Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita bahwa mempelajari ilmu perbintangan (nujum) secara berlebihan—yaitu untuk meramal nasib, menentukan baik-buruk, atau mengaitkan kejadian di bumi dengan gerak bintang—adalah perbuatan yang tercela dan termasuk bagian dari sihir. Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua ilmu tentang bintang itu dilarang. Mempelajari bintang untuk keperluan ibadah seperti menentukan arah kiblat, waktu salat, atau penanda musim adalah hal yang diperbolehkan bahkan bermanfaat. Larangan dalam hadits ini tertuju pada at-tanjim (astrologi/ramalan bintang) yang mengklaim mengetahui hal gaib.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Belajar tentang Bintang, nomor 3726. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الأَخْنَسِ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ"
Terjemahan: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Siapa yang mempelajari suatu ilmu dari perbintangan, maka ia telah mempelajari suatu cabang dari sihir. Semakin bertambah (ilmu yang ia pelajari), semakin bertambah pula (bagian sihir yang ia dapatkan).'"
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ * وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ
"Lalu Aku bersumpah dengan tempat-tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui."
(QS. Al-Waqi'ah [56]: 75-76)
Ayat ini menunjukkan bahwa bintang adalah makhluk Allah yang agung dan menjadi tanda kekuasaan-Nya, bukan untuk dijadikan media ramalan.
Kaitan dengan Ulama:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa ilmu nujum terbagi menjadi dua: at-ta'sir (pengaruh bintang terhadap kejadian bumi) yang merupakan sihir dan terlarang, dan at-tasyir (menjadikan bintang sebagai petunjuk arah dan waktu) yang diperbolehkan.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa hadits ini mengandung peringatan keras terhadap ilmu perbintangan yang bersifat ramalan. Mari kita bedah maknanya:
Pertama: Makna "Ilmu dari Perbintangan" dalam Hadits
Imam Al-Khathabi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits ini adalah ilmu yang digunakan untuk menetapkan hukum-hukum berdasarkan gerak bintang, seperti klaim bahwa seseorang akan bahagia atau sengsara, atau bahwa suatu kejadian akan terjadi berdasarkan posisi bintang tertentu. Ini adalah bentuk at-tanjim (astrologi) yang diharamkan.
Kedua: Mengapa Disebut Bagian dari Sihir?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa astrologi termasuk jenis sihir karena melibatkan keyakinan bahwa bintang-bintang memiliki pengaruh terhadap kejadian di bumi secara langsung, dan ini adalah bentuk kesyirikan. Orang yang mempelajarinya berarti telah menyeret dirinya pada keyakinan yang merusak tauhid, karena ia mengklaim mengetahui hal gaib yang hanya Allah yang mengetahuinya.
Ketiga: Pengecualian yang Diperbolehkan
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua ilmu bintang tercela. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Miftah Dar as-Sa'adah membedakan antara:
- Ilmu bintang yang bermanfaat: seperti mengetahui arah kiblat, waktu salat, penentuan awal bulan (kalender Hijriyah), dan navigasi perjalanan. Ini diperbolehkan karena Allah menjadikan bintang sebagai petunjuk bagi manusia di darat dan di laut.
- Ilmu bintang yang tercela: yaitu mengaitkan kejadian di bumi dengan pergerakan bintang untuk meramal nasib atau kejadian masa depan. Ini adalah yang dimaksud dalam hadits.
Keempat: Hikmah Larangan Ini
Imam As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan melindungi akidah umat Islam dari keyakinan yang rusak. Seorang mukmin seharusnya menggantungkan segala urusannya kepada Allah semata, bukan kepada bintang atau benda langit lainnya. Mempelajari astrologi akan menyeret pelakunya pada ketergantungan hati kepada selain Allah, dan ini bertentangan dengan esensi tauhid.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat berhati-hati dalam masalah ini. Suatu ketika, seorang laki-laki bertanya kepada Imam Sa'id bin al-Musayyib—salah seorang ulama tabi'in yang paling utama—tentang ilmu perbintangan. Maka beliau menjawab dengan tegas: "Ilmu perbintangan adalah ilmu yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah kepada seorang nabi pun, dan tidak pernah diajarkan kepada seorang wali pun. Ilmu itu hanyalah tipuan setan yang disebarkan kepada manusia."
Beliau kemudian mengingatkan bahwa manusia diciptakan untuk mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya, bukan untuk sibuk mempelajari hal-hal yang justru menjauhkan dari tujuan penciptaan tersebut. Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita harus menjaga waktu dan tenaga kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi agama dan dunia kita, serta menjauhi segala bentuk ilmu yang dapat merusak akidah.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi astrologi dan ramalan bintang dalam bentuk apa pun, baik yang ada di media sosial, majalah, atau aplikasi. Ini termasuk perbuatan yang dilarang dalam hadits.
- Pelajari ilmu bintang yang bermanfaat seperti menentukan arah kiblat, waktu salat, dan navigasi. Ini diperbolehkan dan bermanfaat.
- Perkuat tauhid dengan meyakini bahwa hanya Allah yang mengetahui hal gaib. Tidak ada bintang, planet, atau benda langit lain yang dapat memengaruhi nasib seseorang.
- Jika menemui pertanyaan tentang ramalan, jelaskan dengan bijak bahwa seorang muslim tidak perlu khawatir dengan ramalan karena segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah dengan sebaik-baiknya takdir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.