Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3336 tentang Makanan penduduk setempat dan cara mengolah tepung

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Ummu Aiman radhiyallahu 'anha pernah menyaring tepung (mengayaknya) lalu membuat roti untuk Nabi ﷺ. Ketika Nabi ﷺ melihatnya, beliau bertanya apa itu, lalu memerintahkan agar tepung yang telah disaring itu dikembalikan (dicampur lagi) dan diuleni. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menyukai sikap berlebihan dalam mengolah makanan dan mengajarkan kesederhanaan, meskipun beliau tidak mengharamkannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab Al-Huwari, dari Ummu Aiman radhiyallahu 'anha.

Teks hadits lengkapnya:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، أَخْبَرَنِي بَكْرُ بْنُ سَوَادَةَ، أَنَّ حَنَشَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَهُ عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ، أَنَّهَا غَرْبَلَتْ دَقِيقًا فَصَنَعَتْهُ لِلنَّبِيِّ ﷺ رَغِيفًا فَقَالَ "مَا هَذَا". قَالَتْ طَعَامٌ نَصْنَعُهُ بِأَرْضِنَا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَصْنَعَ مِنْهُ لَكَ رَغِيفًا. فَقَالَ "رُدِّيهِ فِيهِ ثُمَّ اعْجِنِيهِ"

Terjemahan: "Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Humaid bin Kasib, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku 'Amr bin Al-Harits, telah mengabarkan kepadaku Bakr bin Sawadah, bahwa Hanasy bin Abdullah menceritakan kepadanya dari Ummu Aiman, bahwa ia menyaring tepung lalu membuatkannya roti untuk Nabi ﷺ. Beliau bertanya: 'Apa ini?' Ia menjawab: 'Ini makanan yang kami buat di tanah kami, dan aku ingin membuatkan roti ini untukmu.' Beliau bersabda: 'Kembalikanlah ke dalamnya (campurkan kembali), kemudian uleni.'"

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab makan dan kesederhanaan:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

QS. Al-A'raf [7]: 31

Terjemahan: "Dan makanlah serta minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

Pertama: Makna perintah Nabi ﷺ "رُدِّيهِ فِيهِ ثُمَّ اعْجِنِيهِ" (Kembalikan ke dalamnya, lalu uleni).

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam penjelasan hadits-hadits tentang makanan menjelaskan bahwa perintah Nabi ﷺ ini menunjukkan bimbingan beliau kepada kesederhanaan dan menjauhi sikap berlebihan dalam mengolah makanan. Menyaring tepung (gharbalah) adalah bentuk pemurnian yang berlebihan yang tidak diperlukan, terlebih jika hal itu memberatkan atau menghilangkan bagian yang masih bermanfaat dari tepung.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas adab-adab makanan menyebutkan bahwa Nabi ﷺ adalah teladan dalam kesederhanaan, dan beliau tidak menyukai sesuatu yang memberatkan diri atau berlebihan dalam urusan dunia, termasuk dalam mengolah makanan.

Kedua: Sikap Nabi ﷺ yang lembut dan tidak mengharamkan.

Perhatikan bahwa Nabi ﷺ tidak mengatakan "haram" atau melarang dengan keras. Beliau hanya memerintahkan agar tepung itu dikembalikan dan diuleni. Ini menunjukkan bahwa perkara ini adalah perkara yang bersifat bimbingan (irsyad) dan bukan pengharaman. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam penjelasan beliau tentang adab-adab Nabi ﷺ menegaskan bahwa Nabi ﷺ dalam urusan makanan dan minuman sering memberikan arahan yang bertujuan mendidik umat agar hidup sederhana, bukan untuk mengharamkan sesuatu yang pada dasarnya halal.

Ketiga: Hadits ini menunjukkan keutamaan Ummu Aiman radhiyallahu 'anha.

Ummu Aiman adalah wanita mulia yang pernah mengasuh Nabi ﷺ. Beliau adalah ibu dari Usamah bin Zaid. Perhatian beliau kepada Nabi ﷺ dengan membuatkan roti menunjukkan kecintaan dan pengabdian beliau. Namun Nabi ﷺ tetap membimbing beliau kepada yang lebih baik.

Keempat: Perbedaan pendapat ulama tentang hukum menyaring tepung.

Sebagian ulama memahami bahwa menyaring tepung (gharbalah) hukumnya mubah, dan perintah Nabi ﷺ untuk mengembalikannya adalah bentuk bimbingan agar tidak berlebihan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam prinsip-prinsip beliau tentang muamalah menegaskan bahwa pada dasarnya segala sesuatu dalam makanan adalah halal kecuali yang diharamkan oleh dalil. Menyaring tepung tidak diharamkan, tetapi sikap berlebihan dalam mengolah makanan yang sampai menghilangkan keberkahan atau memberatkan diri adalah yang tidak disukai.

Kelima: Kaitan dengan ayat QS. Al-A'raf [7]: 31.

Ayat ini menjadi dasar larangan berlebih-lebihan (israf) dalam makan dan minum. Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa israf dalam makanan mencakup mengolahnya dengan cara yang berlebihan, menyia-nyiakan, atau melampaui batas kebutuhan. Nabi ﷺ dalam hadits ini mengajarkan agar makanan diolah dengan sederhana dan tidak berlebihan.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ummu Aiman radhiyallahu 'anha, wanita mulia yang telah merawat Nabi ﷺ sejak kecil, suatu hari ingin menyajikan sesuatu yang istimewa untuk beliau. Ia menyaring tepung dengan halus, sesuatu yang tidak biasa dilakukan di daerahnya, lalu membuat roti yang lebih lembut dan putih dari biasanya. Ketika ia menyajikannya kepada Nabi ﷺ, beliau bertanya dengan lembut: "Apa ini?" Ummu Aiman menjawab dengan penuh kasih: "Ini makanan yang kami buat di tanah kami, dan aku ingin membuatkan roti ini untukmu."

Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang tidak ingin menolak kebaikan hati Ummu Aiman, namun beliau juga ingin mendidik umatnya agar tidak berlebihan. Dengan lembut beliau bersabda: "Kembalikanlah ke dalamnya, kemudian uleni." Beliau mengajarkan bahwa makanan yang sederhana, yang tidak melalui proses berlebihan, adalah yang lebih baik dan lebih berkah. Ummu Aiman pun menerima bimbingan itu dengan hati yang lapang, karena ia tahu bahwa Nabi ﷺ tidak pernah memerintahkan kecuali kepada kebaikan.

Kisah ini mengingatkan kita pada kesederhanaan Nabi ﷺ yang selalu menjadi teladan. Beliau makan apa yang ada, tidak menuntut yang tidak ada, dan tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Inilah pelajaran berharga bagi kita semua.

Kesimpulan Praktis

  1. Hendaklah kita hidup sederhana dalam mengolah dan mengonsumsi makanan. Tidak perlu berlebihan dalam memproses makanan hingga menghilangkan bagian yang bermanfaat atau memberatkan diri.
  2. Nabi ﷺ adalah teladan dalam kesederhanaan. Beliau tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, namun beliau juga tidak mengharamkan apa yang Allah halalkan.
  3. Bimbingan Nabi ﷺ dalam makanan adalah bentuk kasih sayang. Beliau ingin umatnya hidup sehat, sederhana, dan tidak terjebak dalam israf (berlebih-lebihan).
  4. Hendaklah kita menerima nasihat dengan lapang dada. Sebagaimana Ummu Aiman menerima bimbingan Nabi ﷺ dengan baik, kita pun hendaknya menerima nasihat dari orang yang lebih tahu dengan hati yang terbuka.
  5. Janganlah kita menyia-nyiakan makanan. Menyaring tepung hingga membuang bagian yang masih bisa dimakan adalah bentuk pemborosan yang tidak disukai.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?