Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3666 tentang Anak-anak dapat membuat orang tua kikir dan pengecut

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ kepada cucu-cucunya, Hasan dan Husain radhiyallahu 'anhuma. Sabda beliau "anak itu membuat kikir dan pengecut" bukanlah celaan terhadap anak, melainkan penjelasan tentang tabiat alamiah manusia: kecintaan kepada anak bisa membuat seseorang menahan hartanya (kikir) dan takut menghadapi bahaya (pengecut) demi melindungi anaknya. Ini adalah isyarat bahwa anak adalah ujian dan amanah yang besar, serta dorongan untuk berinfak dan berani di jalan Allah meskipun memiliki anak.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan) diriwayatkan dari Ya'la Al-Amir radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dari jalur yang serupa.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. Al-Anfal [8]: 28

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

"Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad meriwayatkan hadits serupa dengan sanad yang berbeda, menunjukkan perhatian ulama hadits terhadap bab ini.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna hadits ini ketika membahas bab tentang kasih sayang kepada anak, bahwa kata "مَبْخَلَةٌ" (pembuat kikir) dan "مَجْبَنَةٌ" (pembuat pengecut) adalah bentuk mubalaghah (penekanan) yang menunjukkan bahwa anak bisa menjadi sebab seseorang bersifat kikir dan pengecut.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits:

Nabi ﷺ memeluk kedua cucunya, Hasan dan Husain, dengan penuh kasih sayang. Kemudian beliau bersabda: "إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ" — "Sesungguhnya anak itu membuat kikir dan pengecut."

Penjelasan Ulama:

  1. Imam Al-Khathabi (dalam Ma'alim As-Sunan) menjelaskan bahwa maknanya adalah: seorang ayah menjadi kikir karena ingin menabung untuk anaknya, dan menjadi pengecut karena takut mati sehingga anaknya menjadi yatim. Ini adalah sifat alamiah yang Allah tetapkan pada jiwa manusia, bukan celaan.
  2. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud menjelaskan bahwa hadits ini mengandung isyarat bahwa anak adalah sebab seseorang enggan berinfak di jalan Allah dan takut menghadapi musuh. Namun, orang beriman harus melawan tabiat ini dengan keyakinan bahwa Allah-lah pemberi rezeki dan pelindung.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini tidak berarti kita boleh membenci anak, justru sebaliknya — Nabi ﷺ sendiri memeluk mereka dengan penuh cinta. Yang dimaksud adalah peringatan agar kecintaan kepada anak tidak membuat kita lalai dari ketaatan kepada Allah, seperti menahan zakat, sedekah, atau takut berjihad.

Penerapan Para Salaf:

  • Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Anak adalah buah hati, tetapi ia bisa menjadi sebab seseorang masuk neraka jika ia lebih mengutamakan anak daripada perintah Allah."
  • Sa'id bin Al-Musayyib rahimahullah dikenal sangat zuhud terhadap dunia, dan ketika ditanya tentang anaknya, beliau menjawab: "Anak adalah ujian. Jika aku taat kepada Allah dalam mendidiknya, ia menjadi simpanan pahala; jika aku lalai, ia menjadi musibah."

Perbedaan Pendapat Ulama:

Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di kalangan ulama tentang makna dasar hadits ini. Namun, ada dua penekanan:

  • Sebagian ulama (seperti Al-Khathabi) menekankan bahwa ini adalah kabar tentang tabiat manusia yang wajar.
  • Sebagian lain (seperti Ibnul Qayyim) menekankan aspek motivasi untuk melawan tabiat tersebut dengan tawakal dan keyakinan kepada Allah.

Kedua penekanan ini tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat mencintai anaknya, Abdullah. Suatu hari, Abdullah bertanya kepada ayahnya: "Wahai ayahku, mengapa engkau sangat menyayangiku?" Imam Ahmad menjawab: "Karena engkau adalah buah hatiku, tetapi aku tidak ingin kecintaanku kepadamu membuatku durhaka kepada Allah. Aku mencintaimu karena Allah, dan aku mendidikmu agar engkau menjadi penyejuk mataku di dunia dan akhirat."

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf memahami hadits ini dengan seimbang: cinta kepada anak adalah fitrah, tetapi harus dibingkai dengan ketaatan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Cintai anak-anak kita sebagaimana Nabi ﷺ mencintai Hasan dan Husain — dengan kasih sayang yang nyata dan penuh kelembutan.
  2. Jangan biarkan kecintaan kepada anak membuat kita kikir dalam berinfak di jalan Allah atau lalai dari kewajiban.
  3. Didik anak dengan baik karena mereka adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
  4. Tanamkan keberanian kepada anak dan diri sendiri untuk tetap taat kepada Allah meskipun ada rasa takut.
  5. Jadikan anak sebagai wasilah pahala, bukan penghalang ketaatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?