperti mencegah kemudharatan.

4. Pengecualian dalam Hal Maksiat

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menegaskan bahwa jika seseorang meminta pendapat untuk melakukan kemaksiatan, maka tidak ada amanah untuk merahasiakannya. Justru kita wajib mengingkari dan melarangnya, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam I'lamul Muwaqqi'in menegaskan bahwa nasihat yang baik adalah yang sejalan dengan syariat, bukan sekadar menyenangkan hati orang.

5. Adab dalam Memberi Nasihat

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah mengingatkan bahwa dalam memberi nasihat hendaknya menggunakan cara yang lembut, tidak memojokkan, dan tidak merendahkan orang yang bertanya. Tujuannya adalah kebaikan, bukan mencari pujian atau menunjukkan kelebihan diri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah — seorang ulama tabi'in yang terkenal zuhud dan bijaksana — sering didatangi orang untuk meminta nasihat. Beliau tidak pernah membuka aib mereka dan tidak pernah menyebutkan nama-nama orang yang bertanya kepadanya di majelis-majelis lain. Beliau memahami bahwa orang yang datang berkonsultasi adalah orang yang sedang butuh pertolongan, dan menyebarkan rahasianya sama dengan menambah lukanya.

Suatu ketika ada seorang lelaki datang mengeluhkan tentang istrinya. Al-Hasan mendengarkan dengan sabar, lalu menasihatinya dengan perkataan yang lembut dan bijak. Lelaki itu pulang dengan hati tenang. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dikeluhkan lelaki itu, karena Al-Hasan menutupinya dengan amanah. Inilah akhlak para salaf yang menjadi teladan bagi kita.

Kesimpulan Praktis

Beberapa hal yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Jaga rahasia orang yang meminta nasihat kepada kita, sebagaimana kita ingin rahasia kita dijaga.
  2. Berikan nasihat yang jujur dan tulus, bukan yang sekadar menyenangkan hati.
  3. Jangan menyebarkan pembicaraan konsultasi kepada orang lain, karena itu adalah amanah.
  4. Jika dimintai pendapat dalam hal maksiat, tolak dengan bijak dan ingatkan dengan cara yang baik.
  5. Gunakan cara yang lembut dalam memberi nasihat, karena tujuan kita adalah kebaikan, bukan mencari pujian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?