Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita adab yang sangat mulia: jangan mencela atau mengutuk demam, karena demam adalah salah satu bentuk ujian dari Allah yang justru menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa hamba-Nya. Ini adalah kabar gembira bagi orang yang sakit, bahwa sakit yang dideritanya dengan sabar akan menjadi pembersih dosa, sebagaimana api membersihkan kotoran dari besi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُبَيْدَةَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ ذُكِرَتِ الْحُمَّى عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ـ ﷺ ـ فَسَبَّهَا رَجُلٌ فَقَالَ النَّبِيُّ ـ ﷺ ـ " لاَ تَسُبَّهَا فَإِنَّهَا تَنْفِي الذُّنُوبَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ "
Makna: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Disebutkan demam di hadapan Rasulullah ﷺ, lalu seorang laki-laki mencacinya. Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Janganlah engkau mencacinya, karena sesungguhnya demam itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana api menghilangkan kotoran besi.'" (HR. Ibnu Majah, no. 3469)
Hadits Penguat dari Shahih:
Hadits ini juga memiliki penguat dalam Shahih Muslim dari riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"لَا تَسُبُّوا الْحُمَّى فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ"
"Janganlah kalian mencela demam, karena sesungguhnya demam itu menghilangkan kesalahan-kesalahan anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran besi." (HR. Muslim, no. 2575)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah dorongan untuk bersabar atas penyakit demam, dan larangan mencela sesuatu yang telah ditakdirkan Allah, karena celaan tersebut kembali kepada Allah yang menakdirkan.
- Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad membahas tentang demam dan pengobatannya, serta menjelaskan bahwa demam memiliki hikmah besar di sisi Allah, di samping sebagai pembersih dosa, ia juga bisa menjadi peringatan bagi tubuh untuk beristirahat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Larangan Mencela Sesuatu yang Telah Ditakdirkan Allah
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa mencela demam pada hakikatnya adalah mencela Allah yang telah menakdirkannya. Seorang mukmin harus ridha dengan ketentuan Allah, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Mencela penyakit adalah bentuk ketidaksabaran dan ketidakridhaan terhadap qadha Allah.
2. Demam sebagai Pembersih Dosa
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa seluruh musibah yang menimpa seorang mukmin -termasuk demam- menjadi sebab terhapusnya dosa-dosanya, selama ia bersabar dan mengharap pahala dari Allah. Ini adalah rahmat Allah yang sangat besar kepada umat ini.
3. Perumpamaan Api dan Kotoran Besi
Perumpamaan dalam hadits ini sangat dalam. Sebagaimana api memisahkan kotoran dari besi ketika dibakar, demikian pula demam memisahkan dosa-dosa dari diri seorang mukmin. Ini menunjukkan bahwa demam yang terasa panas itu justru berfungsi "membakar" dosa-dosa, sehingga setelah sembuh, seorang hamba menjadi lebih bersih di sisi Allah.
4. Bukan Berarti Tidak Boleh Berobat
Penting untuk dipahami bahwa larangan mencela demam bukan berarti kita dilarang berobat atau mencari penawar. Para ulama, termasuk Imam Ibnul Qayyim, justru membolehkan dan menganjurkan berobat, karena hal ini termasuk ikhtiar yang diperintahkan. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda bahwa Allah menurunkan penyakit beserta obatnya. Berobat adalah bentuk ikhtiar, sedangkan sabar dan ridha adalah bentuk penerimaan terhadap takdir.
5. Adab Seorang Mukmin terhadap Musibah
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa seorang mukmin ketika ditimpa musibah hendaknya mengucapkan istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), bersabar, dan tidak berkeluh kesah dengan cara yang dilarang seperti mencela, meratap, atau marah kepada takdir.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang sakit demam yang dideritanya. Beliau menjawab dengan tenang dan penuh keimanan. Dalam riwayat lain, ketika sebagian ulama salaf ditimpa demam, mereka justru mengingat hadits ini dan merasa tenang, karena mengetahui bahwa demam yang mereka derita sedang "menghapus dosa-dosa" mereka.
Ada juga kisah tentang seorang lelaki yang mengeluhkan demamnya di hadapan Al-Hasan al-Bashri rahimahullah. Maka Al-Hasan berkata kepadanya, "Janganlah engkau mengeluh, karena demi Allah, panasnya demam yang engkau rasakan selama satu malam lebih ringan daripada panasnya api neraka. Dan sesungguhnya demam itu menghapus dosa sebagaimana api menghilangkan kotoran besi." Maka lelaki itu pun terdiam dan bersabar.
Kisah-kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf memahami hadits ini bukan sekadar teori, tetapi menjadi penghibur dan penguat kesabaran mereka ketika sakit.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah mencela atau mengutuk demam atau penyakit apa pun, karena itu adalah takdir Allah yang memiliki hikmah.
- Bersabarlah ketika sakit dan yakini bahwa sakit itu menghapus dosa-dosa, sebagaimana disebutkan dalam hadits.
- Tetap berobat sebagai bentuk ikhtiar, karena berobat tidak bertentangan dengan sabar dan tawakal.
- Perbanyak doa dan dzikir ketika sakit, serta mengharap pahala dari Allah atas kesabaran kita.
- Hiburlah orang sakit dengan mengingatkan mereka akan keutamaan sakit sebagai penghapus dosa, sebagaimana Nabi ﷺ menghibur umatnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.