Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang menunaikan haji dan umrah: mereka disebut sebagai "tamu Allah" (wafdullah). Allah menjanjikan dua hal bagi mereka: doa mereka dikabulkan dan dosa mereka diampuni. Ini menunjukkan betapa mulianya ibadah haji dan umrah di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Manasik, Bab Keutamaan Doa Haji, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ، حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَالِحٍ، - مَوْلَى بَنِي عَامِرٍ - حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ "الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللَّهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ"
Terjemahan: "Para peziarah Haji dan Umrah adalah utusan Allah. Jika mereka berdoa kepada-Nya, Dia akan mengabulkan mereka; dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, Dia akan mengampuni mereka."
Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain, namun pembahasan kita fokus pada riwayat Ibnu Majah ini.
Penjelasan Rinci
Makna "Wafdullah" (Tamu Allah):
Para ulama menjelaskan bahwa istilah "wafd" (tamu/utusan) di sini adalah bentuk pemuliaan (ikram) dari Allah kepada para jamaah haji dan umrah. Mereka datang dengan niat ibadah, meninggalkan keluarga dan harta, semata-mata mengharap ridha Allah. Allah menyebut mereka sebagai tamu-Nya, dan tamu pasti dimuliakan.
Janji Allah:
- Doa dikabulkan: Allah menjanjikan untuk mengabulkan doa para jamaah haji dan umrah. Ini bukan berarti semua doa pasti terkabul persis seperti yang diminta, tetapi Allah menjawab dengan cara terbaik menurut hikmah-Nya—bisa dikabulkan langsung, ditunda, atau diganti dengan yang lebih baik.
- Ampunan dosa: Allah menjanjikan ampunan bagi mereka yang memohon ampun. Ini menunjukkan bahwa haji dan umrah menjadi sarana penghapus dosa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain: "Barangsiapa berhaji tanpa melakukan rafats, fusuq, dan jidal, maka ia kembali seperti bayi yang baru dilahirkan." (HR. Bukhari)
Pemahaman Ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan haji dan umrah, dan bahwa doa serta istighfar orang yang berhaji memiliki kedudukan khusus di sisi Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para jamaah haji adalah tamu Allah yang dimuliakan, dan doa mereka mustajab selama mereka dalam keadaan ihram dan menjauhi maksiat.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menegaskan bahwa haji adalah perjalanan ruhani yang mengumpulkan antara doa, istighfar, dan taqarrub kepada Allah.
Catatan Penting:
Keutamaan ini berlaku bagi mereka yang menunaikan haji dan umrah dengan ikhlas, mengikuti sunnah Nabi ﷺ, dan menjauhi larangan-larangan selama ihram. Jika seseorang berhaji tetapi tetap melakukan maksiat, maka janji ini bisa jadi tidak berlaku sempurna, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in yang masyhur) pernah ditanya tentang orang yang berhaji tetapi tidak mendapatkan ampunan. Beliau menjawab: "Itu karena mereka berhaji bukan untuk Allah, atau mereka tidak menjaga adab-adab haji." Kisah ini mengingatkan kita bahwa keutamaan besar ini harus disertai dengan keikhlasan dan ittiba' (mengikuti sunnah).
Dalam riwayat lain, Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Orang yang berhaji adalah tamu Allah. Jika ia meminta, Allah memberi; jika ia berdoa, Allah mengabulkan; jika ia beristighfar, Allah mengampuni." (Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dengan sanad yang hasan).
Kesimpulan Praktis
- Bersemangatlah menunaikan haji dan umrah jika mampu, karena keduanya adalah ibadah yang sangat mulia dan menjadi sebab ampunan dosa.
- Perbanyak doa dan istighfar selama menunaikan haji dan umrah, karena Allah menjanjikan pengabulan dan ampunan bagi para tamu-Nya.
- Jaga keikhlasan dan adab selama beribadah, jauhi maksiat dan larangan ihram, agar janji Allah ini benar-benar kita raih.
- Bagi yang belum mampu berhaji, perbanyak doa agar Allah memberi kemampuan, dan lakukan amal saleh lain yang dapat menghapus dosa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.