Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3634 tentang Ciri rambut Nabi keriting antara telinga dan bahu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan sifat fisik Nabi ﷺ: rambut beliau tidak lurus kaku, melainkan berombak/keriting ringan, dan panjangnya jatuh antara telinga dan bahu. Ini menunjukkan bahwa merawat rambut dengan rapi dan panjang yang wajar adalah sunnah yang dianjurkan, tanpa berlebihan. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk mengenal sifat Nabi ﷺ sebagai bagian dari kecintaan kepada beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab Menggunakan Jubah dan Rambut, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَنْبَأَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ شَعَرُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ شَعَرًا رَجِلًا بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَمَنْكِبَيْهِ.

Terjemahan: "Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: 'Rambut Rasulullah ﷺ adalah rajil (berombak/keriting ringan), (jatuh) di antara telinga dan bahunya.'"

Kata رَجِلًا (rajilan) berarti rambut yang tidak lurus kaku dan tidak pula keriting sangat, tetapi berombak. Ini dikuatkan oleh riwayat lain dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas dan al-Bara' bin 'Azib yang menyebutkan sifat rambut Nabi ﷺ.

Ayat yang mendukung keutamaan meneladani Nabi ﷺ:

وَلَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

QS. Al-Ahzab [33]: 21

"Dan sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

Penjelasan Rinci

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sifat rambut Nabi ﷺ yang rajil menunjukkan beliau tidak membiarkan rambutnya kusut dan tidak pula berlebihan dalam merawatnya. Rambut beliau jatuh antara telinga dan bahu, artinya panjangnya sedang — tidak terlalu pendek hingga tidak terlihat, dan tidak terlalu panjang hingga melewati bahu.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang panjang rambut Nabi ﷺ: ada riwayat yang menyebut sampai bahu, ada yang menyebut sampai antara telinga dan bahu, dan ada yang menyebut lebih panjang. Namun semua riwayat ini tidak bertentangan, karena kondisi rambut beliau berbeda-beda sesuai waktu — kadang beliau biarkan panjang, kadang beliau potong dalam keadaan ihram atau setelahnya.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membiarkan rambutnya sesuai kebiasaan penduduk Arab saat itu, dan beliau tidak melarang memanjangkan rambut selama dirawat dengan baik. Beliau juga mengajarkan untuk memuliakan rambut, sebagaimana sabda beliau: "Barangsiapa memiliki rambut, hendaklah ia memuliakannya" (riwayat Abu Dawud, dari Abu Hurairah).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa merawat rambut — dengan menyisir, meminyaki, dan menjaganya rapi — adalah sunnah, karena Nabi ﷺ melakukannya. Namun tidak boleh berlebihan hingga menyerupai wanita atau orang kafir, dan tidak boleh pula mengabaikannya hingga kusut dan kotor.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di ketika menafsirkan QS. Al-Ahzab [33]: 21 menjelaskan bahwa meneladani Nabi ﷺ mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk penampilan dan perawatan diri, karena beliau adalah teladan yang sempurna.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — yang menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun — adalah salah satu sahabat yang paling detail dalam menggambarkan sifat fisik Nabi ﷺ. Beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah menyentuh sutra yang lebih halus dari telapak tangan Rasulullah ﷺ, dan aku tidak pernah mencium aroma yang lebih wangi dari aroma Rasulullah ﷺ" (HR. Bukhari).

Suatu ketika, al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu ditanya tentang sifat Nabi ﷺ, maka beliau menjawab: "Beliau adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling bagus akhlaknya. Rambut beliau tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek, jatuh antara telinga dan bahu" (HR. Bukhari dan Muslim). Para sahabat sangat memperhatikan detail sifat Nabi ﷺ karena kecintaan mereka kepada beliau, dan mereka ingin meneladani beliau dalam segala hal.

Hikmah: Mengenal sifat Nabi ﷺ menumbuhkan cinta kepada beliau, dan cinta kepada beliau akan mendorong kita untuk mengikuti sunnahnya, termasuk dalam hal penampilan yang rapi dan bersih.

Kesimpulan Praktis

  1. Merawat rambut adalah sunnah — menyisir, meminyaki, dan menjaganya rapi adalah bagian dari meneladani Nabi ﷺ.
  2. Panjang rambut yang wajar — tidak harus persis seperti Nabi ﷺ, tetapi yang penting adalah kerapian dan kebersihan.
  3. Tidak berlebihan — jangan menyerupai wanita atau orang kafir dalam model rambut, dan jangan pula mengabaikannya hingga kusut.
  4. Mengenal sifat Nabi ﷺ — membaca dan mempelajari sifat fisik dan akhlak beliau menumbuhkan cinta dan semangat meneladani.
  5. Niat ibadah — merawat diri dengan niat mengikuti sunnah akan bernilai pahala.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?