Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa kasih sayang dan kelembutan, termasuk mencium anak, adalah bagian dari sifat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ. Orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang kepada anaknya sendiri, berarti telah dicabut kebaikan (rahmat) dari hatinya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa menampakkan kasih sayang kepada anak adalah sunnah dan bukan sesuatu yang mengurangi kewibawaan seorang ayah atau ibu.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah sebagai berikut (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَدِمَ نَاسٌ مِنَ الأَعْرَابِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالُوا: أَتُقَبِّلُونَ صِبْيَانَكُمْ؟ قَالُوا: نَعَمْ. فَقَالُوا: لَكِنَّا وَاللَّهِ مَا نُقَبِّلُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: "وَأَمْلِكُ أَنْ كَانَ اللَّهُ قَدْ نَزَعَ مِنْكُمُ الرَّحْمَةَ"
Terjemahan: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: "Beberapa orang Badui datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya, 'Apakah kalian mencium anak-anak kalian?' Para sahabat menjawab, 'Ya.' Mereka berkata, 'Tetapi kami, demi Allah, tidak pernah mencium anak-anak kami.' Maka Nabi ﷺ bersabda, 'Apa yang bisa aku lakukan jika Allah telah mencabut kasih sayang dari hati kalian?'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5997) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2317) dari jalur yang sama, sehingga hadits ini shahih dan disepakati keshahihannya.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Dan orang-orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Furqan [25]: 74)
Ayat ini menunjukkan bahwa anak adalah sumber kebahagiaan dan penyejuk mata, yang tentunya berkaitan erat dengan rasa kasih sayang orang tua kepada mereka.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dalam beberapa poin penting:
1. Kasih Sayang adalah Karunia dari Allah
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa sifat kasih sayang adalah karunia yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Ketika seseorang tidak memiliki rasa sayang kepada anaknya sendiri, maka itu adalah tanda bahwa Allah telah mencabut kebaikan dari hatinya. Ini bukan pujian bagi mereka, melainkan celaan.
2. Mencium Anak adalah Perbuatan Terpuji
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya mencium anak sebagai bentuk kasih sayang. Ini adalah perbuatan para Nabi dan orang-orang shalih. Beliau juga menyebutkan bahwa mencium anak termasuk akhlak para nabi dan orang-orang yang bertakwa.
3. Celaan terhadap Kekerasan Hati
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "Apa yang bisa aku lakukan jika Allah telah mencabut kasih sayang dari kalian?" adalah bentuk teguran halus kepada orang-orang Badui tersebut. Mereka membanggakan diri dengan tidak mencium anak, padahal ini adalah kekurangan, bukan kelebihan.
4. Kisah yang Menguatkan
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 5997) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ mencium cucunya, Hasan bin Ali, di hadapan Al-Aqra' bin Habis. Maka Al-Aqra' berkata, "Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka." Maka Rasulullah ﷺ memandangnya dan bersabda: "Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa kasih sayang adalah sifat Allah yang Dia tanamkan di hati para hamba-Nya. Barangsiapa memiliki sifat ini, ia akan disayangi oleh Allah dan makhluk-Nya. Dan barangsiapa tidak memiliki sifat ini, maka ia telah kehilangan kebaikan yang besar.
Story Telling
Diriwayatkan dari Umar bin al-Khathab radhiyallahu 'anhu, suatu ketika beliau melihat seorang anak kecil dan langsung memangku serta menciumnya. Maka salah seorang sahabat berkata, "Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau mencium anak? Demi Allah, kami tidak pernah mencium anak-anak kami." Maka Umar berkata, "Sesungguhnya Allah tidak memberikan rahmat (kasih sayang) kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang penyayang." (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad)
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat yang paling utama, seperti Umar bin al-Khathab yang dikenal tegas, tetap menampakkan kasih sayang kepada anak-anak. Ketegasan dalam mendidik tidak berarti harus kaku dan tidak pernah menunjukkan kelembutan.
Kesimpulan Praktis
- Mencium dan memeluk anak adalah sunnah dan bentuk ibadah, bukan sekadar kebiasaan budaya.
- Kasih sayang adalah tanda keimanan dan rahmat dari Allah; barangsiapa tidak memilikinya, hendaknya berdoa agar Allah menanamkannya di hatinya.
- Jangan membanggakan diri dengan kekerasan hati atau menganggap kelembutan sebagai kelemahan.
- Seimbangkan antara kasih sayang dan ketegasan dalam mendidik anak, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ dan para sahabat.
- Perbanyak doa agar Allah memberikan kelembutan hati kepada kita, karena hati berada di tangan Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.