Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi kaum Muslimin. Isinya menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah, tidak mempersempit dan menyulitkan. Hadits ini juga memerintahkan kita untuk berobat ketika sakit, karena setiap penyakit yang Allah turunkan pasti ada obatnya, kecuali kematian/usia tua. Dan di akhir hadits, Nabi ﷺ mengajarkan bahwa sebaik-baik pemberian yang dianugerahkan kepada seorang hamba adalah akhlak yang mulia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Pengobatan, Bab Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya (no. 3436). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, dan Imam Ahmad. Para ulama menilai hadits ini shahih (sanadnya bersambung dan perawinya terpercaya).
Berikut adalah dalil-dalil yang terkait:
- Firman Allah ﷻ tentang tidak adanya kesulitan dalam agama:
> وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
> "Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan."
> (QS. Al-Hajj [22]: 78)
- Firman Allah ﷻ tentang perintah berobat dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya:
> قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
> "Katakanlah: 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.'"
> (QS. Az-Zumar [39]: 53) - Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, termasuk kesembuhan dari penyakit.
- Hadits lain yang senada dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
> لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
> "Setiap penyakit pasti ada obatnya. Apabila obat suatu penyakit telah tepat, maka penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah 'Azza wa Jalla."
> (HR. Muslim)
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini mengandung beberapa pelajaran besar yang dijelaskan oleh para ulama:
- Islam Agama yang Mudah (Raf'ul Haraj): Para sahabat dari kalangan Arab Badui bertanya tentang berbagai hal yang mereka anggap memberatkan. Nabi ﷺ menjawab dengan tegas bahwa Allah telah menghilangkan kesulitan (haraj) dalam agama ini, kecuali jika seseorang melanggar kehormatan saudaranya. Ini menunjukkan bahwa hukum-hukum Islam pada asalnya adalah mudah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa prinsip ini adalah salah satu kaidah besar dalam syariat, yaitu "tidak ada kesulitan dalam agama". Selama suatu perkara tidak jelas keharamannya, maka hukum asalnya adalah boleh dan tidak ada dosa.
- Perintah untuk Berobat (At-Tadawi): Pertanyaan para sahabat, "Apakah ada dosa jika kami tidak berobat?" dijawab oleh Nabi ﷺ dengan perintah yang jelas: "Berobatlah wahai hamba-hamba Allah!" Para ulama, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan disunnahkannya berobat, bahkan sebagian ulama berpendapat hukumnya wajib jika tanpa berobat akan membahayakan jiwa. Berobat tidak bertentangan dengan tawakal, karena tawakal adalah berserah diri kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang diperbolehkan. Justru berobat adalah bentuk ikhtiar dan kepatuhan kepada perintah Nabi ﷺ.
- Setiap Penyakit Ada Obatnya: Sabda Nabi ﷺ, "Allah tidak menciptakan penyakit kecuali Dia juga menciptakan obatnya, kecuali untuk usia tua" adalah kabar yang sangat menenangkan. Ini menunjukkan bahwa tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Jika obatnya belum ditemukan, itu bukan berarti tidak ada, tetapi mungkin ilmu manusia yang belum sampai. Pengecualian "usia tua" (al-haram) di sini bukanlah penyakit, melainkan proses alami penuaan yang berakhir dengan kematian. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa obat-obatan itu ada dua jenis: obat alami (seperti makanan dan tumbuhan) dan obat syar'i (seperti doa, ruqyah, dan dzikir). Keduanya adalah sarana yang Allah ﷻ jadikan sebagai sebab kesembuhan.
- Sebaik-baik Pemberian adalah Akhlak Mulia: Di akhir hadits, Nabi ﷺ ditanya tentang sebaik-baik pemberian kepada seorang hamba, dan beliau menjawab "Akhlak yang baik". Ini menunjukkan bahwa akhlak adalah puncak dari kebaikan agama. Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa akhlak yang baik adalah buah dari keimanan yang benar. Ia meliputi hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia. Akhlak yang baik akan mengantarkan seseorang pada derajat yang tinggi di sisi Allah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ bahwa orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat majelisnya dengan Nabi ﷺ adalah mereka yang paling baik akhlaknya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (yang dikenal sebagai ulama dan pemimpin yang zuhud) sangat memperhatikan kesehatan rakyatnya. Suatu ketika, ia menulis surat kepada gubernurnya agar memperhatikan pengobatan kaum muslimin dan memfasilitasi para dokter. Ini menunjukkan bahwa pemahaman para salaf terhadap hadits ini adalah bahwa berobat adalah bagian dari syariat yang harus diperhatikan, bahkan oleh seorang pemimpin. Mereka tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat; berobat adalah bagian dari ibadah dan kepatuhan kepada perintah Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Jangan berputus asa dari kesembuhan. Yakinlah bahwa setiap penyakit yang Allah turunkan pasti ada obatnya. Teruslah berikhtiar dengan cara-cara yang dibolehkan syariat.
- Berobatlah dengan sungguh-sungguh. Ini adalah perintah Nabi ﷺ. Gunakan obat yang halal dan diizinkan oleh ahli medis yang terpercaya. Jangan menggunakan cara-cara yang haram atau syirik.
- Jangan merasa sempit dengan agama. Islam itu mudah. Jika ada perkara yang tidak jelas, kembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama.
- Perbanyak doa dan ruqyah syar'i. Selain obat medis, mintalah kesembuhan kepada Allah dengan doa dan dzikir, karena itu adalah obat yang paling utama.
- Jadikan akhlak yang baik sebagai tujuan utama. Perbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Karena sebaik-baik pemberian adalah akhlak yang mulia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.