Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah ajaran Nabi ﷺ yang sangat indah dan penuh perhatian kepada umatnya. Beliau memerintahkan kita untuk menutup wadah makanan/minuman, mengikat kantong air, memadamkan lampu saat tidur, dan menutup pintu. Tujuannya ada dua: pertama, sebagai bentuk dzikir dan perlindungan dari gangguan setan; kedua, sebagai langkah keselamatan duniawi, yaitu mencegah bahaya kebakaran yang bisa disebabkan oleh tikus yang menjatuhkan lampu atau obor. Ini adalah ajaran yang menggabungkan antara adab spiritual dan kewaspadaan fisik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Minuman, Bab Menutup Wadah, nomor 3410. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dengan lafaz yang serupa.
Teks Hadits (dari Sunan Ibnu Majah):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ـ ﷺ ـ أَنَّهُ قَالَ " غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ وَأَطْفِئُوا السِّرَاجَ وَأَغْلِقُوا الْبَابَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَحُلُّ سِقَاءً وَلاَ يَفْتَحُ بَابًا وَلاَ يَكْشِفُ إِنَاءً فَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلاَّ أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ فَلْيَفْعَلْ فَإِنَّ الْفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ بَيْتَهُمْ " .
Terjemahan: Dari Jabir bin 'Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tutupilah wadah-wadah kalian, ikatlah kantong air kalian, padamkan lampu-lampu kalian, dan kuncilah pintu-pintu kalian, karena setan tidak membuka kantong air, tidak membuka pintu, dan tidak menyingkap wadah. Jika seseorang tidak menemukan sesuatu kecuali sebuah tongkat untuk menutup wadahnya dan menyebut nama Allah, maka lakukanlah. Dan tikus dapat membakar rumah dengan penghuninya di dalamnya."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Perintah untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga juga sejalan dengan firman Allah ﷻ:
لَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
"Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS. Al-Baqarah [2]: 195)
Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keselamatan jiwa dan harta, dan hadits di atas adalah salah satu bentuk penerapan praktisnya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Perintah Menutup Wadah dan Mengikat Kantong Air: Ini adalah perintah yang bersifat sunnah (anjuran). Tujuannya adalah untuk menjaga makanan dan minuman dari kotoran, debu, dan binatang, serta sebagai bentuk dzikir dengan menyebut nama Allah saat menutupnya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hikmahnya adalah untuk mencegah masuknya binatang berbisa atau kotoran, dan juga sebagai perlindungan dari gangguan setan.
- Perintah Memadamkan Lampu dan Menutup Pintu: Ini adalah perintah yang sangat menekankan aspek keselamatan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan membiarkan lampu menyala saat tidur adalah untuk mencegah bahaya kebakaran. Beliau menukil kisah bahwa pada zaman Nabi ﷺ, ada sebuah rumah yang terbakar karena tikus menjatuhkan lampu atau obor. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memerintahkan untuk memadamkan lampu sebelum tidur.
- Peran Setan: Ungkapan "setan tidak membuka kantong air, tidak membuka pintu, dan tidak menyingkap wadah" menunjukkan bahwa setan tidak memiliki kemampuan untuk membuka sesuatu yang telah ditutup dengan menyebut nama Allah. Ini adalah bentuk perlindungan spiritual. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa menutup wadah sambil menyebut nama Allah adalah sebab untuk menghalangi gangguan setan.
- Perintah Menyebut Nama Allah: Jika seseorang tidak memiliki tutup yang layak, maka cukup meletakkan sebatang kayu di atas wadahnya sambil menyebut nama Allah. Ini menunjukkan bahwa dzikir kepada Allah adalah kunci utama dalam setiap perlindungan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya sering menekankan bahwa dzikir adalah sebab terkuat untuk mendapatkan penjagaan dari Allah.
- Bahaya Tikus (Al-Fuwaisiqah): Nabi ﷺ menyebut tikus sebagai fuwaisiqah (binatang kecil yang fasik) karena ia dapat merusak dan membakar rumah. Ini adalah penjelasan logis mengapa lampu harus dipadamkan. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa tikus dapat menarik sumbu lampu yang menyala dan menjatuhkannya ke lantai, sehingga menyebabkan kebakaran.
Kesimpulan dari para ulama: Hadits ini menggabungkan antara adab spiritual (dzikir dan perlindungan dari setan) dengan adab duniawi (keselamatan dan pencegahan bahaya). Ini adalah ciri khas ajaran Islam yang sempurna, yang tidak hanya mengurus urusan akhirat tetapi juga urusan dunia dengan sangat baik.
Story Telling
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya sebuah kisah yang menjadi latar belakang sebagian dari hadits ini. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dia berkata:
"Seekor tikus menyeret sumbu lampu yang menyala, lalu menjatuhkannya ke hadapan Rasulullah ﷺ yang sedang duduk di atas tikar. Tikus itu membakar bagian tikar tersebut sebesar dirham (lubang kecil). Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Apabila kalian tidur, padamkanlah lampu-lampu kalian, karena sesungguhnya tikus (fuwaisiqah) dapat menyeret sumbu lampu dan membakar rumah kalian.'"
Kisah ini menunjukkan betapa perhatiannya Nabi ﷺ terhadap keselamatan umatnya. Beliau tidak hanya memberikan perintah tanpa alasan, tetapi juga menjelaskan hikmah dan latar belakangnya. Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa dalam setiap ajaran Islam, selalu ada kebaikan dan kemaslahatan yang besar.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan menutup wadah makanan dan minuman di rumah, sambil membaca "Bismillah".
- Pastikan mematikan kompor, lampu, dan peralatan listrik lainnya sebelum tidur atau meninggalkan rumah, sebagai langkah pencegahan kebakaran.
- Tutup dan kunci pintu rumah dengan rapat, sebagai bentuk ikhtiar menjaga keamanan keluarga.
- Tanamkan keyakinan bahwa dzikir dan doa adalah senjata utama seorang mukmin dalam menghadapi gangguan setan dan bahaya.
- Ajarkan adab-adab ini kepada anak-anak sejak dini, agar mereka terbiasa hidup dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.