Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang adab makan yang baik, yaitu tidak berlebihan dan cukup makan sekadar kebutuhan. Orang mukmin yang hatinya sibuk dengan akhirat akan sederhana dalam urusan dunia, termasuk makan. Adapun orang kafir yang tujuan hidupnya hanya dunia, ia akan tenggelam dalam syahwat dan keserakahan, sehingga perutnya selalu ingin dipenuhi. Ini adalah bimbingan Nabi ﷺ agar kita hidup sederhana dan tidak rakus.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab "Orang Beriman Makan dengan Satu Usus dan Orang Kafir Makan dengan Tujuh Usus" (no. 3258), dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2060) dari jalur yang sama.
Teks hadits dalam bahasa Arab:
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ جَدِّهِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ ﷺ ـ " الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ " .
Makna ringkas: Orang beriman makan dengan satu usus (cukup dan sederhana), sedangkan orang kafir makan dengan tujuh usus (selalu merasa lapar dan tidak pernah puas).
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf [7]: 31)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan makna hadits ini dalam beberapa pemahaman:
1. Makna Zhahir (Tekstual) dan Makna Kiasan
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini bisa dipahami dalam dua makna:
- Makna hakiki (tekstual): Orang kafir benar-benar memiliki tujuh usus secara fisik, sehingga ia makan lebih banyak. Namun ini pendapat yang lemah karena secara medis semua manusia sama.
- Makna kiasan (majaz): Yang lebih kuat menurut para ulama, termasuk Imam an-Nawawi, adalah makna kiasan. Maksudnya, orang kafir itu rakus dan serakah dalam makan, tidak pernah merasa kenyang, karena hatinya kosong dari dzikir kepada Allah. Adapun orang mukmin, hatinya penuh dengan mengingat Allah, sehingga ia merasa cukup dengan makanan yang sedikit.
2. Penjelasan Imam Ibnul Qayyim
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bimbingan agar seorang mukmin tidak menjadikan perutnya sebagai tujuan utama. Beliau berkata bahwa makan yang cukup adalah yang menguatkan badan untuk taat kepada Allah, bukan makan untuk memuaskan syahwat semata.
3. Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa orang mukmin itu sederhana dalam makan. Beliau mencontohkan bahwa sebagian orang makan sangat banyak sampai perutnya penuh, dan ini bukanlah sifat orang beriman. Orang beriman makan sekadar menghilangkan lapar dan menguatkan badan untuk beribadah.
4. Hikmah dari Sisi Medis dan Psikologis
Para ulama juga menjelaskan bahwa orang yang hatinya sibuk dengan urusan akhirat akan merasakan kenikmatan yang lebih besar dalam ibadah daripada kenikmatan makan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki hubungan dengan Allah akan mencari kebahagiaan dalam hal-hal duniawi, termasuk makanan, sehingga ia tidak pernah merasa puas.
5. Adab Makan dalam Islam
Dari hadits ini, para ulama menyimpulkan beberapa adab makan:
- Tidak berlebihan dalam makan
- Mengisi perut dengan tiga bagian: sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga untuk nafas (sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Miqdam bin Ma'dikarib)
- Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang
Story Telling
Dikisahkan bahwa sebagian ulama salaf sangat sederhana dalam makan. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal sangat zuhud dalam makanan. Beliau pernah ditanya tentang makanan yang paling beliau sukai, maka beliau menjawab, "Makanan yang paling aku sukai adalah yang paling sedikit dan paling murah." Beliau hidup dengan sangat sederhana meskipun ilmunya sangat luas dan kedudukannya tinggi di sisi umat.
Dikisahkan juga bahwa sebagian salaf berkata, "Barangsiapa yang ingin merasakan manisnya ibadah, maka hendaklah ia sedikit makan." Karena perut yang kosong membuat hati lebih jernih untuk berdzikir dan merenung.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan makan secukupnya — makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum terlalu kenyang.
- Jadikan makan sebagai sarana ibadah — niatkan makan untuk menguatkan badan agar bisa taat kepada Allah.
- Hindari sifat rakus dan serakah — karena itu adalah sifat yang tercela dan dijauhkan dari sifat orang beriman.
- Isi hati dengan dzikir kepada Allah — karena hati yang penuh dengan mengingat Allah akan merasa cukup dengan yang sedikit.
- Terapkan pola makan sehat ala Nabi ﷺ — sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.