Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menyukai al-fa'l (pertanda baik) dan membenci ath-thiyarah (merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu). Al-fa'l adalah optimisme yang baik dan dibolehkan, bahkan disunnahkan, karena ia mendorong seseorang untuk berprasangka baik kepada Allah dan membuat hatinya tenang. Sementara ath-thiyarah adalah keyakinan bahwa suatu benda, hewan, atau kejadian tertentu membawa kesialan, dan ini adalah bentuk kesyirikan yang dilarang keras dalam Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman tentang kaum yang berprasangka buruk kepada Allah:
> قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.'" (QS. Ya-Sin [36]: 18)
Ayat ini menunjukkan bahwa ath-thiyarah (merasa sial karena orang lain) adalah kebiasaan orang-orang kafir dan musyrik, dan Allah membantah keyakinan tersebut.
Hadits terkait:
Hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda:
> لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah (merasa sial), tidak ada hāmah (burung yang dianggap membawa sial), dan tidak ada shafar (bulan yang dianggap sial)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Miftah Dar as-Sa'adah dan Madarij as-Salikin menjelaskan perbedaan mendasar antara al-fa'l dan ath-thiyarah. Beliau menegaskan bahwa al-fa'l adalah husnuzhzhann (prasangka baik) kepada Allah, sedangkan ath-thiyarah adalah su'uzhzhann (prasangka buruk) kepada Allah, dan ini yang dicela.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa al-fa'l (pertanda baik) adalah ketika seseorang mendengar atau melihat sesuatu yang baik, lalu ia berharap kebaikan dari Allah. Contohnya: orang sakit mendengar nama "Salim" (selamat) atau "Afiyah" (sehat), atau orang yang sedang dalam perjalanan bertemu dengan orang yang berwajah cerah. Ini membuat hatinya optimis dan berprasangka baik kepada Allah.
Imam Al-Khathabi menjelaskan bahwa al-fa'l dibolehkan karena ia bukanlah keyakinan bahwa benda atau kejadian itu yang membawa kebaikan, melainkan hanya sekadar harapan baik yang membuat hati tenang. Sedangkan ath-thiyarah adalah keyakinan bahwa benda atau kejadian tertentu membawa kesialan, dan ini yang diharamkan karena termasuk perbuatan syirik.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa ath-thiyarah termasuk syirik karena pelakunya menggantungkan nasibnya kepada selain Allah. Beliau mengutip hadits:
> الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
"Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Namun, para ulama juga menjelaskan bahwa jika seseorang sudah terlanjur merasa terkena thiyarah, maka hendaknya ia berdoa dan tidak membatalkan niat baiknya karena hal itu. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa cara menghilangkan pengaruh thiyarah adalah dengan bertawakkal kepada Allah dan meneruskan apa yang ingin dilakukan, karena membatalkan rencana karena thiyarah justru menambah kesialan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ath-thiyarah adalah bentuk prasangka buruk kepada Allah, padahal Allah Maha Pengatur segala sesuatu dengan hikmah. Orang yang beriman seharusnya berbaik sangka kepada Allah dalam segala keadaan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ
"Tidak ada 'adwa (penularan penyakit dengan sendirinya) dan tidak ada thiyarah, tetapi aku menyukai al-fa'l yang baik, yaitu kalimat yang baik." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, ketika para sahabat hendak berangkat perang, mereka mendengar seseorang berkata "Salim" (selamat), maka Nabi ﷺ tersenyum dan berkata bahwa itu adalah pertanda baik. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk selalu optimis dan berprasangka baik kepada Allah, bukan pesimis dan berprasangka buruk.
Kesimpulan Praktis
- Bersikap optimis dalam segala urusan, karena optimisme adalah bagian dari husnuzhzhann kepada Allah.
- Menghindari thiyarah (merasa sial karena sesuatu), karena itu termasuk syirik dan bertentangan dengan tauhid.
- Jika terlanjur merasa sial, maka berdoalah dan teruskan niat baikmu, jangan membatalkan rencana karena hal itu.
- Biasakan mengucapkan kalimat-kalimat baik dan berprasangka baik kepada Allah dalam setiap keadaan.
- Jadikan al-fa'l sebagai motivasi untuk beribadah dan beramal, bukan sebagai penentu nasib.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.