Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3257 tentang Orang beriman makan secukupnya, orang kafir makan berlebihan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang adab makan yang sangat penting, yaitu kesederhanaan dan tidak berlebihan. Seorang mukmin yang kuat imannya akan merasa cukup dengan makanan yang sedikit dan tidak mengisi perutnya secara berlebihan. Adapun orang kafir yang tidak memiliki cahaya iman di hatinya, ia tenggelam dalam syahwat dan keserakahan, sehingga ia makan dengan sangat banyak. Ini adalah bimbingan Nabi ﷺ agar kita menjaga pola makan yang sehat dan menjadi hamba yang bersyukur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

> حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ـ ﷺ ـ قَالَ " الْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ وَالْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ " .

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, lafaznya serupa. Ini menunjukkan hadits ini shahih dan disepakati keshahihannya.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

> وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

QS. Al-A'raf [7]: 31

Artinya: "Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa orang mukmin itu sederhana dalam makan dan minum, sedangkan orang kafir sangat rakus. Beliau juga menukil perkataan ulama bahwa yang dimaksud dengan "tujuh usus" adalah banyaknya makanan yang masuk ke perut orang kafir karena keserakahannya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah anjuran untuk tidak berlebihan dalam makan, dan bahwa orang mukmin itu makan sekadar kebutuhan untuk menegakkan ibadah, bukan untuk bersenang-senang.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa makna penting:

1. Makna Zhahir (Tekstual) dan Makna Kiasan

Sebagian ulama memaknai "tujuh usus" secara tekstual, bahwa orang kafir secara fisik memiliki usus yang lebih banyak atau lebih besar. Namun, pendapat yang lebih kuat dan dipilih oleh mayoritas ulama adalah ini merupakan kiasan. Yang dimaksud adalah orang kafir itu sangat rakus dan serakah dalam makan, seolah-olah ususnya tujuh kali lipat dari usus orang mukmin. Sedangkan orang mukmin itu sederhana, sehingga ususnya seakan hanya satu.

2. Mengapa Orang Kafir Rakus?

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa orang kafir tidak memiliki cahaya iman yang mengendalikan syahwatnya. Hatinya kosong dari dzikir dan rasa syukur, sehingga ia mencari kebahagiaan hanya melalui perutnya. Makanan menjadi tujuannya yang paling besar. Berbeda dengan orang mukmin, ia makan untuk beribadah, untuk kuat shalat dan berdzikir, sehingga ia tidak diperbudak oleh perutnya.

3. Pelajaran dari Hadits Ini

  • Menjaga kesederhanaan dalam makan dan minum adalah ciri keimanan.
  • Tidak berlebihan adalah perintah Allah dalam Al-Qur'an, dan hadits ini memperkuatnya.
  • Tujuan makan bagi seorang mukmin adalah untuk menunjang ibadah, bukan untuk bersenang-senang semata.
  • Rasa kenyang yang berlebihan dapat membuat hati lalai dan badan malas beribadah.

Imam asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata bahwa kenyang yang berlebihan membuat badan berat untuk beribadah dan membuat hati menjadi keras. Beliau juga menasihatkan agar seseorang makan sekadar sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat sederhana dalam makanannya. Beliau sering makan roti kering dengan garam, dan kadang hanya dengan air. Ketika ditanya mengapa beliau tidak menikmati makanan yang lebih baik, beliau menjawab, "Aku hanya ingin menjadi hamba yang bersyukur, bukan hamba yang diperbudak oleh perutnya."

Ada juga kisah tentang Sufyan ats-Tsauri rahimahullah yang sangat menjaga pola makannya. Beliau berkata, "Barangsiapa yang banyak makan, maka ia akan banyak tidur, dan barangsiapa yang banyak tidur, maka ia akan banyak kehilangan pahala ibadah malamnya."

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami hadits ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak menjadikan perut sebagai tuan, tetapi menjadikannya sebagai kendaraan untuk taat kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Makanlah secukupnya, tidak berlebihan dan tidak terlalu sedikit hingga melemahkan badan.
  2. Niatkan makan untuk ibadah, yaitu agar kuat shalat, bekerja, dan beraktivitas yang bermanfaat.
  3. Jangan mengikuti hawa nafsu dalam memilih makanan dan minuman secara berlebihan.
  4. Sunnah Nabi ﷺ adalah mengisi sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas.
  5. Hindari sifat rakus karena itu adalah ciri orang yang jauh dari Allah, dan jadilah hamba yang sederhana dan bersyukur.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?