Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini melarang kita mencela atau mengumpat angin. Angin adalah makhluk Allah yang tunduk pada perintah-Nya. Ia bisa menjadi pembawa rahmat (seperti hujan dan penyerbukan) dan bisa juga menjadi pembawa azab (seperti angin topan). Sikap yang benar adalah meminta kebaikan dari angin kepada Allah dan berlindung kepada Allah dari keburukan yang mungkin ditimbulkannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Larangan Mencela Angin, nomor 3727, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam An-Nasa'i.
Teks Arab Hadits (dengan harakat):
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الزُّرَقِيُّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ فَإِنَّهَا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ تَأْتِي بِالرَّحْمَةِ وَالْعَذَابِ وَلَكِنْ سَلُوا اللَّهَ مِنْ خَيْرِهَا وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا "
Terjemahan: Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mencela angin, karena sesungguhnya angin itu berasal dari rahmat Allah (sebagian dari hembusan rahmat-Nya), ia datang membawa rahmat dan azab. Akan tetapi, mintalah kepada Allah kebaikannya dan berlindunglah kepada Allah dari keburukannya."
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang mati (kering), lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, kemudian Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf [7]: 57)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa larangan mencela angin ini adalah larangan yang tegas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa mencela makhluk yang tunduk kepada Allah pada hakikatnya adalah mencela Penciptanya. Angin tidak memiliki kehendak sendiri; ia berhembus sesuai perintah Allah. Jika angin bertiup kencang dan menyebabkan kerusakan, itu adalah takdir Allah yang penuh hikmah, bukan kesalahan angin itu sendiri.
Imam Al-Khathabi (dari kalangan ulama yang sejalan dengan pemahaman para ulama di atas) menjelaskan makna " مِنْ رَوْحِ اللهِ " (dari rahmat Allah) bahwa angin adalah salah satu bentuk rahmat Allah yang dihembuskan kepada hamba-hamba-Nya. Ia membawa awan, menurunkan hujan, dan menyuburkan tanah. Namun, angin yang sama juga bisa menjadi azab jika Allah menghendakinya, seperti yang terjadi pada kaum 'Ad yang dihancurkan dengan angin yang sangat dingin dan kencang.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa angin adalah salah satu bukti kekuasaan Allah. Ada angin yang membawa rahmat (seperti angin yang membawa awan hujan) dan ada angin yang membawa azab (seperti angin topan). Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh menyalahkan angin, tetapi harus menyadari bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (saat membahas hadits serupa) menegaskan bahwa adab seorang muslim adalah tidak mencela segala sesuatu yang tidak memiliki perbuatan. Mencela angin, hujan, atau makhluk lainnya adalah bentuk kelalaian adab kepada Allah. Yang benar adalah berdoa memohon kebaikan dan berlindung dari keburukan.
Perbedaan pendapat yang perlu diketahui:
Sebagian ulama membolehkan mengeluh tentang cuaca panas atau dingin sebagai informasi, selama tidak disertai celaan kepada Allah atau makhluk-Nya. Namun, larangan dalam hadits ini bersifat umum: jangan mencela angin secara langsung. Maka, kita harus berhati-hati dalam lisan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi angin kencang di masa Nabi ﷺ, beliau khawatir dan berdoa. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Apabila Rasulullah ﷺ melihat awan mendung di ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya (shalat, dll), lalu berdoa: 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang Engkau kirimkan.' Jika hujan turun, beliau bergembira dan bersyukur." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Kisah ini menunjukkan bahwa sikap Nabi ﷺ terhadap fenomena alam adalah kembali kepada Allah, bukan mencela atau mengumpat. Beliau mengajarkan kita untuk selalu berpasrah dan memohon perlindungan kepada Allah dalam segala keadaan.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mencela angin atau makhluk Allah lainnya, karena itu adalah bentuk tidak sopan kepada Allah.
- Sikap yang benar saat angin bertiup kencang atau cuaca buruk adalah berdoa memohon kebaikan dan berlindung dari keburukan.
- Sadari bahwa angin adalah makhluk yang tunduk pada perintah Allah; ia tidak bisa disalahkan.
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti:
"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira ma fiha wa khaira ma ursilat bihi, wa a'udzu bika min sharriha wa sharri ma fiha wa sharri ma ursilat bihi."
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada padanya, dan keburukan yang dibawanya.)
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.