Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya kesombongan (kibr). Secara khusus, hadits ini menjelaskan bahwa orang yang menjulurkan atau menyeret pakaiannya (seperti sarung, gamis, atau celana) hingga melewati mata kaki dengan tujuan berbangga diri dan sombong, maka Allah tidak akan memandangnya dengan pandangan rahmat pada hari kiamat. Ini menunjukkan betapa besar dosa kesombongan, dan bahwa hal tersebut bisa menyebabkan seseorang terhalang dari kasih sayang Allah di akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab "Siapa yang Menyeret Pakaian Karena Kesombongan" (no. 3569), dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang semakna.
Dalil dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."
(QS. Luqman [31]: 18)
Hadits terkait lainnya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا
"Allah tidak akan melihat kepada orang yang menjulurkan kainnya (di bawah mata kaki) karena sombong."
(HR. Al-Bukhari no. 5788, Muslim no. 2088)
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini khusus bagi mereka yang melakukannya karena sombong. Adapun jika seseorang menjulurkan pakaiannya tanpa maksud sombong, maka hukumnya makruh (tidak disukai) menurut mayoritas ulama, dan tidak sampai pada tingkat dosa besar.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Makna "menyeret pakaian karena kesombongan"
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesombongan (kibr) adalah merasa dirinya lebih besar dan lebih tinggi dari orang lain, lalu merendahkan orang lain. Menyeret pakaian adalah salah satu bentuk penampakan lahiriah dari sifat sombong ini. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengaitkan perbuatan tersebut dengan kesombongan, karena biasanya orang yang sombong ingin terlihat berbeda dan lebih "berkelas" dari orang lain.
2. Ancaman "Allah tidak melihatnya"
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "Allah tidak melihatnya" adalah Allah tidak memandangnya dengan pandangan rahmat dan kasih sayang pada hari kiamat. Bukan berarti Allah tidak mengetahui keberadaannya, karena Allah Maha Melihat segala sesuatu. Ini adalah ancaman yang sangat keras, karena berarti orang tersebut terhalang dari rahmat Allah.
3. Batasan pakaian yang menjuntai
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa batas pakaian yang dibolehkan adalah di atas mata kaki. Adapun yang sampai di bawah mata kaki, maka ada dua keadaan:
- Jika karena sombong: haram dan diancam dengan ancaman di atas.
- Jika bukan karena sombong: makruh (tidak disukai), namun tidak sampai pada tingkat dosa besar.
4. Hikmah larangan ini
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan untuk membersihkan hati manusia dari sifat sombong dan angkuh. Islam sangat memperhatikan kebersihan hati, dan salah satu caranya adalah dengan menjaga penampilan lahiriah yang bisa memicu kesombongan.
5. Perbedaan pendapat ulama
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum menjulurkan pakaian tanpa maksud sombong:
- Pendapat pertama (Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan mayoritas ulama): Hukumnya makruh, tidak sampai haram, selama tidak ada niat sombong.
- Pendapat kedua (sebagian ulama, termasuk riwayat dari Imam Abu Hanifah): Hukumnya haram secara mutlak, baik dengan niat sombong maupun tidak, karena keumuman hadits.
Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, karena ada hadits dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang pernah berkata kepada Nabi ﷺ bahwa ia kadang menjulurkan kainnya tanpa maksud sombong, dan Nabi ﷺ menjawab:
إِنَّكَ لَسْتَ مِمَّنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ
"Sesungguhnya engkau bukanlah termasuk orang yang melakukan itu karena sombong."
(HR. Al-Bukhari no. 5784)
Hadits ini menunjukkan bahwa yang menjadi patokan adalah niat dan keadaan hati seseorang.
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal tentang kesombongan yang diriwayatkan dari sahabat. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meskipun sebesar biji sawi."
Seorang sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus, apakah itu termasuk kesombongan?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
"Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia."
(HR. Muslim no. 91)
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kesombongan bukan sekadar soal pakaian, tetapi soal sikap hati. Seseorang boleh berpakaian rapi dan indah, selama hatinya tidak merasa lebih tinggi dari orang lain dan tidak menolak kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Jaga pakaian di atas mata kaki sebagai bentuk kehati-hatian dan mengikuti sunnah, terutama bagi laki-laki.
- Periksa niat hati — apakah kita berpakaian karena ingin dipuji, atau karena ingin terlihat lebih tinggi dari orang lain?
- Jauhi sifat sombong dalam segala bentuknya, baik dalam cara berpakaian, berbicara, maupun bersikap.
- Jika tidak sengaja pakaian menjuntai, tidak mengapa, karena yang diperhitungkan adalah niat dan keadaan hati.
- Perbanyak doa agar dijauhkan dari kesombongan, karena kesombongan adalah salah satu sifat yang paling dibenci Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.