Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3551 tentang Pakaian Rasulullah saat wafat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan kesederhanaan (zuhud) Nabi ﷺ dalam berpakaian. Meskipun beliau adalah pemimpin umat dan manusia paling mulia, pakaian yang beliau kenakan hingga wafat hanyalah kain tebal buatan Yaman dan jubah kasar yang disebut mulabbadah. Ini mengajarkan kita bahwa kemuliaan seseorang bukan pada mahalnya pakaian, tetapi pada ketakwaan dan akhlaknya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Abu Burdah (putra Abu Musa al-Asy'ari), dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pakaian, Bab Pakaian Rasulullah ﷺ, no. 3551. Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan riwayat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang kesederhanaan pakaian Nabi ﷺ.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 26

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

"Wahai anak-anak Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan Allah menyediakan pakaian sebagai kebutuhan dan perhiasan, namun libasut taqwa (pakaian takwa) — yaitu rasa malu, iman, dan amal saleh — lebih utama dan lebih baik.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas bab-bab pakaian menegaskan bahwa kesederhanaan dalam berpakaian adalah sunnah dan bagian dari zuhud yang dicintai Allah, tanpa melarang keindahan selama halal.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ terkadang memakai pakaian yang indah dan terkadang yang kasar, menunjukkan bahwa beliau fleksibel dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Abu Burdah (seorang tabi'in, putra sahabat Abu Musa al-Asy'ari) datang menemui Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha. Aisyah kemudian mengeluarkan dua potong pakaian Nabi ﷺ: sebuah izar (kain bawah) yang tebal dari Yaman, dan sebuah kisa' (jubah) yang disebut mulabbadah — yaitu pakaian yang kasar, tebal, dan berbulu. Aisyah bersumpah bahwa Rasulullah ﷺ wafat dalam keadaan mengenakan kedua pakaian tersebut.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Kesederhanaan Nabi ﷺ (zuhud) — Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hati. Nabi ﷺ memakai pakaian yang sederhana meski beliau mampu memakai yang lebih mewah.
  2. Pakaian bukan ukuran kemuliaan — Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memakai pakaian sesuai kebutuhan: kadang kasar, kadang halus, kadang tebal, kadang tipis. Beliau tidak membebani diri dengan pakaian mewah, tetapi juga tidak melarang umatnya berhias selama halal.
  3. Bolehnya memakai pakaian kasar dan sederhana — Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya memakai pakaian kasar dan sederhana, dan bahwa itu bukanlah celaan, melainkan keutamaan.
  4. Sumpah Aisyah menunjukkan kepastian — Aisyah bersumpah untuk menegaskan kebenaran berita ini, karena ini adalah bagian dari pengetahuan langsung beliau sebagai orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ di akhir hayatnya.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama membahas apakah hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ hanya memiliki dua pakaian tersebut saat wafat, ataukah beliau memiliki pakaian lain namun yang dikenakan saat wafat adalah keduanya. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah pakaian yang beliau kenakan saat wafat, bukan berarti beliau tidak memiliki pakaian lain. Ini menunjukkan bahwa pakaian yang beliau pilih untuk dikenakan di akhir hayat adalah yang paling sederhana.

Yang paling kuat: Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ memakai pakaian tersebut saat wafat sebagai bentuk kesederhanaan dan zuhud, dan ini tidak berarti beliau tidak memiliki pakaian lain. Ini sejalan dengan pemahaman Ibnu Hajar dan Ibnu Qayyim.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang lelaki datang kepada Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in besar) dan melihat beliau memakai pakaian yang sangat sederhana. Lelaki itu bertanya, "Wahai Imam, mengapa engkau memakai pakaian yang kasar seperti ini, padahal engkau adalah orang yang mulia?"

Al-Hasan al-Bashri menjawab dengan tenang, "Sesungguhnya hati ini seperti bejana. Jika engkau isi dengan cinta dunia, maka tidak akan tersisa ruang untuk cinta akhirat. Pakaian yang sederhana membantuku menjaga hati agar tidak sibuk dengan perhiasan yang fana."

Kisah ini menggambarkan bagaimana para salafus shalih meneladani kesederhanaan Nabi ﷺ. Mereka memahami bahwa pakaian adalah kebutuhan, bukan tujuan. Yang paling penting adalah bagaimana hati tetap bersih dan fokus kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ — Tidak perlu memaksakan diri memakai pakaian mewah, tetapi juga tidak perlu sengaja memakai yang kasar untuk pamer zuhud. Yang penting adalah niat dan tidak berlebihan.
  2. Jangan menilai orang dari pakaiannya — Kemuliaan di sisi Allah diukur dengan takwa, bukan dengan merek atau harga pakaian.
  3. Pakaian adalah kebutuhan, bukan tujuan — Gunakan pakaian yang menutup aurat, pantas, dan sesuai kemampuan. Hindari israf (berlebihan) dan tabdzir (pemborosan).
  4. Jaga hati dari cinta dunia — Seperti pesan Al-Hasan al-Bashri, kesederhanaan lahir membantu kesederhanaan batin.
  5. Teladani zuhud dalam semua aspek — Zuhud bukan hanya soal pakaian, tetapi juga makanan, tempat tinggal, dan segala hal duniawi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?