Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3553 tentang Pakaian Rasulullah berselendang Najrani bertepi tebal

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah memakai selendang (ridā') buatan Najran yang tepinya tebal dan kasar. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak selalu memakai pakaian yang halus dan mewah; kadang beliau memakai pakaian yang sederhana dan kasar. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa memakai pakaian yang bagus dan bersih itu baik, tetapi tidak boleh berlebihan hingga melampaui batas kesederhanaan yang diajarkan Islam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap sesuai periwayatan):

حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ ـ ﷺ ـ وَعَلَيْهِ رِدَاءٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ.

Makna: Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku bersama Nabi ﷺ, dan di atasnya (ada) selendang Najrani yang tebal tepinya." (HR. Ibnu Majah no. 3553)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5814) dan Imam Muslim (no. 2068) dari jalur yang sama, sehingga derajatnya shahih.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 31

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, dan makan serta minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk berpenampilan rapi dan bersih, tetapi melarang sikap berlebihan (isrāf) dalam berpakaian maupun hal lainnya.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Ridā' Najrānī"

Para ulama menjelaskan bahwa ridā' adalah selendang atau kain penutup bagian atas tubuh yang dikenakan di atas pakaian. Adapun Najrānī dinisbatkan kepada kota Najran di Yaman, yang terkenal sebagai pusat industri tekstil pada masa itu. Kain buatan Najran umumnya terbuat dari wol atau katun yang ditenun dengan kualitas baik, namun teksturnya bisa kasar dan tepinya tebal.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa kata "ghalīz al-hāsyiyah" berarti tepi kainnya tebal dan kasar, bukan halus dan lembut. Ini menunjukkan bahwa pakaian tersebut sederhana, bukan pakaian mewah kaum bangsawan.

2. Hikmah di Balik Pakaian Sederhana Nabi ﷺ

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Fath al-Bari (Syarh Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa Nabi ﷺ kadang memakai pakaian yang kasar dan sederhana untuk mengajarkan umatnya agar tidak terlalu mementingkan kemewahan dunia. Beliau ﷺ adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah, namun tetap memilih hidup sederhana.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa hadits ini tidak berarti kita harus selalu memakai pakaian kasar dan buruk. Justru Islam menganjurkan untuk berpenampilan rapi dan bersih. Namun, yang dilarang adalah berlebih-lebihan dalam berpakaian hingga menjadi sombong dan boros.

3. Keseimbangan dalam Berpakaian

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki beberapa macam pakaian. Kadang beliau memakai yang sederhana, kadang yang lebih baik, sesuai kondisi dan kebutuhan. Beliau tidak pernah memakai pakaian karena sombong, dan tidak pula meninggalkan pakaian yang layak karena alasan zuhud yang keliru.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-A'raf [7]: 31 mengajarkan keseimbangan: berpenampilan baik itu diperintahkan, tetapi larangan berlebihan juga ditegaskan. Maka seorang muslim hendaknya berpakaian sesuai kemampuan dan kebutuhan, tidak bermewah-mewahan, dan tidak pula merendahkan diri dengan pakaian yang tidak layak padahal mampu.

4. Pelajaran Adab dari Hadits Ini

Imam al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Kitab al-Libas (Kitab Pakaian) untuk menunjukkan bahwa berpakaian sederhana adalah bagian dari sunnah. Namun perlu dipahami, kesederhanaan di sini bukan berarti kumal atau tidak terurus, melainkan tidak berlebihan dan tidak sombong.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu hari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu masuk menemui Rasulullah ﷺ. Saat itu beliau ﷺ sedang berbaring di atas tikar yang terbuat dari pelepah kurma, dan tikar itu meninggalkan bekas di punggung beliau. Umar menangis melihat keadaan itu. Maka Nabi ﷺ bertanya: "Apa yang membuatmu menangis, wahai Umar?" Umar menjawab: "Wahai Rasulullah, raja-raja Persia dan Romawi hidup dalam kemewahan, sedangkan engkau — utusan Allah — berada dalam keadaan seperti ini?" Maka Nabi ﷺ bersabda: "Tidakkah engkau rela wahai Umar, bahwa untuk mereka dunia ini, dan untuk kita akhirat?" (HR. al-Bukhari no. 4913, dari jalur sahabat Umar bin al-Khaththab)

Kisah ini menunjukkan bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ bukan karena beliau tidak mampu, tetapi karena beliau memilih kenikmatan akhirat di atas kemewahan dunia. Namun, dalam riwayat lain, Nabi ﷺ juga pernah memakai pakaian yang bagus dan bersih ketika menerima tamu atau pada hari Jumat. Ini menunjukkan keseimbangan yang diajarkan Islam.

Kesimpulan Praktis

  1. Berpakaianlah yang bersih, rapi, dan menutup aurat — ini adalah perintah syariat.
  2. Jangan berlebihan dalam berpakaian — baik dari segi harga, model, atau jumlah, karena isrāf (berlebihan) dibenci Allah.
  3. Jangan sombong dengan pakaian — pakaian yang bagus boleh dipakai, tetapi hati harus tetap tawadhu'.
  4. Jangan merendahkan diri dengan pakaian yang tidak layak — jika Allah memberi kelapangan rezeki, gunakan untuk berpenampilan baik sebagai bentuk syukur.
  5. Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ — beliau memakai pakaian sederhana bukan karena miskin, tetapi karena zuhud terhadap dunia dan memilih kenikmatan akhirat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.