Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 3004 tentang Rasulullah shalat di Mina sebelum berangkat ke Arafah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ ketika berhaji, beliau shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh di Mina pada Hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah). Setelah shalat Subuh, beliau berangkat menuju Arafah. Ini menunjukkan bahwa Mina adalah tempat singgah dan bermalam bagi jamaah haji sebelum wukuf di Arafah, dan ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ shalat Zhuhur dan Ashar di Mina pada hari Arafah (9 Dzulhijjah). Namun dalam riwayat Ibnu Majah ini, disebutkan bahwa beliau shalat lima waktu di Mina mulai dari Zhuhur Hari Tarwiyah hingga Subuh hari Arafah, kemudian berangkat ke Arafah.

Dalil Al-Qur'an tentang perintah mengikuti Nabi ﷺ dalam manasik:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh perbuatan dan tuntunan Nabi ﷺ dalam ibadah haji adalah petunjuk yang wajib kita ikuti, termasuk tata cara manasik beliau di Mina.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Atha' bin Abi Rabah (yang meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abbas), memahami bahwa bermalam di Mina pada Hari Tarwiyah adalah bagian dari sunnah haji. Imam Asy-Syafi'i dan para ulama lainnya juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bermalam di Mina pada malam Arafah (malam 9 Dzulhijjah) setelah shalat Subuh beliau berangkat ke Arafah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menjelaskan tentang salah satu rangkaian manasik haji Nabi ﷺ. Mari kita pahami bersama:

1. Makna Hari Tarwiyah

Hari Tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah. Dinamakan "Tarwiyah" karena pada hari itu para jamaah haji menyiapkan air (dalam bahasa Arab: yarwun) untuk perjalanan mereka ke Arafah. Pada hari ini, jamaah haji yang berihram untuk haji berangkat dari Makkah menuju Mina untuk bermalam di sana.

2. Perbuatan Nabi ﷺ di Mina

Dalam hadits ini, Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Nabi ﷺ shalat di Mina pada Hari Tarwiyah sebanyak lima waktu: Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh. Kemudian setelah shalat Subuh (pada pagi hari 9 Dzulhijjah), beliau berangkat menuju Arafah.

Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tiba di Mina pada siang Hari Tarwiyah, lalu beliau shalat Zhuhur di Mina, kemudian Ashar, Maghrib, Isya di sana, dan bermalam di Mina. Setelah shalat Subuh keesokan harinya, beliau berangkat ke Arafah.

3. Hikmah Bermalam di Mina

Para ulama menjelaskan bahwa bermalam di Mina pada Hari Tarwiyah memiliki beberapa hikmah:

  • Persiapan fisik dan mental: Jamaah haji beristirahat di Mina sebelum menghadapi puncak ibadah haji di Arafah.
  • Mengikuti sunnah Nabi ﷺ: Ini adalah tuntunan langsung dari Rasulullah ﷺ yang patut kita contoh.
  • Menghidupkan tempat bersejarah: Mina adalah tempat yang diberkahi, di mana terjadi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam.

4. Hukum Bermalam di Mina pada Hari Tarwiyah

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum bermalam di Mina pada malam Arafah:

  • Imam Asy-Syafi'i dan jumhur ulama berpendapat bahwa bermalam di Mina pada malam Arafah (malam 9 Dzulhijjah) adalah sunnah, bukan kewajiban. Jika seseorang tidak melakukannya, hajinya tetap sah namun ia meninggalkan keutamaan.
  • Sebagian ulama lain berpendapat bahwa hal ini wajib bagi yang mampu, berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ yang konsisten melakukannya.

Pendapat yang lebih kuat - wallahu a'lam - adalah bahwa hal ini sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), karena Nabi ﷺ melakukannya dan memerintahkan umatnya dengan sabda beliau: "Ambillah dariku manasik kalian" (HR. An-Nasa'i, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

5. Pelajaran dari Riwayat Atha' bin Abi Rabah

Atha' bin Abi Rabah adalah seorang tabi'in terkemuka, murid setia Ibnu Abbas. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat memahami manasik haji. Perhatian beliau terhadap detail ibadah haji Nabi ﷺ menunjukkan betapa pentingnya mempelajari dan mencontoh setiap gerak-gerik Rasulullah ﷺ dalam beribadah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Atha' bin Abi Rabah - rahimahullah - adalah seorang ulama yang sangat cinta dan perhatian terhadap ilmu manasik haji. Beliau sering mendampingi Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dan bertanya tentang detail-detail ibadah haji.

Suatu ketika, ada seorang jamaah haji yang bertanya kepada Atha' tentang tata cara haji. Atha' menjelaskan dengan sangat rinci, hingga orang itu takjub dan berkata: "Wahai Atha', engkau seakan-akan melihat langsung Nabi ﷺ berhaji!"

Atha' tersenyum dan menjawab: "Benar, kami mempelajari manasik haji dari Ibnu Abbas, dan Ibnu Abbas mempelajarinya langsung dari Nabi ﷺ. Maka kami tidak meninggalkan satu detail pun dari tuntunan beliau."

Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat perhatian terhadap detail ibadah, karena mereka memahami bahwa kesempurnaan ibadah terletak pada mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara menyeluruh.

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Haji adalah ibadah yang detail - Setiap gerakan dan tempat memiliki tuntunan khusus dari Nabi ﷺ. Maka pelajarilah manasik haji sebelum berangkat.
  2. Mengikuti sunnah dalam setiap detail - Sebagaimana Nabi ﷺ shalat lima waktu di Mina sebelum berangkat ke Arafah, kita pun dianjurkan melakukan hal yang sama ketika berhaji.
  3. Bermalam di Mina pada Hari Tarwiyah adalah sunnah yang sangat dianjurkan, karena dilakukan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.
  4. Bersungguh-sungguh dalam beribadah - Persiapan fisik dan spiritual sebelum menghadapi puncak ibadah di Arafah adalah bagian dari kesempurnaan haji.
  5. Menghidupkan sunnah - Dengan mempelajari dan mengamalkan sunnah-sunnah haji, kita turut menghidupkan ajaran Nabi ﷺ di tengah umat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?