Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3347 tentang Kesederhanaan hidup dan sabar dalam kekurangan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan kehidupan Rasulullah ﷺ yang sangat sederhana dan zuhud terhadap dunia. Beliau ﷺ dan keluarganya sering melewati malam-malam berturut-turut dalam keadaan lapar karena tidak mendapatkan makanan untuk makan malam. Dan makanan pokok mereka sehari-hari hanyalah roti dari gandum barley (syair), yang merupakan makanan sederhana dan kasar, bukan roti gandum halus yang lezat. Ini adalah pelajaran besar tentang zuhud, qana'ah (merasa cukup), dan kesabaran, serta menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan kemewahan dunia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab Roti Barley, nomor 3347. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, dan Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya.

Berikut teks haditsnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاوِيَةَ الْجُمَحِيُّ، حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ هِلاَلِ بْنِ خَبَّابٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ يَبِيتُ اللَّيَالِيَ الْمُتَتَابِعَةَ طَاوِيًا وَأَهْلُهُ لاَ يَجِدُونَ الْعَشَاءَ وَكَانَ عَامَّةُ خُبْزِهِمْ خُبْزُ الشَّعِيرِ

Maknanya: "Rasulullah ﷺ biasa melewati malam-malam yang berturut-turut dalam keadaan lapar, dan keluarganya tidak mendapatkan makan malam. Dan umumnya roti mereka adalah roti barley (gandum syair)."

Hadits ini juga dikuatkan oleh hadits shahih dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, bahwa keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dengan roti gandum (hinthah) selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat.

Ayat yang relevan dengan makna ini adalah firman Allah Ta'ala:

وَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

QS. Al-Qashash [28]: 60 — "Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?"

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa tingginya derajat zuhud Rasulullah ﷺ. Beliau adalah pemimpin umat, namun hidupnya jauh dari kemewahan. Mari kita simak penjelasan beberapa ulama:

1. Makna "Yabiitu al-layali al-mutataabi'ah thaawiyan" (melewati malam berturut-turut dalam keadaan lapar)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah kabar tentang kondisi Rasulullah ﷺ yang sering kali tidak mendapatkan makanan untuk berbuka atau makan malam. Ini bukan karena beliau tidak mampu, tetapi karena beliau memilih hidup sederhana dan lebih mengutamakan orang lain serta akhirat.

2. Makna "Khaubzusy-sya'iir" (roti barley)

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa roti barley adalah makanan yang sederhana dan kasar dibandingkan roti gandum (hinthah). Barley memiliki tekstur yang lebih berat dan kurang enak, namun lebih mengenyangkan. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak memilih makanan yang paling lezat, tetapi yang paling sederhana.

3. Pelajaran Zuhud dari Para Ulama

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa zuhud bukanlah berarti mengharamkan yang halal, tetapi zuhud adalah menjadikan hati tidak terikat pada dunia. Rasulullah ﷺ bisa saja hidup mewah, tetapi beliau memilih sederhana karena ingin mencontohkan umatnya agar tidak tenggelam dalam kemewahan dunia.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa kehidupan sederhana Rasulullah ﷺ ini adalah bentuk pendidikan terbaik bagi umat. Beliau mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan pada banyaknya harta, tetapi pada ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah.

4. Hikmah di Balik Kesederhanaan

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah Ta'ala menjadikan kehidupan Nabi-Nya sederhana agar menjadi pelajaran bahwa kenikmatan dunia bukanlah tujuan utama. Tujuan utama adalah akhirat dan ridha Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga menjelaskan bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ bukan berarti Islam menganjurkan kemiskinan, tetapi Islam mengajarkan keseimbangan—tidak berlebihan dalam dunia dan tidak pula melalaikannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dengan roti gandum selama tiga malam berturut-turut sejak beliau tiba di Madinah sampai beliau wafat." (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain, 'Aisyah juga berkata: "Kami pernah melewati bulan (sebulan penuh) tanpa menyalakan api (untuk memasak). Makanan kami hanyalah kurma dan air, kecuali jika ada seseorang yang memberi kami daging." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bayangkan, ini adalah rumah Nabi ﷺ—rumah yang paling mulia di sisi Allah. Namun, mereka hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa. Ini bukan karena Allah tidak mampu memberikan kekayaan kepada Nabi-Nya, tetapi ini adalah pilihan dan ujian. Dan Nabi ﷺ tetap sabar, bersyukur, dan tidak pernah mengeluh.

Para sahabat pun meneladani hal ini. Umar bin al-Khathab radhiyallahu 'anhu ketika menjadi khalifah, beliau tetap hidup sederhana. Beliau pernah berkata: "Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Maka jika kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, Allah akan menghinakan kami."

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini.
  2. Bersyukur atas apa yang ada, meskipun sederhana. Jangan selalu membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya, tetapi lihatlah orang yang lebih susah.
  3. Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Harta dan kemewahan hanyalah sarana, bukan tujuan. Tujuan kita adalah ridha Allah dan kebahagiaan akhirat.
  4. Menahan diri dari keluhan. Nabi ﷺ tidak pernah mengeluh tentang kehidupannya yang sederhana. Beliau justru bersabar dan bersyukur.
  5. Mendahulukan orang lain dalam kebaikan, sebagaimana Nabi ﷺ yang sering memberi meskipun beliau sendiri kekurangan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.