Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan kelapangan dan kemudahan dalam syariat Islam. Ketika berangkat dari Mina ke Arafah pada hari Arafah, para sahabat berbeda cara berdzikir; sebagian bertakbir dan sebagian bertahlil. Rasulullah ﷺ tidak mencela salah satu dari mereka. Ini adalah dalil bahwa dalam dzikir yang disyariatkan, selama sesuai tuntunan, tidak boleh saling menyalahkan atau memaksakan pendapat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Manasik, Bab Berangkat dari Mina ke Arafah, no. 3008. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Berikut teks hadits dalam bahasa Arab:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ الْعَدَنِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: غَدَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي هَذَا الْيَوْمِ مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَةَ، فَمِنَّا مَنْ يُكَبِّرُ وَمِنَّا مَنْ يُهِلُّ، فَلَمْ يَعِبْ هَذَا عَلَى هَذَا وَلَا هَذَا عَلَى هَذَا.
Makna ringkas: "Kami berangkat pagi-pagi bersama Rasulullah ﷺ pada hari ini (Arafah) dari Mina menuju Arafah. Di antara kami ada yang bertakbir dan ada yang bertahlil. Masing-masing tidak mencela yang lain."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1285) dengan lafaz yang semakna.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:
1. Kebolehan berdzikir dengan takbir maupun tahlil di perjalanan menuju Arafah
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perbedaan dzikir para sahabat ini menunjukkan bahwa semua bentuk dzikir yang disyariatkan itu benar dan dibolehkan. Beliau berkata: "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa bertakbir dan bertahlil di hari Arafah hukumnya boleh, dan tidak ada satu pun yang lebih utama secara mutlak; karena Nabi ﷺ tidak mengingkari salah satu dari keduanya."
2. Larangan mencela sesama muslim dalam perkara yang dibolehkan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa sikap para sahabat yang tidak saling mencela ini adalah teladan dalam menjaga persatuan. Beliau berkata: "Apabila para sahabat berbeda dalam dzikir yang disyariatkan, mereka tidak saling mengingkari. Maka bagaimana mungkin kita saling mengingkari dalam perkara yang masih diperselisihkan oleh ulama dengan perselisihan yang longgar?"
3. Hikmah perbedaan dalam ibadah
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perbedaan cara berdzikir ini adalah rahmat dari Allah. Beliau berkata: "Perbedaan dalam dzikir di hari Arafah adalah kelapangan. Yang penting adalah lisan seorang muslim tidak kosong dari dzikir kepada Allah. Baik dengan takbir, tahlil, tahmid, atau membaca Al-Qur'an."
4. Adab berbeda pendapat
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa hadits ini mengajarkan adab yang mulia: tidak mencela saudara muslim yang berbeda cara dalam perkara yang sama-sama memiliki dalil. Beliau berkata: "Ini adalah akhlak para sahabat; mereka tidak saling mencela dalam perkara yang dibolehkan, karena mereka memahami bahwa perbedaan dalam furu' (cabang) tidak merusak ukhuwah."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika para sahabat berangkat dari Mina menuju Arafah bersama Rasulullah ﷺ, suasana pagi itu penuh dengan gema dzikir. Ada yang mengangkat suaranya dengan "Allahu Akbar, Allahu Akbar", ada pula yang menggema "La ilaha illallah". Suasana begitu hidup dan indah. Namun yang lebih indah adalah hati mereka; tidak ada rasa dengki, tidak ada saling menyalahkan. Mereka semua fokus pada satu tujuan: beribadah kepada Allah di hari yang mulia.
Ini mengajarkan kita bahwa perbedaan dalam hal-hal yang dibolehkan seharusnya tidak memecah belah. Yang memecah belah adalah sikap saling menyalahkan tanpa ilmu dan tanpa adab.
Kesimpulan Praktis
- Berdzikirlah dengan dzikir yang disyariatkan — baik takbir, tahlil, tahmid, atau membaca Al-Qur'an, terutama di hari Arafah dan hari-hari tasyriq.
- Jangan mencela saudara muslim yang berbeda cara dalam perkara yang sama-sama memiliki dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah.
- Jaga persatuan — perbedaan dalam furu' (cabang) tidak boleh menghancurkan ukhuwah Islamiyah.
- Teladani para sahabat — mereka berbeda tetapi tetap satu hati, karena tujuan mereka satu: mencari ridha Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.