Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3454 tentang Jamur adalah manna dan airnya obat penyakit mata

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua keutamaan jamur (kam'ah): pertama, ia termasuk manna yang pernah Allah turunkan kepada Bani Israil, dan kedua, airnya (atau perasan/rebusannya) dapat dijadikan obat untuk penyakit mata. Hadits ini shahih dan diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang keutamaan dan manfaat medis yang bisa diambil sebagai pelajaran, bukan berarti kita meyakininya sebagai sebab utama kesembuhan secara mutlak, karena kesembuhan sejatinya hanya dari Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman tentang manna yang diturunkan kepada Bani Israil:

وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Bukan ayat ini. Mari kita rujuk ayat yang benar tentang manna:

QS. Al-Baqarah [2]: 57

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ ۖ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ۖ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

"Dan Kami menaungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan mereka tidak menzalimi Kami, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri."

2. Hadits Terkait:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pengobatan, Bab Tentang Jamur dan Kurma, no. 3454. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 4478) dan Imam Muslim (no. 2049) dari jalur Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam al-Bukhari memuat hadits ini dalam Shahih-nya pada Kitab Tafsir dan Kitab Pengobatan, menunjukkan penggunaannya sebagai dalil bolehnya berobat dengan bahan alami.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna hadits ini dan faedahnya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan kandungan hadits ini.

Penjelasan Rinci

Makna "Kam'ah" (الْكَمْأَةُ):

Kam'ah adalah jamur yang tumbuh di tanah tanpa ditanam, biasanya muncul setelah hujan. Dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai jamur truffle atau jamur liar. Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kam'ah adalah tumbuhan yang tidak memiliki akar dan batang, tumbuh di padang pasir, dan merupakan makanan yang baik.

Makna "Dari Manna" (مِنَ الْمَنِّ):

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "dari manna" ini:

  1. Pendapat pertama: Jamur itu termasuk jenis manna yang diturunkan kepada Bani Israil. Ini adalah zhahir (makna lahir) hadits. Namun Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Sa'id bin Zaid bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Kam'ah termasuk manna yang Allah turunkan kepada Bani Israil." Maksudnya, ia semisal manna dalam hal ia diperoleh tanpa susah payah dan tanpa bercocok tanam.
  2. Pendapat kedua (yang dipilih banyak ulama): Maknanya adalah "ia termasuk jenis manna" dalam arti musyabbah bih (diserupakan), karena manna yang turun kepada Bani Israil adalah makanan yang turun dari langit tanpa usaha, dan jamur juga didapat tanpa usaha menanam. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah penyerupaan, bukan berarti jamur itu benar-benar manna yang turun kepada Bani Israil.

Makna "Airnya Obat Mata" (وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ):

Maksudnya adalah air yang diperas dari jamur tersebut, atau air yang digunakan untuk merebusnya, bisa dijadikan obat tetes mata. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa jamur memiliki khasiat untuk mengobati penyakit mata, dan beliau menyebutkan cara penggunaannya.

Catatan penting dari para ulama:

  • Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menyebutkan khasiat pengobatan yang Allah ciptakan pada makhluk-Nya, dan ini bukan termasuk perkara ghaib yang hanya Allah ketahui, tetapi merupakan ilmu yang Allah ajarkan kepada Nabi-Nya.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya berobat, dan bahwa sebab-sebab kesembuhan itu banyak, dan Allah menjadikan pada setiap penyakit ada obatnya. Namun kesembuhan hakikatnya dari Allah, sebab hanyalah perantara.

Hikmah dan Pelajaran:

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga mengajarkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia, termasuk pengobatan.
  2. Jamur adalah makanan yang baik dan halal, dan memiliki manfaat medis yang Allah ciptakan.
  3. Berobat dengan bahan-bahan alami yang halal adalah bagian dari tuntunan Islam, selama tidak mengandung hal yang diharamkan dan tidak meyakini bahwa bahan tersebut yang menyembuhkan secara mutlak.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan bin 'Uyainah — salah satu perawi hadits ini — dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau termasuk Tabi'ut Tabi'in yang mulia dan gurunya para ulama besar. Dalam sanad hadits ini, beliau meriwayatkan dari Abdul Malik bin Umair, dari Amr bin Huraits, dari Sa'id bin Zaid — salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Sa'id bin Zaid radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang mulia, termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam. Beliau mendengar langsung sabda Nabi ﷺ tentang jamur ini, lalu menyampaikannya kepada generasi setelahnya. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian untuk menyampaikan setiap sabda Nabi ﷺ, baik yang berkaitan dengan ibadah maupun yang berkaitan dengan urusan duniawi, karena semuanya adalah petunjuk dan ilmu.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini bahwa hadits ini shahih dan merupakan petunjuk Nabi ﷺ tentang keutamaan jamur.
  2. Jamur adalah makanan halal yang baik dikonsumsi, dan termasuk karunia Allah seperti manna yang diberikan kepada Bani Israil.
  3. Boleh menggunakan air perasan atau rebusan jamur sebagai obat mata berdasarkan petunjuk Nabi ﷺ, namun tetap dengan keyakinan bahwa yang menyembuhkan adalah Allah.
  4. Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan, karena Nabi ﷺ mengajarkan hal-hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat.
  5. Jangan berlebihan dalam meyakini khasiat obat, karena kesembuhan sejatinya dari Allah, dan obat hanyalah sebab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?