Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan sebuah doa dan cara ruqyah (pengobatan dengan doa) yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Utsman bin Abi al-Ash radhiyallahu 'anhu ketika beliau sakit. Caranya: letakkan tangan kanan di bagian yang sakit, lalu baca doa tersebut tujuh kali. Utsman mengamalkannya dan Allah menyembuhkannya. Ini menunjukkan keutamaan ruqyah dengan doa yang diajarkan Nabi ﷺ, disertai tawakal dan keyakinan bahwa kesembuhan hanya dari Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Isra' [17]: 82
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Terjemahan: "Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, dan Al-Qur'an itu tidak menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."
QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Terjemahan: "Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pengobatan (Kitab ath-Thibb), Bab Apa yang Dibaca Nabi ﷺ dan Apa yang Didoakan, no. 3522. Perawi sahabat: Utsman bin Abi al-Ash ats-Tsaqafi radhiyallahu 'anhu.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dari Utsman bin Abi al-Ash, bahwa ia mengadukan sakit yang dirasakannya sejak masuk Islam kepada Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ mengajarkan doa tersebut.
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya ruqyah dengan doa-doa yang ma'tsur (diajarkan Nabi ﷺ), dan bahwa meletakkan tangan pada bagian yang sakit termasuk adab ruqyah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ruqyah dengan doa Nabi ﷺ lebih utama daripada ruqyah dengan selainnya, karena mengandung tauhid dan tawakal kepada Allah.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab Zad al-Ma'ad dan ath-Thibb an-Nabawi menjelaskan bahwa doa ini mengandung pengagungan terhadap kehormatan dan kekuasaan Allah, serta pengharapan kesembuhan hanya dari-Nya.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Utsman bin Abi al-Ash radhiyallahu 'anhu datang kepada Nabi ﷺ dalam keadaan sakit yang hampir membinasakannya. Nabi ﷺ tidak mencela, tidak menyuruhnya meninggalkan pengobatan, tetapi mengajarkan kepadanya cara berdoa dan memohon kesembuhan kepada Allah.
Doa yang diajarkan:
بِسْمِ اللَّهِ أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
"Bismillah, aku berlindung dengan kehormatan/kekuatan Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan apa yang aku rasakan dan aku takutkan."
Kandungan doa:
- Bismillah — memulai dengan nama Allah, sebagaimana adab dalam setiap perkara, terutama pengobatan.
- أَعُوذُ بِعِزَّةِ اللَّهِ — berlindung dengan kehormatan/kemuliaan Allah. Ini bentuk tauhid dalam memohon perlindungan.
- وَقُدْرَتِهِ — dan kekuasaan-Nya. Menyadari bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan Allah.
- مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ — dari keburukan yang aku rasakan (sakit yang sedang dialami) dan yang aku takutkan (yang mungkin akan datang).
Cara pengamalan menurut ulama:
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa meletakkan tangan kanan pada bagian yang sakit adalah bagian dari sunnah ruqyah, karena tangan kanan memiliki keutamaan dan keberkahan.
- Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa pengulangan tujuh kali mengandung makna kesungguhan dalam memohon dan tawakal, bukan karena angka tujuh itu sendiri yang menyembuhkan, melainkan karena Allah yang menyembuhkan.
- Ibnu Hajar menegaskan bahwa ruqyah ini tidak bertentangan dengan tawakal, bahkan merupakan bagian dari tawakal, karena kita berusaha dengan cara yang diajarkan Nabi ﷺ lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar:
Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di antara ulama yang tercantum mengenai keabsahan dan keutamaan ruqyah ini. Mereka sepakat bahwa ruqyah dengan doa Nabi ﷺ adalah disyariatkan dan bermanfaat dengan izin Allah. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa ruqyah ini boleh diamalkan untuk diri sendiri maupun orang lain, dengan keyakinan bahwa kesembuhan hanya dari Allah.
Catatan penting:
Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak melarang berobat, tetapi mengajarkan doa sebagai bagian dari pengobatan. Ini sejalan dengan kaidah: "Berobatlah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan obatnya" (hadits shahih riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lainnya).
Story Telling
Dikisahkan bahwa Utsman bin Abi al-Ash radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat dari Bani Tsaqif, pernah mengadukan kepada Nabi ﷺ sakit yang telah lama ia rasakan sejak masuk Islam. Sakit itu hampir membinasakannya. Nabi ﷺ tidak menyuruhnya bersabar saja tanpa usaha, tetapi mengajarkan kepadanya doa yang penuh makna tauhid.
Utsman mengamalkan doa tersebut dengan penuh keyakinan. Ia meletakkan tangan kanannya pada bagian yang sakit, membaca doa itu tujuh kali, dan Allah menyembuhkannya. Kisah ini menunjukkan bahwa doa yang diajarkan Nabi ﷺ memiliki keberkahan, dan bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Menyembuhkan.
Hikmah: Jangan remehkan doa yang diajarkan Nabi ﷺ. Amalkan dengan penuh keyakinan, sambil tetap berusaha dengan cara yang halal dan meninggalkan yang haram. Kesembuhan adalah dari Allah, tetapi doa adalah sebab yang diajarkan.
Kesimpulan Praktis
- Amalkan doa ini ketika sakit: letakkan tangan kanan pada bagian yang sakit, baca "Bismillah, a'udzu bi 'izzatillahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadzir" tujuh kali.
- Yakinlah bahwa kesembuhan dari Allah, bukan dari doa itu sendiri. Doa adalah sebab, Allah yang menyembuhkan.
- Jangan tinggalkan pengobatan medis yang halal, karena Nabi ﷺ mengajarkan doa sekaligus tidak melarang berobat.
- Jaga tauhid dalam berdoa: hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dan kesembuhan.
- Ajarkan kepada keluarga doa ini agar mereka juga mengamalkannya ketika sakit.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.