Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab dalam menjawab salam orang non-Muslim (ahli dzimmah) yang datang dengan ucapan buruk. Nabi ﷺ tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi menjawab dengan jawaban yang adil dan tidak melampaui batas, yaitu "wa 'alaykum" (dan atas kalian). Ini menunjukkan akhlak mulia Nabi ﷺ dan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam berinteraksi dengan non-Muslim.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, dalam Sunan Ibnu Majah no. 3698, Kitab Adab, Bab Mengucapkan Salam kepada Ahli Dzimmah:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ مُسْلِمٍ، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ ﷺ نَاسٌ مِنَ الْيَهُودِ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ . فَقَالَ " وَعَلَيْكُمْ "
Terjemahan: "Dari Aisyah, bahwa ada beberapa orang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: 'As-Sāmu 'alaika (kematian atasmu), wahai Abul-Qasim!' Beliau menjawab: 'Wa 'alaykum (dan atas kalian juga).'"
Hadits pendukung — dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim:
إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ
Terjemahan: "Jika ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka ucapkanlah: 'Wa 'alaykum' (dan atas kalian)."
Ayat Al-Qur'an yang relevan — QS. An-Nisa' [4]: 86:
وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
Terjemahan: "Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa menjawab salam ahli kitab dengan "wa 'alaykum" adalah ijma' (kesepakatan) ulama. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa larangan memulai salam kepada non-Muslim dan cara menjawabnya adalah pendapat yang kuat berdasarkan hadits-hadits shahih. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang tidak mengandung doa kebaikan bagi mereka, tetapi juga tidak menzalimi.
Penjelasan Rinci
Makna hadits: Orang-orang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ dan mengucapkan "As-Sāmu 'alaika" — mereka memutar lidah dari "as-salāmu" (keselamatan) menjadi "as-sāmu" (kematian/racun). Ini adalah bentuk penghinaan terselubung. Nabi ﷺ memahami maksud mereka, namun beliau tidak membalas dengan keburukan serupa. Beliau hanya menjawab "wa 'alaykum" — yaitu "dan atas kalian juga" — tanpa menambahkan doa kebaikan.
Pemahaman ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan: "Para ulama sepakat bahwa memulai salam kepada ahli kitab tidak boleh, dan jika mereka memulai, kita jawab dengan 'wa 'alaykum'." Beliau juga menjelaskan bahwa jawaban ini bukan doa kematian, tetapi sekadar membalas ucapan mereka dengan ucapan yang setara, tanpa mendoakan kebaikan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan memulai salam kepada non-Muslim, dan jika mereka mengucapkan salam, kita jawab dengan "wa 'alaykum" saja. Beliau menukil pendapat Imam Malik, asy-Syafi'i, dan Ahmad bin Hanbal yang semuanya sepakat tentang hal ini.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menerangkan hikmah di balik jawaban Nabi ﷺ: "Beliau menjawab dengan jawaban yang adil, tidak menambah kebaikan bagi mereka, tetapi juga tidak menzalimi mereka. Ini adalah bentuk keadilan dan akhlak mulia."
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan tentang QS. An-Nisa' [4]: 86 bahwa perintah membalas penghormatan dengan yang lebih baik atau yang serupa berlaku umum, namun khusus untuk non-Muslim yang mengucapkan salam dengan niat buruk, jawabannya adalah "wa 'alaykum" sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan: "Tidak boleh memulai salam kepada non-Muslim, tetapi jika mereka memulai, kita jawab dengan 'wa 'alaykum'. Ini adalah bentuk keadilan, bukan doa kebaikan bagi mereka."
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama dari daftar seperti Imam Ahmad bin Hanbal dalam satu riwayat membolehkan menjawab dengan "wa 'alaykum as-salām" jika dikhawatirkan terjadi fitnah atau untuk menjaga hubungan baik. Namun pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah cukup dengan "wa 'alaykum" sebagaimana hadits shahih dari Aisyah dan Anas radhiyallahu 'anhuma.
Story Telling
Dikisahkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha — sebagaimana dalam hadits ini — bahwa suatu ketika beberapa orang Yahudi datang menemui Nabi ﷺ. Mereka mengucapkan "As-Sāmu 'alaika" (kematian atasmu) dengan memutar lidah mereka. Aisyah yang mendengar ucapan itu langsung memahami maksud buruk mereka dan berkata: "Wa 'alaikum as-sāmu wa al-la'nah" (dan atas kalian kematian dan laknat). Namun Nabi ﷺ dengan tenang menegur: "Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam segala hal." Beliau kemudian mengajarkan: "Jika mereka mengucapkan salam, jawablah dengan 'wa 'alaykum'."
Dalam riwayat lain dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda: "Jika ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka ucapkanlah: 'Wa 'alaykum'." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ mengajarkan bahwa seorang Muslim harus menjaga adab dan akhlak mulia, bahkan ketika dihadapkan pada penghinaan. Beliau tidak membalas dengan keburukan, tetapi menjawab dengan adil dan tidak melampaui batas. Ini adalah pelajaran berharga tentang pengendalian diri dan kelembutan.
Kesimpulan Praktis
- Tidak memulai salam kepada non-Muslim — berdasarkan hadits shahih, kita tidak diperbolehkan memulai ucapan salam kepada ahli kitab atau non-Muslim lainnya.
- Menjawab salam non-Muslim dengan "wa 'alaykum" — jika mereka mengucapkan salam, kita jawab dengan "wa 'alaykum" saja, tanpa menambahkan doa kebaikan.
- Menjaga akhlak mulia — Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi menjawab dengan adil dan penuh kelembutan.
- Memahami konteks — jika ada kebutuhan dakwah atau menjaga hubungan baik, sebagian ulama membolehkan menjawab dengan lebih baik, namun pendapat yang paling kuat adalah cukup dengan "wa 'alaykum".
- Meneladani Nabi ﷺ — dalam menghadapi penghinaan, kita harus menahan diri, tidak emosional, dan menjawab dengan cara yang diajarkan syariat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.