Penjelasan Hadits Ibnu Majah No. 2893 tentang Haji dan jihad adalah delegasi Allah yang dikabulkan doanya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung bagi kaum muslimin yang berjuang di jalan Allah, baik melalui jihad fisik (perang), ibadah haji, maupun umrah. Mereka disebut sebagai "utusan/delegasi Allah" (Wafdullah), sebuah kedudukan yang sangat mulia. Hadits ini mengajarkan bahwa Allah ﷻ secara khusus mengundang mereka untuk datang ke rumah-Nya, dan sebagai balasan atas pemenuhan undangan tersebut, Allah menjamin akan mengabulkan permintaan mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Ibnu Majah:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَرِيفٍ، حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ ـ ﷺ ـ قَالَ " الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ " .

Terjemahan: Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Orang yang berperang di jalan Allah, dan jemaah haji yang melaksanakan Haji dan Umrah adalah delegasi Allah. Dia mengundang mereka, maka mereka menjawab-Nya, dan mereka meminta kepada-Nya dan Dia memberikan kepada mereka." (HR. Ibnu Majah, no. 2893)

Komentar Ulama tentang Sanad Hadits:

Para ulama ahli hadits dari kalangan Ahlus Sunnah telah meneliti sanad hadits ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Shahih Ibni Majah (no. 2343) menyatakan bahwa hadits ini shahih (sahih). Beliau menyebutkan bahwa meskipun dalam sanadnya terdapat 'Atha' bin As-Sa'ib yang dikenal memiliki perubahan hafalan di akhir usianya, namun riwayat dari perawi di atasnya (Imran bin Uyainah) dianggap baik, dan hadits ini memiliki jalur penguat lain. Oleh karena itu, hadits ini layak untuk diamalkan.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman tentang panggilan-Nya kepada manusia untuk berhaji:

QS. Al-Hajj [22]: 27

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ sendiri yang memerintahkan Nabi Ibrahim 'alaihissalam untuk menyeru manusia berhaji. Maka, orang yang datang memenuhi seruan ini adalah benar-benar "tamu" atau "utusan" yang diundang oleh Allah.

Penjelasan Rinci

1. Makna "Wafdullah" (وفد الله)

Kata wafd (وَفْد) dalam bahasa Arab berarti rombongan yang diutus atau delegasi yang datang menemui seorang raja atau pembesar untuk suatu keperluan. Mereka datang dengan penuh penghormatan dan membawa permintaan.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Zaad al-Ma'aad (1/27) menjelaskan tentang keutamaan ini. Beliau berkata bahwa orang yang berhaji dan berumrah adalah wafdullah (rombongan tamu Allah). Mereka datang ke Baitullah untuk memenuhi panggilan-Nya, dan Allah ﷻ sangat memuliakan tamu-tamu-Nya ini.

2. Tiga Golongan yang Termasuk Wafdullah

Hadits ini menyebutkan tiga golongan:

  • Al-Ghazi (الْغَازِي): Orang yang berperang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat-Nya.
  • Al-Hajj (الْحَاجُّ): Orang yang melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.
  • Al-Mu'tamir (الْمُعْتَمِرُ): Orang yang melaksanakan umrah.

3. Makna "Dia Mengundang Mereka, Maka Mereka Menjawab-Nya"

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam menjelaskan ayat-ayat haji menyebutkan bahwa datangnya jamaah haji adalah bentuk ijabah (jawaban) terhadap panggilan Allah. Mereka meninggalkan kampung halaman, harta, dan keluarga demi memenuhi perintah Allah. Ini adalah bukti kejujuran iman dan kecintaan mereka kepada Allah.

4. Makna "Mereka Meminta kepada-Nya dan Dia Memberikan kepada Mereka"

Ini adalah janji dari Allah ﷻ. Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarah Bulughul Maram menjelaskan bahwa doa adalah inti ibadah, dan Allah menjanjikan pengabulan bagi orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, terlebih lagi bagi orang yang sedang dalam keadaan ibadah yang agung seperti haji, umrah, dan jihad. Ini adalah kabar gembira bahwa doa-doa mereka tidak akan tertolak.

5. Perhatian Ulama terhadap Hadits Ini

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zaad al-Ma'aad menjadikan hadits ini sebagai dalil tentang keutamaan besar ibadah haji dan umrah. Beliau menyebutkan bahwa kedudukan sebagai "utusan Allah" adalah kehormatan yang tidak diberikan kepada semua orang, hanya kepada mereka yang benar-benar ikhlas dan memenuhi panggilan-Nya.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Orang yang berhaji karena Allah, lalu ia tidak berkata-kata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia pulang (dari hajinya) seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya." (HR. Al-Bukhari, no. 1521)

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa haji yang mabrur (diterima) adalah haji yang dijaga dari perkataan kotor dan perbuatan dosa. Ini sejalan dengan hadits di atas bahwa mereka adalah "utusan Allah" yang harus menjaga adab sebagai tamu Allah. Seorang tamu yang mulia tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menodai kemuliaan tuan rumahnya. Maka, seorang jamaah haji dan umrah harus menjaga lisan, perilaku, dan hatinya dari segala hal yang dapat mengurangi pahala dan kemuliaan kedudukannya di sisi Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakini kedudukan mulia ini: Setiap muslim yang berhaji, berumrah, atau berjihad di jalan Allah dengan ikhlas adalah "utusan Allah" yang diundang secara khusus oleh-Nya.
  2. Perbanyak doa: Karena Allah telah menjanjikan untuk memberikan apa yang mereka minta, maka perbanyaklah doa selama dalam perjalanan haji, umrah, dan saat berjihad.
  3. Jaga adab sebagai tamu Allah: Hindari perkataan kotor, perbuatan fasik, dan pertengkaran selama beribadah, karena itu adalah syarat untuk mendapatkan kemuliaan ini.
  4. Niatkan ibadah karena Allah semata: Bukan karena riya, pamer, atau tujuan duniawi lainnya, agar benar-benar menjadi utusan yang dimuliakan.
  5. Amalkan dalam kehidupan sehari-hari: Semangat untuk menjadi "utusan Allah" juga bisa diterapkan dengan menjadi pribadi yang selalu menjawab panggilan Allah dalam setiap perintah-Nya, baik itu shalat, zakat, puasa, dan lainnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?