Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3318 tentang Keberkahan cuka sebagai bumbu para nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa cuka adalah makanan/bumbu yang sederhana namun penuh berkah, bahkan disebut sebagai bumbu para nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ mendoakan keberkahan bagi cuka dan menyebut bahwa rumah yang memiliki cuka tidak akan jatuh miskin. Para ulama menjelaskan ini sebagai anjuran untuk qana'ah (merasa cukup) dengan makanan sederhana dan tidak meremehkan nikmat kecil.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Makanan, Bab Menggunakan Cuka, no. 3318, dari Ummu Sa'd (seorang wanita, bukan Ummu Sa'd bin Abi Waqqash). Rantai periwayatannya: Al-'Abbas bin Utsman ad-Dimasyqi → Al-Walid bin Muslim → 'Anbasah bin 'Abdurrahman → Muhammad bin Zadzan → Ummu Sa'd.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan makanan yang baik dan bersyukur atas nikmat:

QS. Al-Baqarah [2]: 172

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah."

QS. Ibrahim [14]: 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"

Kaitan dengan ulama: Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan memakan yang halal dan thayyib serta bersyukur, dan bahwa syukur adalah sebab datangnya tambahan nikmat. As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa syukur mencakup hati, lisan, dan perbuatan, termasuk tidak meremehkan nikmat sederhana seperti cuka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama:

Pertama: Kesederhanaan Nabi ﷺ dalam makanan.

Nabi ﷺ bertanya "Apakah ada makanan?" lalu menerima apa adanya roti, kurma, dan cuka. Ini menunjukkan zuhud dan qana'ah beliau. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits tentang makanan menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan; jika beliau suka, beliau makan, jika tidak, beliau tinggalkan. Sikap ini adalah adab mulia yang seharusnya diteladani.

Kedua: Doa Nabi ﷺ untuk keberkahan cuka.

Sabda beliau "اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي الْخَلِّ" (Ya Allah, berkahilah cuka) adalah doa khusus yang menunjukkan keutamaan cuka sebagai makanan sederhana. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan manfaat cuka dan bahwa Nabi ﷺ memuji cuka sebagai lauk yang baik. Beliau juga menjelaskan bahwa cuka memiliki sifat memperbaiki pencernaan dan bermanfaat bagi tubuh.

Ketiga: "Cuka adalah bumbu para nabi sebelumku."

Ini menunjukkan bahwa cuka telah lama menjadi makanan para nabi, yang mengisyaratkan kesederhanaan para nabi dan bahwa mereka tidak menuntut makanan mewah. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para nabi adalah orang-orang yang paling zuhud dan sederhana dalam makanan, dan cuka menjadi simbol kesederhanaan itu.

Keempat: "Tidak ada rumah yang akan miskin di dalamnya cuka."

Para ulama berbeda dalam memahami kalimat ini. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (ketika membahas hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa maknanya adalah rumah yang memiliki cuka sebagai lauk tidak akan kekurangan makanan, karena cuka dapat menjadi penyedap dan pengganti lauk yang mahal. Sebagian ulama memahami ini sebagai doa Nabi ﷺ, sebagian lain sebagai khabar (berita) bahwa rumah dengan cuka akan selalu cukup. Al-'Aini dan ulama lain menyebutkan bahwa ini adalah isyarat bahwa qana'ah dengan makanan sederhana membawa keberkahan dan kecukupan.

Catatan tentang status hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Zadzan dan 'Anbasah bin 'Abdurrahman. Para ulama hadits seperti Al-Bukhari dan Abu Hatim ar-Razi menilai sebagian perawi dalam sanad ini perlu ditinjau. Namun makna hadits ini didukung oleh hadits serupa dalam Shahih Muslim dari Jabir bin 'Abdullah dan Shahih Bukhari dari 'Aisyah tentang pujian Nabi ﷺ terhadap cuka. Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Shahih Sunan Ibnu Majah menilai hadits ini hasan atau shahih dengan syawahid (penguat) dari riwayat lain.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti At-Tirmidzi menyebutkan hadits ini dalam konteks keutamaan cuka. Ibnul Qayyim menegaskan bahwa cuka adalah makanan yang bermanfaat dan dianjurkan. Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar bahwa cuka adalah makanan halal dan baik, serta bahwa kesederhanaan dalam makanan adalah sunnah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha suatu ketika ditanya tentang makanan Nabi ﷺ di rumahnya. Beliau menjawab bahwa sering kali yang ada hanya roti dan cuka. Suatu hari seorang tamu wanita, Ummu Sa'd, berada di rumah 'Aisyah ketika Nabi ﷺ masuk dan bertanya tentang makanan. 'Aisyah menyebutkan apa yang ada: roti, kurma, dan cuka. Nabi ﷺ tidak mencela, tidak meminta yang lain, tetapi justru memuji cuka dan mendoakan keberkahannya.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin adalah orang yang paling qana'ah (merasa cukup) dengan makanan sederhana, dan bahwa makanan para nabi adalah makanan yang paling sederhana. Sufyan ats-Tsauri juga dikenal sangat zuhud; beliau pernah berkata: "Barangsiapa yang mengenal hakikat dunia, ia tidak akan sedih karena kehilangan sesuatu darinya, dan tidak akan sombong karena mendapatkannya."

Hikmahnya: rumah yang penuh syukur dengan makanan sederhana lebih berkah daripada rumah yang penuh makanan mewah tetapi kurang syukur.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meremehkan makanan sederhana. Cuka, roti, dan kurma adalah makanan sederhana namun diberkahi. Nabi ﷺ memuji cuka dan mendoakannya.
  2. Biasakan qana'ah (merasa cukup). Rumah yang memiliki cuka tidak akan miskin — maknanya, rumah yang qana'ah dengan yang ada akan selalu merasa cukup dan berkah.
  3. Ucapkan doa dan syukur atas makanan. Nabi ﷺ mengajarkan untuk mendoakan keberkahan atas makanan yang ada, bukan mengeluh.
  4. Teladani kesederhanaan Nabi ﷺ. Beliau tidak menuntut makanan mewah, tetapi menerima apa yang ada dengan syukur.
  5. Gunakan cuka sebagai lauk atau bumbu — ini adalah sunnah yang baik dan bermanfaat, sebagaimana dijelaskan Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?