Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3527 tentang Doa ruqyah untuk menyembuhkan demam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah sakit demam, lalu Malaikat Jibril عليه السلام datang dan melakukan ruqyah (membacakan doa penyembuhan) kepada beliau. Lafazh ruqyah tersebut berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari segala yang menyakitkan, termasuk hasad (iri hati) dan 'ain (pandangan mata jahat). Ini menjadi dalil bahwa ruqyah dengan bacaan yang jelas maknanya dan tidak mengandung kesyirikan adalah bagian dari sunnah pengobatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Falaq [113]: 5

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Terjemahan: "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia mendengki."

QS. Al-Qalam [68]: 51

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ

Terjemahan: "Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka ketika mereka mendengar Al-Qur'an, dan mereka berkata: 'Sesungguhnya dia benar-benar orang gila.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Kedokteran, Bab Apa yang Dibaca untuk Mengobati Demam (no. 3527). Perawi sahabat: Ubadah bin ash-Shamit رضي الله عنه.

Hadits pendukung dari Imam Muslim dalam Shahih Muslim, dari Aisyah رضي الله عنها, bahwa Nabi ﷺ biasa meruqyah dirinya dengan membaca Al-Mu'awwidzat dan meniupkan pada tubuhnya.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad dan At-Tibb an-Nabawi menjelaskan bahwa ruqyah syar'iyyah adalah salah satu cara pengobatan yang diajarkan Nabi ﷺ, dan beliau membedakan antara ruqyah yang dibolehkan (sesuai syariat) dan ruqyah yang dilarang (mengandung syirik atau lafazh tidak dipahami).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa ruqyah dengan lafazh yang jelas dan mengandung nama Allah serta permohonan kepada-Nya adalah bagian dari sunnah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan keutamaan ruqyah dan bahwa Nabi ﷺ pernah diruqyah oleh Jibril عليه السلام, menunjukkan bolehnya ruqyah selama tidak mengandung kesyirikan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

  1. "Jibril datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang sakit demam" — Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sebagai manusia juga bisa sakit, dan beliau tidak selalu terbebas dari penyakit. Ini juga menunjukkan bahwa Jibril عليه السلام tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga pernah datang untuk membantu Nabi ﷺ dalam keadaan sakit.
  2. "Bismillahi arqika" — "Dengan nama Allah aku meruqyahmu." Ini adalah lafazh ruqyah yang dimulai dengan menyebut nama Allah, menunjukkan bahwa kesembuhan hanya dari Allah.
  3. "Min kulli syai'in yu'dzika" — "Dari segala sesuatu yang menyakitimu." Ini mencakup semua jenis penyakit, baik fisik maupun non-fisik.
  4. "Min hasadi hasidin" — "Dari iri hati orang yang iri." Hasad adalah perasaan tidak suka melihat nikmat pada orang lain dan berharap nikmat itu hilang. Ini adalah penyakit hati yang bisa berdampak buruk.
  5. "Wa min kulli 'ainin" — "Dan dari setiap mata (jahat)." Ini merujuk pada 'ain, yaitu pandangan mata yang bisa menimbulkan mudharat dengan izin Allah. Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa 'ain adalah nyata dan bisa mempengaruhi seseorang, dan ruqyah adalah cara untuk melindungi diri darinya.
  6. "Allahu yasyfika" — "Semoga Allah menyembuhkanmu." Ini adalah doa dan penegasan bahwa kesembuhan hanya datang dari Allah.

Pemahaman ulama:

  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam At-Tibb an-Nabawi menyebutkan bahwa ruqyah yang diajarkan Nabi ﷺ memiliki tiga syarat: (1) menggunakan nama Allah atau sifat-Nya, (2) menggunakan bahasa Arab yang jelas maknanya atau lafazh yang dipahami, (3) tidak mengandung kesyirikan. Hadits ini memenuhi ketiga syarat tersebut.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ruqyah Jibril kepada Nabi ﷺ menunjukkan bahwa ruqyah tidak hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri, dan bahwa malaikat pun bisa membantu dalam pengobatan dengan izin Allah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ruqyah dengan lafazh yang jelas dan mengandung permohonan kepada Allah adalah sunnah, dan tidak termasuk dalam larangan ruqyah yang mengandung syirik.
  • Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini sebagai hadits yang shahih dan menjelaskan bahwa ruqyah dengan lafazh ini boleh diamalkan.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah ruqyah harus dengan bahasa Arab atau boleh dengan bahasa lain. Ibnu Qayyim dan Ibnu Hajar cenderung membolehkan ruqyah dengan bahasa apa pun selama maknanya jelas dan tidak mengandung kesyirikan. Namun, yang paling utama adalah dengan bahasa Arab atau lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ sedang sakit demam. Dalam keadaan lemah, beliau berbaring di rumahnya. Tiba-tiba Malaikat Jibril عليه السلام datang, bukan untuk menyampaikan wahyu, tetapi untuk meruqyah beliau. Jibril mendekat dan membacakan doa: "Bismillahi arqika, min kulli syai'in yu'dzika, min hasadi hasidin, wa min kulli 'ainin, Allahu yasyfika."

Ubadah bin ash-Shamit رضي الله عنه, yang mendengar kisah ini, meriwayatkannya kepada generasi setelahnya. Para sahabat memahami bahwa ruqyah adalah bagian dari sunnah, dan mereka mengamalkannya untuk diri sendiri dan orang lain.

Hikmah: Meskipun Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia, beliau tetap bisa sakit. Namun, beliau mengajarkan bahwa pengobatan yang paling utama adalah dengan kembali kepada Allah melalui doa dan ruqyah yang syar'i. Ini juga menunjukkan bahwa Jibril عليه السلام memiliki peran dalam membantu Nabi ﷺ, dan bahwa ruqyah adalah warisan dari para nabi.

Kesimpulan Praktis

  1. Ruqyah syar'iyyah adalah sunnah — Boleh dan dianjurkan untuk meruqyah diri sendiri atau orang lain dengan lafazh yang jelas, mengandung nama Allah, dan tidak mengandung kesyirikan.
  2. Lafazh ruqyah dalam hadits ini dapat diamalkan: Bismillahi arqika, min kulli syai'in yu'dzika, min hasadi hasidin, wa min kulli 'ainin, Allahu yasyfika.
  3. Hasad dan 'ain adalah nyata — Keduanya bisa menimbulkan mudharat dengan izin Allah, dan ruqyah adalah salah satu cara perlindungan.
  4. Kesembuhan hanya dari Allah — Ruqyah hanyalah sebab, dan yang menyembuhkan adalah Allah. Jangan bergantung pada ruqyah itu sendiri, tetapi bergantunglah kepada Allah.
  5. Ikuti petunjuk Nabi ﷺ — Dalam pengobatan, utamakan cara-cara yang diajarkan Nabi ﷺ dan para ulama Ahlus Sunnah, serta hindari pengobatan yang mengandung syirik atau tidak jelas sumbernya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?