Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3699 tentang Larangan memulai salam kepada non-Muslim

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab penting dalam berinteraksi dengan non-Muslim, khususnya Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Kita dilarang memulai mengucapkan salam (assalamu'alaikum) kepada mereka. Namun, jika mereka yang memulai memberi salam, maka kita diperbolehkan menjawabnya dengan ucapan "wa 'alaikum" (dan atas kalian juga), sebagai bentuk keadilan dan tidak berlebihan dalam menjawab.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim (tanpa lafazh "besok"):

Teks Arab hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

<p>لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلَامِ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُمْ إِلَى أَضْيَقِهِ</p>

Artinya: "Janganlah kalian memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah mereka ke jalan yang paling sempit." (HR. Muslim no. 2167)

Hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu:

Rasulullah ﷺ bersabda:

<p>إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا: وَعَلَيْكُمْ</p>

Artinya: "Apabila Ahlul Kitab memberi salam kepada kalian, maka jawablah: 'wa 'alaikum' (dan atas kalian juga)." (HR. Bukhari no. 6258, Muslim no. 2163)

Dalil Al-Qur'an tentang keadilan dalam menjawab salam:

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. An-Nisa' [4]: 86:

<p>وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا</p>

Artinya: "Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu."

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan memulai salam kepada Ahlul Kitab adalah larangan yang tegas (tahrim) menurut jumhur ulama, dan jawaban yang diajarkan hanyalah "wa 'alaikum" saja, tidak menambah dengan "warahmatullah" karena dikhawatirkan mengandung doa kebaikan yang berlebihan bagi mereka.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in memahami hadits ini sebagai berikut:

  1. Larangan memulai salam kepada Ahlul Kitab – Ini adalah larangan yang bersifat tegas. Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama berpendapat bahwa memulai salam kepada non-Muslim hukumnya haram. Hal ini karena salam adalah doa keselamatan dan penghormatan yang khusus untuk kaum mukminin. Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin juga menegaskan larangan ini dalam praktik keseharian mereka.
  2. Cara menjawab salam mereka – Jika mereka mengucapkan "assalamu'alaikum" dengan jelas, maka kita menjawab "wa 'alaikum" saja. Namun jika mereka mengucapkan dengan lafazh yang samar atau menyingkat seperti "assamu 'alaikum" (kebinasaan atas kalian), maka kita cukup menjawab "wa 'alaikum" sebagai balasan yang setimpal. Imam Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahl adz-Dzimmah menjelaskan bahwa jawaban ini adalah bentuk keadilan dan tidak berlebihan.
  3. Hikmah larangan ini – Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan untuk menjaga kemuliaan dan kehormatan umat Islam, serta menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mulia. Memulai salam kepada mereka bisa menimbulkan kesan bahwa kita menghormati mereka secara berlebihan, padahal mereka tidak memiliki kedudukan yang sama dengan kaum muslimin dalam hal penghormatan.
  4. Pengecualian untuk kebutuhan – Para ulama membolehkan mengucapkan salam kepada non-Muslim jika ada kebutuhan, seperti untuk tujuan dakwah atau menghindari bahaya. Namun ini adalah pengecualian, bukan kebiasaan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa jika ada maslahat dakwah yang lebih besar, maka diperbolehkan dengan tetap menjaga adab.
  5. Sikap adil dalam muamalah – Larangan memulai salam ini tidak berarti kita boleh berlaku kasar atau tidak adil kepada non-Muslim. Kita tetap diperintahkan untuk berbuat baik dan adil kepada mereka selama mereka tidak memerangi kita. Yang dilarang hanyalah memulai salam sebagai bentuk penghormatan khusus.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang bagaimana menjawab salam Ahlul Kitab. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Mereka mengucapkan 'assamu 'alaikum' (kebinasaan atas kalian), maka jawablah 'wa 'alaikum' (dan atas kalian juga)." (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha)

Kisah ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi pada zaman Nabi ﷺ sering memutarbalikkan lafazh salam. Mereka mengucapkan "assamu 'alaikum" yang berarti "kebinasaan atas kalian" dengan maksud mendoakan keburukan. Maka Nabi ﷺ mengajarkan untuk menjawab dengan doa yang setimpal, yaitu "wa 'alaikum" yang artinya "dan atas kalian juga" – artinya kebinasaan itu kembali kepada mereka.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa jawaban ini adalah bentuk keadilan yang diajarkan Islam. Kita tidak berlebihan dalam mendoakan mereka, namun juga tidak tinggal diam terhadap keburukan yang mereka ucapkan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan memulai salam kepada non-Muslim (Yahudi, Nasrani, dan selainnya) karena ini adalah larangan syariat yang tegas.
  2. Jika mereka memberi salam, jawablah dengan "wa 'alaikum" saja, tidak menambah dengan "warahmatullahi wabarakatuh".
  3. Tetap berlaku adil dan baik dalam muamalah sehari-hari dengan non-Muslim, karena larangan ini hanya khusus untuk lafazh salam, bukan untuk seluruh bentuk interaksi.
  4. Gunakan hikmah dalam berdakwah – jika ada kebutuhan dakwah yang lebih besar, para ulama membolehkan memulai salam dengan tetap menjaga adab.
  5. Jadikan ini sebagai identitas – umat Islam memiliki ciri khas dalam salamnya, dan ini adalah bagian dari kemuliaan syariat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.