Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3254 tentang Makanan satu orang cukup untuk dua orang

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa makanan yang sedikit bisa mencukupi banyak orang jika disertai keberkahan dari Allah, sikap qana'ah (merasa cukup), dan kebiasaan berbagi. Rasulullah ﷺ menyebut pola berlipat: makanan satu orang cukup untuk dua, dua cukup untuk empat, empat cukup untuk delapan. Ini bukan janji matematis mutlak, tetapi dorongan agar kita tidak pelit, tidak rakus, dan yakin bahwa keberkahan makanan datang dari Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Makanan, Bab "Makanan Satu Orang Cukup untuk Dua". Sanadnya: Muhammad bin Abdullah ar-Raqi → Yahya bin Ziyad al-Asadi → Ibnu Juraij → Abu az-Zubair → Jabir bin Abdullah رضي الله عنه.

Teks hadits:

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِي الِاثْنَيْنِ، وَطَعَامُ الِاثْنَيْنِ يَكْفِي الْأَرْبَعَةَ، وَطَعَامُ الْأَرْبَعَةِ يَكْفِي الثَّمَانِيَةَ

Terjemahan: "Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keberkahan rezeki dan sikap tidak berlebihan:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

QS. Al-A'raf [7]: 31

Terjemahan: "Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Juga firman Allah:

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

QS. At-Taghabun [64]: 11

Terjemahan: "Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Ayat ini dipahami oleh sebagian ulama, termasuk Ibn Katsir dan As-Sa'di, sebagai isyarat bahwa hati orang beriman diberi ketenangan dan kecukupan, termasuk dalam urusan rezeki.

Penjelasan Rinci

Hadits Jabir bin Abdullah ini menjelaskan prinsip keberkahan dalam makanan. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, hadits ini menunjukkan bahwa sedikitnya makanan tidak menjadi penghalang untuk mencukupi banyak orang, karena keberkahan itu datang dari Allah, bukan semata dari jumlah. Beliau juga menyebutkan bahwa makna "cukup" di sini adalah cukup secara syar'i dan memuaskan, bukan sekadar cukup untuk bertahan hidup.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits serupa dari Abu Hurairah menjelaskan bahwa makanan yang sedikit bisa mengenyangkan banyak orang jika Allah menghendaki, dan ini pernah terjadi secara nyata pada zaman Nabi ﷺ, misalnya dalam peristiwa Perang Khandaq dan jamuan-jamuan Nabi ﷺ.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menuturkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan adab makan berjamaah, karena makan bersama itu membawa keberkahan. Beliau juga menegaskan bahwa salah satu sebab keberkahan makanan adalah menyebut nama Allah (bismillah), makan dengan tangan kanan, tidak mencela makanan, dan tidak berlebihan.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah mencukupkan rezeki hamba-Nya yang bertawakal dan tidak tamak. Sikap tamak dan rakus justru menghilangkan keberkahan.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menerangkan bahwa hadits ini mengandung dorongan untuk berbagi makanan dan tidak menghitung-hitung secara kikir. Beliau juga mengingatkan bahwa pola "satu cukup dua, dua cukup empat" bukan hukum matematika yang kaku, tetapi menunjukkan bahwa keberkahan bisa melipatgandakan makanan.

Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam fatwa-fatwanya menegaskan bahwa hadits ini termasuk dalil anjuran makan bersama dan menjauhi makan sendiri-sendiri tanpa alasan, karena makan bersama lebih membawa keberkahan dan mempererat ukhuwah.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar: sebagian memahami angka-angka dalam hadits sebagai bilangan hakiki yang pernah terjadi secara mukjizat pada zaman Nabi ﷺ, sebagian lain memahaminya sebagai kiasan untuk mendorong berbagi dan menjauhi kikir. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: angka tersebut menunjukkan keberkahan yang nyata, sekaligus menjadi dorongan adab berbagi dan tidak berlebihan.

Story Telling

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan kisah Jabir bin Abdullah رضي الله عنه pada Perang Khandaq. Saat itu kaum Muslimin sedang menggali parit dan sangat lapar. Jabir menyembelih seekor kambing kecil dan memasak sedikit makanan untuk Nabi ﷺ dan para sahabat. Ketika Nabi ﷺ datang, beliau mengucapkan bismillah, lalu memanggil para sahabat untuk makan bersama. Jumlah mereka saat itu sekitar seribu orang, namun makanan tersebut cukup untuk mereka semua, bahkan masih tersisa. Jabir sendiri menyaksikan bagaimana makanan yang sedikit itu mencukupi banyak orang dengan keberkahan dari Allah.

Kisah ini menunjukkan bahwa sabda Nabi ﷺ dalam hadits Jabir di atas bukanlah sekadar teori, tetapi pernah terjadi secara nyata. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan kisah ini sebagai salah satu bukti mukjizat Nabi ﷺ dalam hal keberkahan makanan.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan makan bersama keluarga, tetangga, atau teman, karena makan bersama membawa keberkahan.
  2. Jangan pelit dan jangan rakus; makanan yang sedikit bisa cukup jika disertai keberkahan.
  3. Sebut nama Allah sebelum makan dan makan dengan tangan kanan, karena ini termasuk sebab keberkahan.
  4. Jangan berlebihan dalam makan; berhentilah sebelum kenyang, sebagaimana anjuran Nabi ﷺ.
  5. Berbagi makanan kepada yang membutuhkan, karena ini termasuk amal yang mulia.
  6. Bertawakallah kepada Allah dalam urusan rezeki; Dia Maha Pemberi Rezeki dan Maha Mencukupi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?