Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3723 tentang Larangan tidur tengkurap karena dibenci Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan larangan tidur dengan posisi tengkurap (menelungkupkan wajah ke bawah). Posisi ini adalah kebiasaan tidur yang dibenci oleh Allah ﷻ karena bertentangan dengan fitrah yang mulia dan dapat membahayakan kesehatan. Nabi ﷺ menegur sahabat yang tidur demikian dengan cara yang lembut namun tegas, bahkan beliau menendangnya dengan kaki sebagai bentuk pengajaran agar sahabat tersebut segera mengubah posisinya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 3723:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ طِخْفَةَ الْغِفَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَصَابَنِي رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ نَائِمًا فِي الْمَسْجِدِ عَلَى بَطْنِي فَرَكَضَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ: "مَا لَكَ وَلِهَذَا النَّوْمِ؟ هَذِهِ نَوْمَةٌ يَكْرَهُهَا اللَّهُ أَوْ يُبْغِضُهَا اللَّهُ"

Terjemahan: Dari Qais bin Tihfah Al-Ghifari, dari ayahnya, ia berkata: "Rasulullah ﷺ mendapati aku tidur di masjid dalam keadaan tengkurap. Beliau menendangku dengan kakinya dan bersabda: 'Mengapa kamu tidur seperti ini? Ini adalah tidur yang dibenci Allah atau yang dimurkai Allah.'"

Hadits pendukung dari Shahih Al-Bukhari:

Teks Arab:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: رَأَى النَّبِيُّ ﷺ رَجُلًا نَائِمًا عَلَى بَطْنِهِ فَقَالَ: "إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ"

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Nabi ﷺ melihat seorang laki-laki tidur tengkurap, maka beliau bersabda: 'Sesungguhnya ini adalah cara berbaring yang dibenci Allah.'" (HR. Al-Bukhari no. 6208)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Al-Bukhari memuat hadits ini dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Adab, menunjukkan pentingnya adab tidur dalam Islam.
  • Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa petunjuk Nabi ﷺ dalam tidur adalah berbaring di atas sisi kanan menghadap kiblat, dan beliau membenci tidur tengkurap karena termasuk perbuatan setan.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa larangan ini bersifat makruh (dibenci), bukan haram, karena tidak ada dalil yang menunjukkan keharamannya secara tegas.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa hikmah di balik larangan tidur tengkurap:

1. Posisi tidur yang dibenci Allah

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa di antara petunjuk Nabi ﷺ dalam tidur adalah berbaring di atas sisi kanan dengan menghadap kiblat. Beliau membenci tidur tengkurap karena posisi ini adalah cara tidur penghuni neraka. Beliau juga menyebutkan bahwa setan tidur dalam keadaan tengkurap.

2. Hikmah kesehatan

Para ulama kontemporer dari kalangan yang disebutkan, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, menjelaskan bahwa tidur tengkurap dapat menekan organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru, sehingga mengganggu pernapasan dan sirkulasi darah. Ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menjaga kesehatan tubuh sebagai amanah dari Allah.

3. Hukumnya: Makruh, bukan Haram

Mayoritas ulama dari kalangan yang disebutkan—seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam an-Nawawi, dan Ibnu Hajar al-Asqalani—berpendapat bahwa tidur tengkurap hukumnya makruh (dibenci), bukan haram. Alasannya:

  • Tidak ada dalil tegas yang menunjukkan keharaman
  • Nabi ﷺ menegur dengan cara yang menunjukkan ketidaksukaan, bukan ancaman keras
  • Para sahabat tetap tidur dalam berbagai posisi, namun yang terbaik adalah mengikuti sunnah

4. Posisi tidur yang disunnahkan

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tidur yang paling baik menurut petunjuk Nabi ﷺ adalah:

  • Berbaring di atas sisi kanan menghadap kiblat
  • Meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan
  • Berwudhu sebelum tidur
  • Membaca doa dan dzikir sebelum tidur

5. Pengecualian karena kondisi darurat

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa jika seseorang tidur tengkurap karena kondisi tertentu—misalnya karena sakit atau tidak ada pilihan lain—maka tidak mengapa. Larangan ini bersifat adab dan kesunnahan, bukan larangan yang bersifat mutlak.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Thikhfah Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu—ayah dari Qais—suatu ketika tertidur di masjid Nabawi dalam keadaan tengkurap. Beliau adalah seorang yang sederhana dan baru mengenal Islam.

Saat itu, Rasulullah ﷺ melewatinya dan melihat posisi tidurnya yang tidak baik. Dengan penuh kelembutan, beliau menendangnya pelan dengan kaki mulia beliau—bukan untuk menyakiti, tetapi untuk membangunkannya dan mengajarkan adab. Kemudian beliau bersabda dengan nada bertanya yang mengandung teguran: "Mengapa kamu tidur seperti ini? Ini adalah tidur yang dibenci Allah."

Sahabat ini langsung bangun dan memperbaiki posisi tidurnya. Ia tidak merasa tersinggung, justru bersyukur karena mendapatkan pengajaran langsung dari Rasulullah ﷺ. Peristiwa ini ia sampaikan kepada anaknya, Qais, yang kemudian meriwayatkannya kepada generasi berikutnya.

Hikmah: Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya dengan cara yang bijaksana—menegur kesalahan secara langsung namun tetap menjaga perasaan. Beliau tidak membiarkan kesalahan kecil berlalu tanpa perbaikan, karena adab tidur pun diperhatikan dalam Islam.

Kesimpulan Praktis

  1. Hindari tidur tengkurap karena posisi ini dibenci Allah ﷻ dan bertentangan dengan sunnah Nabi ﷺ.
  2. Biasakan tidur di atas sisi kanan menghadap kiblat, sebagaimana petunjuk Nabi ﷺ.
  3. Hukumnya makruh, bukan haram—namun seorang muslim yang mencintai sunnah akan berusaha meninggalkannya.
  4. Jika dalam keadaan darurat (sakit, tidak ada pilihan), maka tidak mengapa tidur dalam posisi apa pun.
  5. Ajarkan adab ini kepada keluarga dan anak-anak dengan cara yang lembut, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kepada para sahabatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.