Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3259 tentang Larangan mengkritik makanan

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia Nabi ﷺ dalam menyikapi makanan: beliau tidak pernah mencela atau mengkritik makanan apa pun. Jika beliau menyukainya, beliau makan; jika tidak menyukainya, beliau tinggalkan tanpa mengucapkan kata-kata buruk. Ini adalah pelajaran tentang akhlak, rasa syukur, dan menghindari sikap sombong terhadap rezeki Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab Larangan Mengkritik Makanan (no. 3259). Redaksi hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

Teks Arab (berharakat lengkap):

مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، إِنْ رَضِيَهُ أَكَلَهُ، وَإِلَّا تَرَكَهُ

Terjemahan:

"Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya; dan jika tidak, beliau meninggalkannya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan makna yang sama. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil disunnahkannya tidak mencela makanan, baik dari segi rasa, bentuk, maupun sifatnya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa meninggalkan makanan yang tidak disukai tanpa mencela adalah bentuk tawadhu' dan adab terhadap nikmat Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang agung dalam bermuamalah dengan makanan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa mencela makanan bisa berupa menghina rasanya, baunya, bentuknya, atau cara penyajiannya. Semua itu dilarang karena makanan adalah rezeki dari Allah, dan mencela rezeki berarti tidak mensyukuri nikmat-Nya.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa sikap Nabi ﷺ ini mengandung hikmah: pertama, menjaga perasaan orang yang menyajikan makanan; kedua, menghindari sikap sombong dan merasa lebih baik; ketiga, mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap qana'ah (merasa cukup) dan tidak berlebihan dalam menuntut makanan.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menolak makanan yang halal dengan cara yang menyakitkan hati. Jika beliau tidak menyukainya, beliau cukup meninggalkannya tanpa komentar. Ini adalah bentuk kasih sayang kepada sesama dan adab terhadap pemberian Allah.

Para ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i juga mengajarkan agar seseorang tidak mencela makanan, karena itu termasuk akhlak yang tercela. Imam Al-Ghazali (meskipun tidak termasuk dalam daftar rujukan utama, namun beliau adalah ulama yang diakui) juga menekankan hal ini, namun kita cukupkan pada ulama yang telah disebutkan.

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah ditawari daging dhab (biawak) dan beliau tidak memakannya, tetapi tidak mencela. Beliau hanya berkata, "Makanan ini tidak ada di negeriku." Ini menunjukkan bahwa meninggalkan makanan yang tidak disukai boleh, asalkan tidak dengan celaan.

Story Telling

Suatu ketika, seorang sahabat menyajikan makanan kepada Nabi ﷺ. Makanan itu terasa asing bagi beliau. Namun, beliau tidak mengucapkan sepatah kata pun yang menyinggung perasaan penyajinya. Beliau hanya diam dan tidak memakannya. Para sahabat yang melihat pun memahami bahwa beliau tidak menyukainya, tetapi tidak ada celaan yang keluar dari lisan beliau. Sikap ini mengajarkan kepada para sahabat untuk selalu menjaga lisan dan perasaan orang lain, terutama dalam hal makanan yang merupakan rezeki dari Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah mencela makanan, baik rasanya, bentuknya, maupun baunya.
  2. Jika menyukai makanan, makanlah dengan syukur; jika tidak, tinggalkan dengan tenang tanpa komentar negatif.
  3. Jagalah perasaan orang yang telah menyajikan makanan, karena itu bagian dari akhlak mulia.
  4. Tanamkan sikap qana'ah dan syukur atas setiap rezeki yang Allah berikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?