Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ menolak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar makhluk bernyawa, sehingga beliau kembali pulang meskipun sudah diundang makan. Ini mengajarkan adab penting: menghormati tamu dengan menyiapkan tempat yang bersih dari hal-hal yang beliau tidak sukai, dan menjauhi gambar bernyawa di rumah. Sikap Nabi ﷺ ini bukan bentuk kemarahan pribadi, melainkan penegakan prinsip agama.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab "Jika Tamu Melihat Sesuatu yang Tidak Disukai, Maka Dia Kembali", dari jalur Abu Kuraib → Waki' → Hisyam ad-Dastawa'i → Qatadah → Sa'id bin al-Musayyib → 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ هِشَامٍ الدَّسْتَوَائِيِّ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: صَنَعْتُ طَعَامًا فَدَعَوْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَجَاءَ فَرَأَى فِي الْبَيْتِ تَصَاوِيرَ فَرَجَعَ.
Terjemahan: "Aku membuat makanan lalu mengundang Rasulullah ﷺ, beliau datang dan melihat di dalam rumah ada gambar-gambar, maka beliau pun kembali."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan pengagungan terhadap gambar bernyawa dan larangan menyerupai makhluk Allah:
QS. Al-A'raf [7]: 191
أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ
Terjemahan: "Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, sedangkan ia sendiri diciptakan?"
Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang menciptakan, sehingga meniru penciptaan makhluk bernyawa dalam bentuk gambar termasuk perkara yang dilarang, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya.
Hadits-hadits pendukung dari kitab shahih:
- Hadits dari 'Aisyah رضي الله عنها, diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim: Nabi ﷺ bersabda bahwa malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar (tashawir). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa gambar makhluk bernyawa menghalangi masuknya malaikat rahmat.
- Hadits dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنه, diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim: Nabi ﷺ bersabda: "Setiap pembuat gambar akan disiksa pada hari kiamat dan dikatakan kepadanya: hidupkanlah apa yang telah kamu ciptakan." Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan larangan ini mencakup gambar makhluk bernyawa yang sempurna.
Penjelasan Rinci
Hadits ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa sisi:
Pertama: Larangan gambar makhluk bernyawa di rumah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa gambar (tashawir) yang dimaksud adalah gambar makhluk bernyawa yang memiliki ruh, baik manusia maupun hewan. Ini termasuk perkara yang diharamkan karena mengandung unsur menyerupai penciptaan Allah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa gambar makhluk bernyawa menghalangi masuknya malaikat rahmat ke dalam rumah.
Kedua: Sikap Nabi ﷺ yang kembali bukan karena marah kepada 'Ali.
Sa'id bin al-Musayyib, perawi hadits ini, adalah salah satu tabi'in terkemuka yang dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan. Beliau memahami bahwa kembalinya Nabi ﷺ adalah bentuk penegakan prinsip, bukan penolakan terhadap pribadi 'Ali. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa Nabi ﷺ meninggalkan tempat yang mengandung kemungkaran sebagai bentuk pengingkaran dengan perbuatan (inkar bil fi'li), yang merupakan cara paling halus dalam menegur tanpa melukai perasaan tuan rumah.
Ketiga: Adab bertamu dan menerima tamu.
Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, salah satu perawi dalam sanad ini, dikenal sebagai mufassir yang mendalam pemahamannya. Beliau menjelaskan bahwa seorang muslim hendaknya mempersiapkan rumahnya untuk menerima tamu dengan hal-hal yang tidak membuat tamu merasa tidak nyaman, terlebih lagi jika tamunya adalah orang shalih. Ini termasuk adab Islam dalam memuliakan tamu.
Keempat: Perbedaan pendapat tentang gambar.
Di antara ulama dalam daftar, terdapat perincian: gambar makhluk bernyawa yang diharamkan adalah yang sempurna dan dipajang sebagai penghormatan. Adapun gambar yang dihinakan (seperti di alas kaki atau karpet yang diinjak), sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa membolehkan dengan syarat tidak diagungkan. Namun yang paling kuat dan paling selamat adalah menjauhi gambar makhluk bernyawa secara umum, sebagaimana keumuman larangan dalam hadits-hadits shahih.
Kelima: Hikmah pensyariatan.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in menjelaskan bahwa larangan gambar bernyawa adalah untuk menutup pintu syirik dan menjaga tauhid, karena gambar sering menjadi sarana pengagungan yang berlebihan terhadap makhluk. Ini sejalan dengan prinsip sadd adz-dzari'ah (menutup jalan menuju keburukan).
Story Telling
Dikisahkan bahwa 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, sepupu sekaligus menantu Nabi ﷺ, suatu hari memasak makanan dengan susah payah dan mengundang Nabi ﷺ untuk makan bersama. Betapa bahagianya beliau menyambut kedatangan Rasulullah ﷺ. Namun ketika Nabi ﷺ tiba di depan pintu dan melihat ada gambar-gambar di dalam rumah, beliau tidak masuk dan langsung kembali.
'Ali رضي الله عنه tentu merasa sedih, tetapi beliau tidak tersinggung. Beliau memahami bahwa ini adalah teguran halus dari Nabi ﷺ agar rumah seorang muslim bersih dari gambar makhluk bernyawa. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Nabi ﷺ berarti menerima teguran beliau dengan lapang dada, bukan mempertahankan kebiasaan yang beliau tidak sukai.
Sa'id bin al-Musayyib, yang meriwayatkan hadits ini dari 'Ali, adalah seorang tabi'in yang dikenal sebagai "sayyidul fuqaha" (pemimpin para ahli fiqih) di Madinah. Beliau sangat menjaga sunnah dan menjauhi hal-hal yang syubhat. Dari beliau kita belajar bahwa menyampaikan hadits seperti ini bukan untuk mempermalukan siapa pun, tetapi untuk menjaga kemurnian ajaran Islam.
Kesimpulan Praktis
- Bersihkan rumah dari gambar makhluk bernyawa yang dipajang dan diagungkan, karena ini menghalangi masuknya malaikat rahmat dan termasuk perkara yang Nabi ﷺ tidak sukai.
- Hormati tamu dengan menyiapkan tempat yang nyaman dan bebas dari hal-hal yang membuat tamu tidak betah, terlebih jika tamunya adalah orang shalih.
- Terimalah teguran dengan lapang dada, sebagaimana 'Ali رضي الله عنه yang tidak marah ketika Nabi ﷺ kembali dari rumahnya.
- Jangan menghakimi orang lain secara kasar ketika melihat kemungkaran; ikuti cara Nabi ﷺ yang menegur dengan perbuatan lembut tanpa melukai perasaan.
- Jaga tauhid dengan menjauhi segala sarana yang bisa mengarah pada pengagungan makhluk, karena ini adalah inti dakwah para nabi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.