Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa penyakit 'ain (mata) itu benar dan nyata, bukan sekadar mitos. Rasulullah ﷺ membolehkan ruqyah untuk mengobatinya, dan bahkan menjelaskan bahwa pengaruh 'ain sangat kuat—sampai-sampai jika ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, maka 'ain-lah yang bisa melakukannya. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang menegaskan betapa besarnya pengaruh 'ain, namun tetap semuanya terjadi dalam kerangka takdir Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari jalur Sufyan bin 'Uyainah—salah satu ulama besar yang masuk dalam daftar rujukan kita. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Ath-Thibb (Kedokteran), Bab Ma Ja'a fil 'Ain (Bab tentang 'Ain), no. 2059, dan beliau berkata: "Hadits ini hasan shahih."
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah ﷻ berfirman:
وَإِن يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ
"Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Al-Qur'an, dan mereka berkata: 'Sesungguhnya dia (Muhammad) benar-benar orang gila.'" (QS. Al-Qalam [68]: 51)
Ayat ini ditafsirkan oleh Mujahid dan Qatadah—keduanya dari kalangan tabi'in—bahwa maknanya adalah mereka hampir membinasakan Nabi ﷺ dengan pandangan mata mereka karena kerasnya kebencian. Ini menunjukkan bahwa pengaruh pandangan mata itu nyata dan diakui dalam Al-Qur'an.
Hadits Pendukung dari Shahih:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
الْعَيْنُ حَقٌّ
"'Ain (pengaruh mata) itu benar (nyata)." (HR. Al-Bukhari no. 5740, Muslim no. 2187)
Penjelasan Rinci
Pertama: Makna 'Ain
'Ain adalah penyakit atau gangguan yang ditimbulkan oleh pandangan seseorang yang disertai rasa kagum atau hasad (iri/dengki) terhadap orang lain. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa 'ain adalah panah yang keluar dari jiwa orang yang hasad, mengenai sasaran yang dipandangnya. Kadang mengenai, kadang meleset—tergantung kehendak Allah.
Kedua: Sabda Nabi ﷺ "Jika ada sesuatu yang mendahului takdir..."
Para ulama menjelaskan makna sabda ini dengan beberapa penjelasan:
- Imam At-Tirmidzi dan para ulama hadits menjelaskan bahwa maknanya adalah: 'ain itu memiliki pengaruh yang sangat kuat dan nyata, namun tetap tidak bisa keluar dari takdir Allah. Yang dimaksud "mendahului takdir" di sini adalah dalam arti sebab-sebab yang Allah tetapkan berjalan di alam ini. Jadi 'ain adalah salah satu sebab yang Allah jadikan bisa menimbulkan penyakit atau bahaya.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa 'ain itu nyata pengaruhnya, dan ini adalah bagian dari takdir Allah juga. Tidak ada sesuatu pun yang benar-benar keluar dari takdir Allah, tetapi Allah menjadikan 'ain sebagai sebab yang bisa menimbulkan mudarat.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah penegasan bahwa 'ain itu sangat berbahaya. Seandainya ada sesuatu yang bisa mendahului takdir—dalam arti mengalahkan ketetapan Allah—maka 'ain-lah yang paling berhak untuk itu. Namun tentu saja tidak ada yang bisa mendahului takdir Allah, karena semuanya sudah ditetapkan.
Ketiga: Hukum Ruqyah untuk 'Ain
Hadits ini menunjukkan bolehnya meruqyah orang yang terkena 'ain. Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal dan mayoritas ulama menyatakan bahwa ruqyah dari 'ain adalah perkara yang disunnahkan, karena Nabi ﷺ sendiri menganjurkan dan memerintahkan.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ruqyah yang disyariatkan adalah yang memenuhi tiga syarat:
- Menggunakan kalamullah (ayat-ayat Al-Qur'an) atau nama-nama dan sifat-sifat Allah
- Menggunakan bahasa Arab atau bahasa yang bisa dipahami maknanya
- Diyakini bahwa yang menyembuhkan adalah Allah, bukan ruqyah itu sendiri
Keempat: Kisah Asma' binti Abu Bakar
Dalam hadits ini, yang bertanya adalah Asma' binti Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anha. Beliau bertanya tentang anak-anak Ja'far—yaitu anak-anak Ja'far bin Abi Thalib yang merupakan keponakan beliau (karena Ja'far menikah dengan Asma'). Ketika Ja'far gugur di Perang Mu'tah, anak-anaknya menjadi tanggungan Asma'. Mereka terkena 'ain, dan Asma' ingin meruqyah mereka.
Rasulullah ﷺ menjawab dengan tegas: "Ya, ruqyah-lah mereka." Ini menunjukkan bahwa ruqyah untuk 'ain adalah perkara yang dicontohkan dan dianjurkan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, bahwa ia melihat seorang budak perempuan di rumahnya yang wajahnya berubah (terkena 'ain). Maka Ummu Salamah berkata: "Mengapa kalian tidak meruqyahnya dengan ruqyah?" Maksudnya adalah ruqyah yang diajarkan Nabi ﷺ.
Dalam riwayat lain, Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah memerintahkan untuk meruqyah orang yang terkena 'ain. Beliau bersabda:
اسْتَرْقُوا لَهَا فَإِنَّ بِهَا النَّظْرَةَ
"Ruqyah-lah dia, karena sesungguhnya dia terkena pandangan ('ain)." (HR. Al-Bukhari no. 5739)
Hikmah dari kisah ini: Para sahabat dan istri-istri Nabi ﷺ sangat perhatian terhadap pengobatan 'ain, dan mereka menjadikan ruqyah syar'iyyah sebagai sarana pengobatan. Ini menunjukkan bahwa kita pun harus meyakini 'ain itu nyata dan mengobatinya dengan cara yang syar'i.
Kesimpulan Praktis
- Yakini bahwa 'ain itu benar dan nyata—bukan mitos atau tahayul. Ini berdasarkan hadits shahih dan ayat Al-Qur'an.
- Gunakan ruqyah syar'iyyah untuk mengobati 'ain, yaitu dengan membaca ayat-ayat Al-Qur'an seperti Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al-Mu'awwidzat (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas), dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Jauhi ruqyah yang tidak syar'i—seperti yang mengandung syirik, jampi-jampi yang tidak jelas, atau meminta bantuan jin. Ini diharamkan.
- Lindungi diri dengan dzikir pagi dan petang serta doa-doa perlindungan yang diajarkan Nabi ﷺ, karena ini adalah sebab untuk mencegah terkena 'ain.
- Jangan takut berlebihan—tetap bertawakkal kepada Allah, karena semua yang terjadi adalah takdir-Nya. 'Ain tidak bisa mendahului takdir Allah, tetapi ia adalah salah satu sebab yang Allah tetapkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.