Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3545 tentang Kisah Nabi disihir dan perlindungan Allah darinya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa nyata bahwa Nabi ﷺ pernah disihir oleh seorang Yahudi bernama Labid bin al-A'sam. Namun, Allah ﷻ menyelamatkan dan menyembuhkan Nabi-Nya melalui doa dan pertolongan-Nya. Hadits ini mengajarkan bahwa sihir itu nyata, namun tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah, dan bahwa doa serta tawakal adalah senjata utama seorang mukmin.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

"Dan mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah."

(QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Hadits:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Ath-Thibb (Pengobatan), Bab As-Sihr (Bab Tentang Sihir), no. 3545, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5763, 6066) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2189) dengan lafaz yang lebih panjang.

Kaitan dengan Ulama:

Peristiwa sihir ini dijelaskan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka. Di antaranya:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan secara panjang lebar tentang peristiwa ini dan pelajaran-pelajaran yang dapat diambil.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan hadits ini dan membahas hukum-hukum yang berkaitan dengan sihir.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin dan kitab-kitabnya yang lain juga menjelaskan peristiwa ini sebagai bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari adanya sihir pada Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

1. Hakikat Peristiwa Sihir pada Nabi ﷺ

Peristiwa ini adalah ujian dari Allah ﷻ kepada Nabi-Nya, namun Allah tidak membiarkan sihir itu mempengaruhi wahyu atau risalah yang dibawanya. Yang terpengaruh hanyalah hal-hal duniawi yang bersifat fisik, seperti yang beliau bayangkan telah melakukan sesuatu padahal tidak. Ini adalah bentuk ujian dan sekaligus penghormatan Allah kepada Nabi-Nya, karena dengan peristiwa ini Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya dan kelemahan makhluk-Nya.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa sihir yang menimpa Nabi ﷺ adalah nyata dan benar terjadi, dan ini tidak mengurangi kemuliaan beliau sedikit pun. Justru, ini menunjukkan bahwa beliau adalah manusia biasa yang bisa terkena penyakit, namun Allah menjaga wahyu dan risalahnya. Beliau berkata: "Para ulama sepakat bahwa sihir itu benar-benar terjadi pada Nabi ﷺ, namun Allah menjaga beliau dari pengaruhnya terhadap wahyu dan agama."

2. Pelajaran dari Sikap Nabi ﷺ

Ketika Aisyah bertanya mengapa beliau tidak membakar barang sihir tersebut, Nabi ﷺ menjawab: "Adapun aku, Allah telah menyembuhkanku, dan aku tidak suka membiarkan kejahatan menyebar di antara manusia."

Sikap ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  • Menahan diri dari membalas kejahatan dengan cara yang bisa memicu fitnah. Nabi ﷺ memilih untuk tidak membakar barang sihir tersebut karena khawatir akan menimbulkan permusuhan yang lebih besar dengan kaum Yahudi, atau membuat orang-orang bertanya-tanya dan terfitnah.
  • Kedermawanan akhlak Nabi ﷺ. Beliau memaafkan dan tidak membalas, meskipun beliau tahu siapa pelakunya. Ini adalah contoh terbaik dalam memaafkan orang yang berbuat jahat kepada kita.
  • Tawakal kepada Allah. Nabi ﷺ bersandar kepada Allah dalam kesembuhan-Nya, bukan kepada cara-cara yang bisa menimbulkan mudharat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan: "Nabi ﷺ tidak membakar barang sihir tersebut karena dikhawatirkan akan menimbulkan keburukan yang lebih besar. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak membalas kejahatan dengan cara yang justru memicu fitnah yang lebih besar."

3. Hukum Mempelajari dan Menggunakan Sihir

Para ulama sepakat bahwa sihir adalah perbuatan kufur dan dosa besar. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

"Dan mereka berdua (Harut dan Marut) tidak mengajarkan sihir kepada seorang pun melainkan mereka berkata: 'Sesungguhnya kami hanyalah cobaan, maka janganlah kamu kafir'."

(QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Jawab al-Kafi dan Ighatsat al-Lahfan menjelaskan secara panjang lebar tentang bahaya sihir dan hukumnya. Beliau menegaskan bahwa sihir adalah perbuatan kufur dan pelakunya wajib dibunuh menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama.

4. Cara Berlindung dari Sihir

Dari hadits ini dan hadits-hadits lainnya, para ulama menjelaskan cara-cara berlindung dari sihir:

  • Memperbanyak doa dan dzikir, terutama membaca Ayat Kursi, Al-Mu'awwidzat (Al-Falaq dan An-Nas), dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
  • Menjaga shalat lima waktu, karena shalat adalah benteng utama seorang mukmin.
  • Bertawakal kepada Allah dan tidak takut kepada makhluk, karena tidak ada yang bisa mencelakakan kita kecuali dengan izin Allah.
  • Menghindari perbuatan dosa, karena dosa adalah penyebab utama seseorang mudah terkena gangguan.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa pengobatan yang paling utama untuk sihir adalah dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an, doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ, dan menghilangkan sumber sihir tersebut jika diketahui.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil hikmah dari ketenangan dan kelembutan Nabi ﷺ dalam menghadapi ujian ini. Beliau tidak panik, tidak marah, dan tidak membalas. Beliau justru bersabar, berdoa, dan berserah diri kepada Allah.

Ada kisah yang diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri tentang seorang lelaki yang terkena sihir dan datang kepadanya mengeluh. Al-Hasan berkata kepadanya: "Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa sihir itu tidak akan mencelakakanmu kecuali dengan izin Allah. Maka perbanyaklah berdoa kepada Allah, dan jangan engkau takut kepada makhluk. Sesungguhnya yang engkau takuti hanyalah Allah semata."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa ketenangan hati dan tawakal kepada Allah adalah obat yang paling mujarab dalam menghadapi segala ujian, termasuk sihir.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa sihir itu nyata, namun tidak bisa mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah.
  2. Jadikan doa dan dzikir sebagai perisai utama dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam memaafkan dan tidak membalas kejahatan dengan cara yang memicu fitnah.
  4. Jauhi segala bentuk perbuatan sihir, baik mempelajari, mengajarkan, atau mendatangi dukun dan paranormal.
  5. Perbanyak membaca Al-Qur'an, terutama Ayat Kursi dan Al-Mu'awwidzat, sebagai perlindungan dari gangguan setan dan sihir.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.