Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan kesederhanaan hidup Nabi ﷺ: beliau memakai pakaian dari wol kasar, memakai sandal yang terbuat dari kulit yang dijahit (makhshuf), dan memakan roti gandum kasar (basyi') yang keras sehingga sulit ditelan kecuali dengan bantuan seteguk air. Ini menunjukkan zuhud dan kerendahan hati beliau, bukan karena keterpaksaan semata, tetapi sebagai pilihan hidup yang mulia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab Roti Barley (no. 3348), dari jalur Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memakai wol, memakai sandal makhshuf, dan makan basyi' (roti gandum kasar). Al-Hasan al-Bashri ketika ditanya tentang makna "basyi'" menjawab: "Yaitu gandum yang kasar, yang tidak bisa ditelan kecuali dengan seteguk air."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Ahzab [33]: 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Terjemahan: "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat, dan yang banyak mengingat Allah."
Kaitan dengan ulama:
- Al-Hasan al-Bashri (tabi'in) adalah perawi dalam sanad hadits ini dan beliau yang menjelaskan makna "basyi'".
- Ibnu Majah meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya.
- Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan tentang zuhud Nabi ﷺ dalam kitab-kitab mereka.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya membahas tentang kesederhanaan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa poin penting yang perlu dipahami:
1. Pakaian Nabi ﷺ dari wol (shuf)
Wol adalah bahan pakaian yang kasar dan sederhana pada masa itu. Nabi ﷺ memilihnya bukan karena tidak mampu memakai yang lebih halus, tetapi sebagai bentuk zuhud dan kerendahan hati. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang memakai pakaian yang halus dan bagus, tetapi beliau lebih sering memilih yang sederhana. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak melarang kemewahan secara mutlak, tetapi mengajarkan keseimbangan dan tidak berlebihan.
2. Sandal makhshuf
Makhshuf adalah sandal yang terbuat dari kulit yang dijahit dan ditambal. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak malu memakai sandal yang sederhana, bahkan yang sudah ditambal. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini adalah bentuk tawadhu' (kerendahan hati) dan menjauhi sikap sombong.
3. Makan basyi' (roti gandum kasar)
Al-Hasan al-Bashri menjelaskan bahwa basyi' adalah gandum kasar yang sulit ditelan. Ini menggambarkan bahwa makanan Nabi ﷺ sangat sederhana. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah makan roti yang halus (muraqqaq) sampai beliau wafat, kecuali dalam kondisi tertentu. Ini menunjukkan zuhud beliau terhadap dunia.
4. Perbedaan pendapat tentang sanad
Hadits ini diriwayatkan melalui jalur Nu'uh bin Dzakwan dari Al-Hasan dari Anas. Sebagian ulama hadits seperti Yahya bin Ma'in dan Ali bin al-Madini membahas tentang kualitas sanad ini. Namun, maknanya tetap shahih dan didukung oleh hadits-hadits lain tentang kesederhanaan Nabi ﷺ.
5. Pelajaran tentang zuhud
Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Nabi ﷺ adalah teladan dalam hal ini: beliau bisa saja memakai pakaian mewah dan makan makanan lezat, tetapi beliau memilih yang sederhana untuk mengajarkan umatnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu masuk ke rumah Nabi ﷺ dan melihat beliau sedang berbaring di atas tikar yang kasar. Tikar itu meninggalkan bekas di kulit beliau. Umar pun menangis. Nabi ﷺ bertanya: "Apa yang membuatmu menangis, wahai Umar?" Umar menjawab: "Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar hidup dalam kemewahan, sedangkan engkau adalah Rasulullah yang paling mulia, namun engkau tidur di atas tikar kasar ini." Nabi ﷺ menjawab: "Wahai Umar, tidakkah engkau ridha bahwa mereka mendapatkan dunia dan kita mendapatkan akhirat?" (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menggambarkan betapa sederhananya hidup Nabi ﷺ. Beliau tidak tertarik pada kemewahan dunia, karena beliau tahu bahwa kebahagiaan sejati adalah di akhirat.
Kesimpulan Praktis
- Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ — Tidak berlebihan dalam berpakaian, makan, dan gaya hidup.
- Zuhud bukan berarti miskin — Zuhud adalah sikap hati yang tidak terikat pada dunia, meskipun memiliki harta.
- Jangan malu dengan kesederhanaan — Nabi ﷺ memakai sandal yang ditambal dan makan roti kasar, ini adalah kemuliaan, bukan kekurangan.
- Syukuri apa yang ada — Makanan sederhana yang halal lebih baik daripada makanan mewah yang haram atau berlebihan.
- Fokus pada akhirat — Dunia adalah tempat singgah sementara, akhirat adalah tujuan akhir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.